Pencuri Cantik Milik CEO Arogan

Pencuri Cantik Milik CEO Arogan
Bab 57 : Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Steven berlari dan bersiap menembak Leo. Tapi sayangnya pria itu menyadari nya, dia menghindar dan bersembunyi.


Steven terus menembaki tempat persembunyian Leo sampai pelurunya habis. Dia melempar pistol nya dan menantang Leo.


"Keluar kau bajingan!! Jangan jadi pengecut." teriak Steven


Leo mengumpat. Dia tidak menyangka jika secepat ini harus berhadapan dengan Steven.


"Bukankah kau menginginkan Chip itu, sialan?" ucap Steven lagi


Leo mengepalkan tangannya dan keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menatap tajam mantan sahabatnya dengan penuh kebencian.


"Siapa yang kau panggil pengecut, hah?" teriak Leo


"Tentu saja kau. Melakukan kecurangan demi mendapatkan keuntungan, menusuk sahabat sendiri hanya karena iri dan bersembunyi saat berhadapan dengan lawan mu. Bukan kah itu membuktikan jika kau seorang pengecut?"


Leo mengepalkan tangannya dan berlari menyerang Steven. "Aku bukan pengecut, sialan!!!"


Terjadi pertarungan sengit antara keduanya. Leo terus menyerang Steven dengan sangat brutal. Dia tidak terima di hina begitu saja oleh mantan sahabatnya itu. Lagipula dia harus mendapatkan chip yang sekarang berada di tangan Steven.


Dia sudah tidak perduli lagi dengan Jennifer, yang ada di pikiran nya hanyalah hartanya.


Sementara di luar, Aksi adu tembak di menangkan oleh anak buah Steven. Semua anak buah Leo tewas tak tersisa. Mereka mengumpulkan mayat-mayat musuh dan juga rekan mereka yang tewas di dalam ruangan yang berada di gedung itu.


Dan salah satu dari mereka, menarik Jennifer dan membawanya masuk untuk bertemu dengan Leo yang saat ini berhadapan dengan Tuan mereka.


Bugh


Bugh


Bugh


"Akh...!!!" Leo tersungkur untuk kesekian kalinya. Darah segar keluar dari mulut dan juga hidungnya. Sekujur tubuhnya terdapat luka lebam hasil pukulan yang di layangkan Steven saat menghajar Leo.


"Bangun!!! Lawan aku, Leo!!!" teriak Steven


Leo meringis memegang dadanya yang nyeri akibat tendangan dan pukulan dari Steven. Dia berusaha untuk bangun tapi kedua kakinya bergetar seolah tidak mampu menopang tubuhnya.


"L_Leo!!" seru Jennifer. Dia di tarik Anak buah Steven dan di dorong hingga tersungkur di depan Steven.


"Leo!!!"


"Jenny!!"


"Wah wah wah, kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang terpisah lama dan bertemu kembali." Steven jongkok di depan Jennifer dan kembali berkata, "Lihatlah pria yang kau banggakan, Jenny. Dia tidak berdaya. Aku tidak habis pikir, kenapa kau mengkhianati ku demi pria seperti Leo? Dilihat dari segi manapun, aku lebih unggul dari bajingan itu."


"Setidaknya dia perkasa di atas ranjang, daripada dirimu yang bahkan tidak bisa memuaskan ku." teriak Jennifer

__ADS_1


Bukannya marah, Steven justru tertawa keras. Dia mencengkram dagu Jennifer dan berkata, "Bukan aku yang tidak bisa memuaskan mu, Jenny. Tapi karena kau memang jalan9 yang haus akan belaian. Aku yakin jika bukan hanya Leo saja yang menjamah mu. Pasti kau rela melebarkan kedua kakimu hanya demi uang. Aku benar bukan?"


Jennifer terdiam menatap Steven penuh kebencian. Memohon Pun percuma, karena dia yakin nyawanya tidak akan selamat.


"Murahan." Steven melepas cengkeramannya kasar dan membuat Jennifer tersungkur.


Leo yang melihat hal itu hanya bisa mengepalkan tangannya. Tapi sedetik kemudian, dia tertawa keras, membuat Steven dan yang lain merasa bingung.


"Apa kau tahu, Steve? Aku memang pecundang. Dan seorang pecundang tidak akan mau kalah begitu saja." seru Leo


"Apa maksudmu?" tanya Steven


"Apa kau tidak menyadari, dimana pelayan mu itu, hm? Aku yakin sekarang dia kebingungan karena tidak bisa menyelamatkan orangtuanya. Dan jika aku mati, aku tidak akan mati sendiri. Aku akan mengajak kalian semua ikut bersama ku. Ha ha ha..."


"Aku sangat menyesal karena belum sempat menikmati tubuh pelayan itu. Membayangkan nya saja sudah membuat hasrat ku memuncak. Tubuhnya, bibirnya dan...." Leo menggantung ucapan nya. Dia menatap Steven yang terlihat marah dan melanjutkan ucapannya, " dadanya sangat kenyal saat masuk kedalam mulut ku."


"Bajingan !!!" Steven meraih pistol milik anak buahnya dan menembak Leo brutal.


"TIDAAAKK!!!" Jennifer histeris melihat kekasihnya mati mengenaskan. Dia merangkak mendekati Leo yang sudah tidak bernyawa. "Leo hiks.. Hiks... Bangun Leo!!!" Jennifer menangis, dia menatap tajam Steven yang sudah membunuh kekasihnya.


