
Kate benar-benar senang karena bisa menghabiskan waktu seharian bersama dengan Jully. Apalagi saat memeriksakan kesehatan Jully, Dokter mengatakan jika keadaan Jully semakin membaik. Hanya perlu rutin kontrol, istirahat yang cukup dan konsumsi obat yang di resepkan oleh dokter saja.
Setelah dari rumah sakit, Kate mengajak Jully berbelanja. Kate membelikan semua keperluan Jully. Walaupun wanita paruh baya itu menolak, tapi Kate tetap membelikannya. Lagipula uangnya masih sisa banyak. Dan setelah puas jalan-jalan, Kate mengajak Jully untuk pulang karena Kate takut ibunya kelelahan. Lagipula dia juga harus kembali ke neraka untuk bekerja.
"Terimakasih Kate. Harusnya kau tidak perlu melakukan semua ini untuk mommy." seru Jully
"Apa yang Mommy katakan? Ini belum apa-apa di bandingkan perjuangan mommy membesarkan ku. Lagipula Aku ingin mommy cepat sembuh. Mommy ingat rencana kita, bukan?"
Jully mengangguk cepat. Tentu saja dia ingat. Janji itulah yang membuatnya bersemangat dan ingin cepat sembuh. Dia ingin hidup berdua dengan putri nya tanpa si bolam lampu tentu nya. Sudah cukup penderitaan yang mereka dapatkan selama ini karena ulah Robert. Pria itu tidak hanya menyiksa batin Jully tapi juga sudah merusak masa depan Kate dengan menjadikannya pencuri. Bahkan sampai sekarang, polisi masih memburu Kate. Untuk itu Jully ingin cepat-cepat pergi dari kota ini bersama dengan Kate, putri semata wayangnya.
"Mom, Aku harus kembali bekerja. Untuk itu aku berharap, mommy menjaga kesehatan mommy. Jangan terlalu lelah. Ingat kata dokter!!"
Lagi-lagi Jully mengangguk. Dia memeluk Kate dan menangis. Dia bahagia karena Kate mulai menjalani kehidupannya dengan baik dengan meninggalkan profesi kriminalnya. Tidak masalah mereka terpisah sementara waktu, yang terpenting Kate bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
"Hati-hati saat bekerja sayang. Dan jaga kesehatan mu juga." seru Jully
"Pasti Mom." Kate mengurai pelukan mereka dan memberi uang cukup banyak untuk Jully.
"Ini ada uang. Gunakan untuk keperluan Mommy."
"Tapi Kate, kau sudah membelikan Mommy begitu banyak barang. Jadi lebih baik, kau pegang saja uang ini untuk dirimu sendiri." tolak Jully. Kate sudah terlalu banyak mengeluarkan uang untuk keperluannya tanpa memikirkan diri sendiri. Untuk itu Jully menolaknya. Selama ini, Kate selalu bekerja membanting tulang sampai-sampai membahayakan nyawanya demi mendapatkan uang dan Kate tidak pernah menikmati hasil kerja kerasnya. Robert hanya memberinya sedikit dari hasil berlian yang Kate curi dan itu hanya cukup untuk Jully berobat dan untuk makan satu bulan.
"Mom, Aku masih punya simpanan. Jadi mommy pegang uang ini. Simpan di tempat yang tidak bisa di temukan si bolam lampu." Kate meraih tangan Jully dan meletakkan uang di telapak tangan Jully.
"Tapi Kate.....
__ADS_1
"Please mom. Terima uang ini. Lagipula aku masih punya sisa gaji yang belum aku ambil."
Jully mengangguk pelan. Dia tidak ingin melihat putrinya kecewa. Walaupun dia tidak membutuhkannya untuk sekarang, tapi dia akan menyimpannya terlebih dahulu. Siapa tahu nanti uang ini akan berguna.
Kate memeluk Jully lagi. Waktunya sudah habis dan dia harus kembali bekerja. Hah... Rasanya dia tidak ingin berpisah dengan ibunya. Tapi suara deheman seseorang membuat Kate melepas pelukannya. Dia menatap James dan mendengus kesal.
"Aku pergi dulu Mom. Lain kali jika aku mendapat cuti lagi, aku akan mengunjungi Mommy." seru Kate
"Iya sayang. Hati-hati dalam bekerja dan jaga kesehatanmu."
Kate mengangguk dan mencium kedua pipi Jully. Dia melambaikan tangan kearah Jully dan masuk ke dalam mobil.
