
Dan benar saja, kali ini Kate tidak bisa lagi tertawa ataupun menertawakan Steven. Dia terjebak karena perbuatannya sendiri.
Malam ini, dia harus tidur satu ruangan dengan Steven karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dia harus membuat benda keramat Steven kembali seperti sedia kala. Dan sebelum benda itu menunjukkan reaksinya, Kate akan terus berada di ruangan yang sama dengan Steven.
Lalu apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia bisa membuat benda keramat itu kembali bereaksi?
Untuk hal itu, Dokter Jordan sudah memberikan arahan untuk Kate. Bahkan wanita itu sempat menolak keras. Tapi lagi-lagi Steven menggunakan Ibunya untuk mengancam Kate. Sangat sial. Dia terjebak dalam perbuatannya sendiri. Mungkin lain kali dia harus membuatnya langsung patah dan tidak bisa berdiri selama-lamanya. Jadi dia tidak perlu merangsang benda keramat itu.
"Kenapa kau masih berdiri disana? Ingat tugasmu!!! Jika kau tidak menendangnya , kau tidak perlu melakukan hal itu sekarang." seru Steven.
Kate mendengus. "Jika aku tidak melakukannya, kau pasti sudah melakukan hal yang tidak-tidak padaku." ketus Kate.
"Cih.. Kau pikir aku tertarik padamu?"
Kate melototkan matanya. Apa maksud nya tidak tertarik padanya? Apa dia kurang cantik? Cih... seperti nya mata Steven bermasalah. Pasti di dalam otak nya hanya ada wanita seksi yang suka mengumbar dada dan pahanya. Pikir Kate.
"Cepat kemari dan lakukan tugasmu!!! atau kau ingin ibumu....
"Ck.. Iya-iya." Kate mendekat dengan malas. Dia duduk di tepi tempat tidur. Tapi tiba-tiba Steven menurunkan celananya tanpa rasa malu.
"Apa yang kau lakukan??" teriak Kate menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Jika aku tidak membukanya, bagaimana kau akan memberinya rangsangan? Lagipula ini bukan pertama kau melihat hal seperti ini kan? tidak usah munafik."
Kate mendengus. Dia memang pernah melihatnya tapi belum pernah menyentuhnya. Apalagi dia hanya melihat sekilas. Itu saja saat dia menyamar saat menjalankan misinya. Dia ingat, terakhir dia melihat benda itu saat pelelangan tiga tahun lalu di salah satu hotel mewah di New York. Dia harus melihat benda menjijikkan itu dari seorang pria tua mata keranjang. Benda berkarat sebesar mentimun kirby yang sudah mulai membusuk.
Steven kembali menurunkan celananya dan memperlihatkan benda keramat nya yang tertidur. Kate masih menutup matanya. Tapi Steven menarik tangan Kate agar menyentuhnya. Kate tersentak. Dia menarik kembali tangannya dan menatap benda keramat Steven yang masih tertidur.
"Oh my God..!!" pekik Kate
"Ada apa dengan mu? cepat pijit dia!!" titah Steven.
__ADS_1
Kate menelan saliva nya kasar. Benda apa yang ada di depannya ini? Tidur saja dia sudah sebesar ini, apalagi jika terbangun? pikir Kate.
"Kenapa kau diam saja? Ayo cepat pijit!!" Steven menarik tangan Kate dan mengarahkan nya ke benda keramatnya.
Perlahan, Kate mulai memijatnya. Rasanya sangat aneh. Kenyal, keras dan uh... Kate tidak bisa berkata-kata. Kate melirik Steven yang memejamkan matanya. "Apa dia menikmatinya?" pikir Kate dalam hati.
Kate tidak tahu jika sebenarnya, Steven tengah menahan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Walau benda keramatnya belum bereaksi, tapi mendapatkan sentuhan lembut dari Kate, entah mengapa dia merasakan sensasi aneh. Ada getar-getar aneh menjalar di tubuhnya.