"Aku akan membunuhmu, sialan!!!"


...****************...


James melepas ikatan Robert dan juga Jully. Setelahnya, dia menekan sepatu Jully dan meminta wanita itu untuk melepas sepatunya.


"Ayo mom!! Kau pasti bisa." seru Kate


Perlahan tapi pasti, Jully menarik pelan kakinya, dan berhasil. Semua merasa lega. Sekarang tinggal mencari cara untuk menimpa sepatu tersebut untuk tetep menekan ranjau pantul tersebut. Tapi sayangnya tidak ada benda berat yang bisa di jadikan alat untuk menimpa sepatu itu.


"Sekarang bagaimana?" Kate menggigit kuku jarinya. Seharusnya dia mencari alat pemberat terlebih dahulu sebelum bertindak. Sedangkan di ruangan itu tidak ada satupun benda yang berat untuk menimpa sepatu Jully. Tidak mungkin dia membiarkan James terus seperti itu, kan?


"Biar aku gantikan." Robert menekan sepatu tersebut menggunakan kedua tangannya dan meminta Jully dan yang lain untuk pergi.


"A_apa maksudmu, Robert? Kita akan pergi dari sini bersama-sama." seru Jully.


"Tidak sayang. Jika salah satu dari kita tidak melakukan ini, kita tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku pada kalian. Selama ini aku sudah sangat membuat kalian menderita. Jadi ijinkan aku menebus kesalahanku."


Jully tidak kuasa menahan tangisnya. Dia memeluk Robert dengan derai air mata. Walaupun dia membenci Robert karena telah membuat Putri nya menjadi seorang kriminal, tapi tetap saja di dasar lubuk hatinya, dia mencintai pria berkepala plontos itu.


"Kau mau memaafkan ku, kan?"


Jully mengangguk cepat. Robert mendekatkan wajahnya dan mencium kedua mata Jully. "Setelah ini jangan pernah menangis lagi. Dan satu hal yang harus kau tahu. Aku sangat mencintaimu, Jully."


Jully semakin histeris. Dia berdiri dan memeluk Kate karena tidak kuasa melihat keadaan suaminya.


"Bawa ibumu pergi Kate. Kalian harus selamat. Jangan sampai pengorbanan ku ini sia-sia." seru Robert

__ADS_1


"Ba_baik Uncle. Ma_maafkan aku. Dan terimakasih, Daddy." Kate menarik Jully untuk keluar dari ruangan tersebut dengan James yang mengekor di belakangnya.


Robert menangis menatap kepergian Jully dan Kate. Dia menyesali perbuatannya selama ini. Karena dia, kedua wanita itu harus menderita. Bahkan dia tidak pantas di panggil Daddy oleh Kate.


Jully masih menangis di pelukan Kate. Mereka sampai di lantai dasar tepat setelah Steven menembak mati Leo.


"Steve!!" panggil Kate


Steven menoleh dan memeluk Kate. "Aku sangat mengkhawatirkan mu, sayang. Kau tidak apa-apa kan?" tanya Steven yang di jawab anggukan oleh Kate. Kate menatap Jennifer yang menangisi Leo yang sudah tidak bernyawa.


"Kita harus segera pergi dari sini sebelum bom nya meledak." seru Kate.


"Baiklah, Ayo kita keluar!!" Steven membantu memapah Jully keluar. Begitu juga dengan James dan yang lain, mereka juga berbondong-bondong keluar dari gedung tersebut.


Mereka kembali ke mobil yang terparkir tidak jauh dari gedung tersebut. "Kita pergi sekarang!!" titah Steven


"Baik tuan." James menginjak pedal gas meninggalkan lokasi tempat yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir untuk Leo dan yang lainnya.


Dan tidak berapa lama, terdengar ledakan dahsyat yang merobohkan gedung tersebut.


DUAARR


DUAARR


DUAARR


"ROBERT !!!!!!" teriak Jully.


...****************...


SATU BULAN KEMUDIAN


Salah satu Hotel mewah di New York, kini menjadi incaran awak media. Mereka berjejer rapi di dalam gedung dan siap mengambil gambar dan mengabadikan momen sakral yang akan di adakan sebentar lagi.


Ya, hari ini adalah hari pernikahan Steven dan juga Kate.


Mereka menggelar pernikahan secara mewah di hotel berbintang. Sebenarnya Kate belum siap karena keadaan ibunya belum pulih benar karena kejadian penculikan sebulan yang lalu. Apalagi ibunya harus kehilangan orang yang dia cintai dan hal itu membuatnya trauma.


Tapi karena malaikat kecil sudah tumbuh di rahim Kate, maka dia tidak bisa menundanya lagi. Jully juga menyarankan untuk mereka agar segera menikah.


Acara di mulai. Mereka mengucapkan janji suci dengan begitu khidmat. Para juru kamera segera mengambil foto mereka. Apalagi saat momen mereka berciuman.


"I Love you, my wife." seru Steven


"I Love you too my husband." balas Kate. Mereka kembali menyatukan bibir mereka.


Rintangan yang mereka lalui berakhir dengan kebahagiaan, bahkan malaikat kecil menjadi pelengkap kebahagiaan kedua insan tersebut. Sungguh, Cinta itu tidak memberi dan menerima. Cukup memberi saja. Karena jika kita ikhlas memberikan cinta kita, kita akan mendapatkan balasan terindah dalam hidup kita. Yaitu kebahagiaan.

__ADS_1


...~𝙴𝙽𝙳~...


__ADS_2