"Hati-hati sayang!!!" teriak Jully saat mobil yang membawa Kate semakin menjauh.
"Semoga kau mendapatkan kebahagiaan, Kate." gumam Jully.
Selama di perjalanan, Kate hanya menatap ke luar jendela. Rasanya dia tidak ingin kembali ke rumah Steven. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah hukuman untuknya karena telah berani masuk ke rumahnya dan berniat mencuri berlian milik Steven. Masih untung Steven tidak membunuhnya, apalagi melaporkannya ke polisi. Steven hanya menghukumnya dengan menjadikannya pelayan pribadi. Dan jangan lupa, sekarang dia di gaji atas pekerjaannya itu. Tidak!!! Lebih tepatnya, Kate memaksa untuk di gaji.
Dan sekarang, Kate sangat senang karena di perbolehkan bertemu dengan Ibunya walau hanya sebentar. Dia tidak menyangka, Steven setuju mengabulkan satu permintaannya sebagai imbalan dia mau menjawab pertanyaan dari Steven. Sepertinya setelah ini dia harus menyiapkan permintaan lain jika nanti Steven bertanya sesuatu padanya.
"Baik Tuan." seru James dengan seseorang di seberang sana.
Kate menoleh menatap James yang memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Sepertinya dia terlalu asyik dengan pikirannya sampai-sampai tidak menyadari jika James baru saja mendapatkan telepon dari seseorang.
"Ada apa?" tanya Kate
__ADS_1
"Tuan memintaku untuk ke perusahaan segera. Jadi kita akan ke sana."
"A_apa? Lalu kenapa aku harus ikut?" tanya Kate
"Tanyakan sendiri pada Tuan nanti. Tapi yang pasti karena kau terlalu lama berkeliaran di luar. Apa kau tahu, selama kau bersenang-senang dengan ibu mu tadi, Tuan Muda sudah beberapa kali menelepon ku. Jadi lebih baik persiapkan dirimu."
Glek
Apa karena itu dia akan diberi hukuman lagi? Tapi bukankah mereka sudah sepakat? Aish... Seharusnya dia menyebutkan waktu yang dia butuhkan untuk bertemu dengan ibunya tadi.
Mobil terparkir sempurna di depan perusahaan. James turun dari mobil dan langsung masuk ke perusahaan diikuti Kate yang mengekor di belakangnya.
Ini bukan pertama kalinya Kate masuk kesini. Jadi dia tidak terlalu terkejut dengan isi dari perusahaan tersebut. Bahkan dia sudah hafal setiap sudut setiap lantai perusahaan. Jangan lupa, di pernah bekerja sehari sebagai Office Girl tanpa di gaji saat menyamar.
Saat melewati lobby perusahaan, banyak mata yang menatap Kate. Mereka bertanya-tanya, siapa wanita yang datang bersama dengan James? Apakah dia kekasihnya? Tapi melihat penampilannya, sepertinya bukan karena menurut mereka, Kate lebih cocok menjadi seorang pelayan. Tapi saat Kate masuk ke lift khusus bersama James, mereka kembali berspekulasi. Sepertinya tebakan mereka salah karena selama ini tidak ada yang berani masuk ke lift tersebut walaupun itu rekan kerja Tuan Steven sekalipun.
"Sepertinya kau tidak terkejut saat masuk kemari." seru James saat mereka berada di dalam lift
"Untuk apa aku terkejut jika aku pernah melihat sebelumnya. Dan asal kau tahu, Aku hafal setiap sudut ruang di setiap lantai di perusahaan ini." jawab Kate dengan bangga
James menaikkan sebelah alisnya. Hafal setiap sudut ruang? Apa maksud wanita ini? pikir James
Pintu lift terbuka, James melangkah lebih dulu keluar dari lift di ikuti oleh Kate yang masih setia mengekor di belakangnya.
Kate tahu mereka akan kemana. Tentu saja ke Ruangan pria gila itu. Walau dia sudah tahu semua ruangan di perusahaan itu, tapi Kate belum sempat masuk ke ruangan Steven. Jadi dia juga penasaran seperti apa ruangan Steven.
__ADS_1
James mengetuk pintu, dan tak berapa lama terdengar suara dari dalam sana. Itu adalah suara Steven. Entah mengapa suara itu terdengar berbeda saat pria itu berada di rumah. Kali ini yang Kate dengar, suara itu seperti suara Auman singa yang turun dari neraka. Sungguh sangat mengerikan.
"Oh my God!!! It seems my life is in danger now." batin Kate.