Ini pertama kalinya dia disentuh oleh wanita. Bahkan dengan mantan kekasihnya pun, Steven belum pernah melakukannya. Terbilang kolot memang. Orang kaya seperti Steven bisa saja mendapatkan kenikmatan surga dunia tanpa harus mencarinya karena semua wanita rela datang sendiri ke ranjang Steven dengan suka rela. Tapi Steven tidak pernah melakukannya atau memberi kesempatan pada para wanita itu. Dia lebih suka menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bermain darah. Dan sekarang, Kate adalah wanita pertama yang dia ijinkan melihat dan menyentuh miliknya. Sungguh gila memang. Apa itu hanya kebetulan atau karena Steven mempunyai perasaan pada wanita itu?
Steven menepis apa yang ada dipikirannya. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menikmatinya.
Kate mendengus melihat Steven yang memejamkan mata seolah menikmati pijatan. Tapi terbesit ide gila di otak nya. Dia menyeringai dan melambatkan pijatannya. Lalu kemudian dia menekan benda itu dan....
"Aaarrgghhh...."
Kate tertawa keras. Dia langsung lari keluar dari kamar Steven saat pria itu meneriakinya.
"Dasar sialan!!! Wanita gila!! Arrgghh!!" teriak Steven.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Langkah Kate terhenti. Dia memutar tubuhnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Tuan James, apa yang kau lakukan disini? Ini sudah malam. Harusnya kau pulang dan tidur nyenyak dengan istrimu bukan?"
"aku belum mempunyai istri."
"Benarkah? Wah... Kalau begitu menikah saja dengan Tuan mu itu. Kalian sudah seperti sepasang kekasih karena selalu bersama."
James melototkan matanya. Tapi Kate tidak takut. Dia justru tertawa keras.
"Bukannya kau harus membantu Tuan Steven? Kenapa kau disini?" tanya James
__ADS_1
"Aku tidak mau melakukannya. Benda itu terlihat menjijikkan. Rasanya kenyal tapi keras. Hiiii..." Kate bergidik mengingatnya.
"Itu akibat dari perbuatan mu. Jika kau tidak melukai Tuan Steven, kau tidak perlu melakukan hal itu."
"Cih... Aku melakukan hal itu karena dia berani macam-macam padaku. Dia hampir saja melecehkan ku. Aku hanya membela diri."
"A_apa? Melecehkan?"
"Yeah.. Untuk itu aku menendang masa depannya." ucap Kate dengan bangga.
James tidak percaya. Tidak mungkin Steven melakukan hal itu. Apalagi dengan wanita yang baru di temui nya. Tapi Kate sepertinya juga tidak berbohong.
"Kau orang kepercayaan nya bukan. Kau pasti sangat dekat dengannya. Jadi lebih baik kau saja yang melakukannya. Benda itu benar-benar mengerikan. Rambutnya lebat dan besar. Aku tidak bisa membayangkan, tertidur saja sudah sebesar itu apalagi kalau terbangun." Kate terus mengoceh sambil melangkah pergi meninggalkan James yang berdiri mematung.
James menelan ludahnya kasar. Berbulu dan besar? Dia menatap keatas membayangkan nya. Lalu sejenak dia menatap kebawah seolah sedang membandingkannya. Dia tidak menyangka, walaupun belum pernah di gunakan, tapi benda milik Steven bisa sebesar itu.
"Aish... Apa yang sudah aku pikirkan." gumam James
"Tuan!!"
James memasang wajah dinginnya. Dia menatap anak buahnya dan berkata, "Ada apa?"
Anak buah James mendekat dan membisikan sesuatu yang membuat James membulatkan kedua matanya.
"Apa kau yakin?" tanya James yang di jawab anggukan oleh anak buahnya.
"Apa kau tahu siapa pria itu?" tanya James lagi.
"Maaf tuan. Wajah pria itu tidak terlalu jelas."
"Awasi setiap gerak-geriknya dan cari tahu siapa pria yang bersama wanita itu. Laporkan pada ku dan jangan sampai Tuan Steven tahu."
__ADS_1
"Baik Tuan." Anak buah James pergi setelah mendapat perintah dari James.
"Cih.. Aku tidak menyangka kau wanita yang sangat menjijikkan. Dari awal aku tidak suka dengan mu dan bersyukur kau pergi. Tapi Jika kau berani menampakkan wajah mu lagi, Aku orang pertama yang akan mengusir mu." batin James