Pencuri Cantik Milik CEO Arogan

Pencuri Cantik Milik CEO Arogan
Bab 22 : Satu Pertanyaan Satu Permintaan


__ADS_3

Steven memejamkan matanya menikmati pijatan lembut Kate di benda keramatnya. Walaupun miliknya belum bisa berdiri tapi dia bisa merasakan getaran aneh di tubuhnya. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan dia rasakan jika sampai miliknya berdiri di saat mendapatkan pijitan seperti itu. Mungkin dia akan merasakan sesuatu yang lebih dari ini.


Sial, dia jadi ingin mencobanya. Dulu saat dia masih menjalin hubungan dengan Jennifer, Dia tidak pernah melakukan nya kecuali berciuman. Dia akan melakukannya saat mereka sudah menikah nanti. Tapi belum sempat hal itu terjadi, Jennifer memilih pergi menggapai mimpinya.


Mimpi?? Cih.. Dia tidak yakin Jennifer benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan.


Seandainya Jennifer tidak meninggalkan nya, Dia bisa dengan mudah membantu Jennifer untuk menggapai cita-cita nya sebagai model. Bahkan tanpa semua itu, Jennifer akan menjadi nyonya Archilles yang kaya dan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan. Tapi kenapa Jennifer menolaknya?


Steven membuka matanya. Benar, Kenapa Jennifer menolaknya? Dia tampan dan juga kaya. Apa yang membuat wanita itu menolaknya?


Sekilas, Steven menatap Kate yang menekuk wajahnya dengan bibir yang terus berkomat-kamit tidak jelas. Pasti wanita itu tengah mengumpatnya. Pikir Steven.


''Jika kau tidak menendangnya, Kau tidak perlu melakukan hal ini." seru Steven yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Kate.


"Harusnya kau berkata, jika aku tidak melakukan hal mesum padamu, Mungkin aku tidak mengalami kesialan seperti ini. Itu baru benar."


"Cih... Siapa yang ingin melakukan hal mesum padamu? Kau sama sekali bukan tipe ku."


Kate mendengus. Dia memalingkan wajahnya dengan tangan yang masih stay memberikan pijatan pada benda lunak yang tertidur itu.


"Jika aku bukan tipemu, kenapa kau menciumku? Apa kau biasa melakukan nya pada orang lain selain kekasihmu? Oh.. Pantas saja. Mungkin karena hal itu kau di tinggalkan oleh nya." ledek Kate.


"Kau...


Steven mendengus kesal. Sepertinya tidak ada gunanya berdebat dengan wanita ini. Dia selalu saja mempunyai jawaban yang membuat darahnya tinggi. Tapi anehnya, kenapa dia tidak bisa marah?


"Asal kau tahu, dia pergi karena ingin mengejar cita-cita nya menjadi model terkenal. Untuk itu dia memutuskan hubungan dengan ku."


"Oh .. Kasihan sekali. Haruskah aku berkata seperti itu?" ledek Kate lagi.


Steven berdecak. Dia pikir, Kate akan mengatakan jika apa yang dilakukan Jennifer itu salah dan akan membelanya. Tapi ternyata....


Semua sungguh di luar dugaan. Mungkin jika yang di ajak bicara Steven adalah wanita lain, Dia akan bersimpati padanya dan berkata jika Jennifer sudah salah meninggalkan pria hebat sepertinya. Tapi sialnya yang dia ajak bicara adalah Kate Berley.


Kate memalingkan wajahnya dengan tangan yang masih memijat benda lunak yang tumpul itu. Sampai kapan dia harus melakukan hal itu? Rasanya tangannya sudah kesemutan. Hah.. Benar, harusnya dia tidak menendang nya waktu itu. Jadi dia tidak perlu melakukan hal menjijikkan ini. Tapi jika dia tidak melakukannya, bisa-bisa pria gila yang saat ini berbaring menatapnya, akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.


Hah.. Dia merasa dilema. Kapan benda ini akan berdiri?


"Apa kau menyesal sudah membuatnya tertidur?" tanya Steven.

__ADS_1


Kate melirik sinis Steven dan melanjutkan pijatannya. "Menyesal? Ya, kau benar. Aku sangat-sangat menyesal. Harusnya aku membuatnya tidur untuk selama-lamanya jadi aku tidak perlu repot membangunkan nya."


Steven melototkan matanya. "Apa kau bilang? Apa kau tahu, dia adalah benda yang bisa menumbuhkan generasi penerus keluarga Archilles? Jika dia tidak bisa bangun, siapa yang akan meneruskan tahta keluarga Archilles?"


Kate berdecih pelan. Dia tidak mau memikirkan hal itu karena itu bukan urusannya.


Steven duduk dan menyandarkan punggungnya di headboard. Dia menatap lekat Kate yang masih memijat miliknya tanpa mau melihatnya.


"Ck... Sampai kapan aku harus melakukan ini?" gerutu Kate


"Sampai dia terbangun."


"Tapi aku rasa, dia tidak akan terbangun lagi."


