
"Oh My God !!!" pekik Kate. Saat ini dia sedang berada di kamarnya merutuki kebodohannya karena kejadian tadi saat berada di perusahaan Steven.
Dia sangat malu dengan apa yang dia lakukan. Dia juga sempat mengira jika Steven akan memarahinya bahkan menghukumnya. Tapi apa yang terjadi? Steven justru menariknya kembali dan mencium bibirnya. Pasti banyak mata yang melihat adegan itu. Di tambah lagi suara seksi Steven saat mengajaknya melanjutkan kegiatan mereka di ruang kerja, membuat nya.... Uh... tidak bisa berkata-kata.
Ini pertama kalinya Kate berani melakukan hal itu pada seorang pria. Biasanya dia hanya akan mencium kedua pipi ibunya, dan sekarang?
Kate memegang dadanya yang berdetak kencang. Ada apa dengannya? Kenapa jantungnya berdetak kencang? Dan perasaan apa yang saat ini dia rasakan? Sungguh dia tidak tahu.
"Ada apa dengan ku? Kenapa jantungku berdetak kencang? Dan rasanya ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutku. Apa aku mempunyai penyakit aneh?" gumam Kate bermonolog. Masih teringat jelas di kepalanya saat Steven menggendongnya ala bridal dan membawanya ke ruang Presdir. Kate sempat memberontak, tapi suara tembakan dari arah Pantry membuat Kate diam dan tidak berani bergerak. Steven memanfaatkan keadaan itu untuk mengancam Kate. Dan apa yang terjadi di dalam ruang Presdir? Lagi-lagi Steven menikmati bibir nya dengan begitu lembut. Sungguh dia ingin menolak, tapi entah kenapa tubuhnya berkata lain. Bahkan Kate menikmati setiap permainan lidah Steven.
Kate memegang bibirnya. Begini kah rasanya berciuman? Tapi mereka tidak saling mencintai. Jadi, apa Steven juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini?
"Aish... Ada apa denganmu, Kate? Itu hanya ciuman. Pria gila itu pasti sudah biasa melakukannya dengan wanita-wanita di luar sana. Jadi kau jangan terlalu berlebihan." serunya pada diri sendiri. Dia tidak boleh terbawa perasaan. Jangan sampai hal yang terjadi pada ibunya, terjadi juga padanya.
Saat masih bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintunya.
Tok Tok Tok
"Siapa?" teriak Kate
"Ini saya Nona." terdengar suara maid dari balik pintu. Kate beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu kamar nya.
"Ada apa?" tanya Kate
"Tuan meminta anda untuk ke kamarnya, Nona."
"Ke kamarnya? Untuk apa?"
__ADS_1
"Saya kurang tahu, nona. Tapi tadi tuan berpesan agar nona segera menemuinya untuk melakukan tugas nona."
Kate terdiam sejenak. Dia berfikir tugas apa yang belum dia lakukan. Rasanya dia sudah mengerjakan semua pekerjaan nya.
"Astaga..!!!" pekik Kate. Dia tahu tugas apa yang di maksud Steven. Sial..!! Kenapa dia bisa lupa?
Kate mengucapkan terimakasih pada Maid yang sudah memberitahunya. Dia masuk kembali kedalam kamar dan mengganti bajunya. Dia biasa menggunakan baju yang minim saat tidur, tapi karena dia masih harus mengerjakan tugas dari Steven, mau tidak mau dia kembali memakai seragamnya.
Hah.. sangat menyebalkan. Kenapa dia bisa lupa jika dia masih mempunyai tugas membangunkan benda kenyal menjijikkan itu. Tapi dia juga penasaran, jika sudah terbangun nanti seperti apa bentuknya?
Kate sudah siap dengan seragamnya. Walau awalnya dia enggan memakainya, tapi kini dia sudah terbiasa. Dia harus segera menyelesaikan tugasnya karena dia sudah sangat mengantuk. Tapi mengingat apa yang telah dia lakukan, apa dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini?