"Hei.. Jangan bicara seperti itu!!" teriak Steven. Bisa gawat jika benar dia tidak bisa terbangun lagi. Tapi tiba-tiba terbersit ide gila di otak Steven. "Jika kau ingin dia cepat bangun, mungkin kau bisa menggunakan mulutmu untuk ....


Kate menatap tajam Steven. Dia memijat keras benda milik Steven hingga membuat si empunya berteriak kesakitan.


"Apa yang kau lakukan bodoh??" teriak Steven


"Rasakan!!!" sungut Kate


"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kate yang merasa risih di tatap oleh Steven.


"Kenapa kau bisa menjadi pencuri?"


Kare berdecak pelan. Lagi-lagi pertanyaan itu. "Bukan urusan mu."


"Aku hanya penasaran saja. Pencuri kelas kakap seperti mu menjadi buronan polisi New York. Si pencuri legendaris, Beautiful Diamond Thief." seru Steven.


Deg


Kate menghentikan pijatan nya. Dia menatap intens kedua mata Steven. Darimana pria ini tahu siapa dia? Apa dia mencari tahu informasi tentangnya? Tapi selama ini dia selalu menyamar. Jadi tidak mungkin Steven dengan mudah mengetahui siapa dia , bukan?


"Mudah bagiku untuk tahu semuanya." Steven menaikkan celananya. Dia rasa sudah cukup untuk terapi hari ini. Lagipula dia sudah merasakan sesuatu yang lain di milikinya. Tapi dia tidak akan bilang pada siapapun. Terutama Kate.


''Jadi, apa mau mu? Apa kau akan melaporkanku ke polisi?"


Steven tertawa keras. Untuk apa dia melaporkan Kate ke polisi jika dia sendiri bisa mengadilinya. Bahkan polisi New York hormat padanya. Jadi dia akan menyelesaikan sendiri.

__ADS_1


"Kau merencanakan sesuatu?" tanya Kate curiga. Dia tahu jika pria itu kebal terhadap hukum. Bahkan polisi segan padanya. Gawat.. Dia merasa was-was sekarang.


"Jawab pertanyaan ku, maka aku akan mengabulkan 1 permintaan mu. Kecuali pergi dari ku."


Kate berdecak. Hal yang paling dia inginkan adalah pergi jauh dari Steven tapi justru hal itu adalah pengecualian. Tapi itu bukan hal buruk. Satu pertanyaan, satu permintaan. Dan dia akan memanfaatkan hal itu untuk bisa lepas dari cengkeraman pria gila ini.


"Satu pertanyaan, Satu permintaan. Deal??"


Steven berdecak. Apalagi sekarang yang direncanakan wanita ini? Tapi rasa penasarannya lebih mendominasi. Jadi dia kan menyetujuinya lebih dulu. "Deal."


"Good. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Berlian apa saja yang sudah kau curi?"


"Aku tidak ingat. Sudah banyak berlian yang aku curi. Yang paling terkenal adalah berlian milikmu. Dulu aku pernah hampir berhasil mendapatkannya. Tapi penjaga memergoki ku dan melepas tembakan. Aku hampir mati saat itu. Tapi untungnya Dewi Fortuna memihak ku. Jadi... Aku masih hidup sampai saat ini."


"Tapi kau hampir mati di tangan ku." celetuk Steven.


Kate berdecak. Memang benar dia hampir kehilangan nyawanya. Tapi kenapa Steven tidak melakukannya?


"Lalu, kemana hasil pencurianmu selama ini? Jika sudah banyak berlian yang kau curi, seharusnya kau kaya sekarang."


"Satu pertanyaan, satu permintaan. Kau bertanya seperti itu apa kau siap menerima permintaan ku?"


"Memangnya apa yang kau inginkan? Hartaku? berlian ku? Cih.. kau tidak akan mendapatkannya."


"Aku tidak tertarik dengan hartamu. Aku hanya ingin kau melepaskan ibuku." seru Kate. Saat ini keselamatan ibunya lebih penting dari apapun. Jadi dia ingin Steven melepaskannya. Baru nanti dia akan memikirkan permintaan apa yang dia inginkan.


"Aku tidak pernah menangkap ibumu. Lalu kenapa aku harus melepaskannya?"


Kate terdiam. Memang benar Steven tidak menangkap ibunya. Tapi ancaman Steven yang selalu membawa-bawa Ibunya membuatnya was-was. Atau jangan-jangan selama ini Steven berbohong? Dia mengatakan hal itu untuk menakut-nakuti nya saja.


"Aku hanya mengawasi Ibumu untuk berjaga-jaga jika sampai kau memberontak dan kabur. Aku tidak tertarik membunuh wanita berpenyakitan itu."


Kate mendengus kesal. Oke.. Sepertinya dia terlalu berlebihan. Mungkin lebih baik dia meminta uang untuk berobat Ibunya. Tapi jika si Bolam lampu tahu, pasti dia akan merebut uang itu untuk kesenangannya sendiri.


"Cepat katakan!! Apa yang kau inginkan?" tanya Steven.


Kate terdiam memikirkan apa yang dia inginkan. Lalu terbesit sebuah ide di kepalanya. Kate menyeringai dan membuat Steven jadi was-was.

__ADS_1


__ADS_2