Aish... Rasanya dia ingin menyembunyikan wajahnya di lemari saja. Dia sangat malu, apalagi jika bertatap muka langsung dengan Steven.
Kate memejamkan matanya sejenak. "Inhale!!! exhale!!! Kau harus tenang Kate dan anggap semua itu tidak pernah terjadi." Kate mengetuk pintu kamar Steven sebelum membukanya.
Disana, Steven sudah menunggu dengan posisi duduk bersandar di headboard. Tidak ada yang berbeda dengan raut wajah Steven. Sepertinya memang benar, kejadian tadi di perusahaan tidak berarti apa-apa untuk nya.
Kate duduk di tepi tempat tidur. Dan tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kate langsung menurunkan celana Steven dengan membuang muka. Dia melakukan terapi seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Tapi kali ini dia merasa ada yang berbeda. Entah kenapa benda itu terasa begitu keras dan besar. Apa karena dia terlalu kuat memijatnya?
Sedangkan Steven, jangan di tanya. Dia sekuat tenaga menahan sesuatu di dalam dirinya. Dia tidak tahu kenapa Kate tiba-tiba melakukan hal itu padanya. Dia memanggil Kate karena ingin menanyakan tentang maksud Kate mengaku sebagai kekasihnya, tapi yang Steven dapat justru membuatnya tegang.
Kate tiba-tiba duduk dan menurunkan celananya. Bahkan wanita itu memberikan pijatan pada benda keramat nya.
"Sial!! Ini sangat nikmat." batin Steven
Kate masih terus memijat benda keramat milik Steven. Bahkan dia sempat bingung karena merasa benda itu semakin lama semakin membesar dan keras. Apa jangan-jangan ini akibat dari tendangan nya waktu itu? pikir Kate.
__ADS_1
Steven tidak bisa menahannya lagi. Dia menarik Kate hingga tidur terlentang dan mengukungnya.
"A_apa yang kau lakukan??" pekik Kate
"Justru aku yang bertanya pada mu, apa yang kau lakukan, hm?" Steven menahan sesuatu yang di bawah sana. Rasanya sangat tidak nyaman. Tapi dia tidak mungkin melakukan hal itu pada wanita yang saat ini ada di bawahnya.
"A_aku hanya melakukan terapi pada benda itu. Kau menyuruhku kemari untuk melakukan itu kan?" Kate bingung, apa dia telah melakukan kesalahan? tapi melihat Steven yang seperti menahan sesuatu, sepertinya dia memang melakukan hal yang salah.
"Lupakan!!" Steven bangun dari tubuh Kate dan membenarkan celananya. Rasanya sangat sakit. Tapi tidak mungkin dia melakukan senam lima jari. Itu terlihat sangat memalukan.
"Kalau begitu, Aku pergi dulu." seru Kate yang langsung beranjak dari tempat tidur. Tapi langkahnya terhenti karena Steven mencekal tangan Kate.
"Ada apa lagi?" tanya Kate. Dia ingin segera tidur karena sudah sangat mengantuk.
"Tentang tadi siang di perusahaan. Apa maksudmu berkata jika aku adalah kekasih mu?"
Glek
Ok, sekarang saatnya menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di perusahaan. Jika perlu dia akan berlutut agar di maafkan karena dia memang sudah melakukan kesalahan yang fatal.
"Cepat katakan!!! Aku tidak punya banyak waktu."
"Apa umurmu tidak lama lagi?" tanya Kate.
Steven mendelik. Apa wanita ini mendoakannya cepat mati?
"Jangan marah!! Aku hanya bertanya. Kau sendiri yang bilang jika kau tidak punya banyak waktu. Jadi ya.....
__ADS_1
"Pergi!!! Membuat mood ku hancur saja." gerutu Steven
Kate mengangkat kedua bahunya acuh. Di suruh pergi ya pergi. Dia juga tidak mau berada di ruangan yang sama dengan Steven. Melihat pria itu bersikap biasa saja sudah membuat nya kesal. Tapi setidaknya dia lolos dari pertanyaan Steven saat ini. "Huft... Aku tidak akan melakukannya lagi." batin Kate