
James berlari keruang kerja Steven. Dia harus memberitahu hal penting yang baru saja dia dapatkan. Ini di luar dugaan. Ternyata selama ini Jennifer bekerjasama dengan Leo.
James tahu siapa Leo karena dia sudah lama ikut dengan Steven jadi dia tahu alur kehidupan tuannya itu.
Leo adalah mantan sahabat Steven yang pernah menghancurkan perusahaan Steven hanya karena iri. Dan sekarang dia dekat dengan Jennifer. Jangan-jangan mereka kembali berencana untuk menghancurkan Steven.
Ini tidak bisa di biarkan. Dia harus memberitahu Steven sebelum semuanya terlambat.
BRAKH
James membuka pintu dengan begitu keras. Dia melihat Steven yang membenamkan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja.
"Tuan...
James mendekat, Steven terlihat tidak baik-baik saja. Penampilannya kacau dan sepertinya dia baru saja menghabiskan Wine mahalnya
"Tuan!!" James menggoyangkan bahu Steven. Tapi pria itu tak bergeming.
"Tuan!! Kau baik-baik saja?" tanya James
"Hmm... Berisik, Kau mengganggu tidur ku, James." Steven menegakkan badannya dan bersandar di kursinya.
Keadaan Steven sangat kacau. Bau alkohol tercium dari mulutnya. Ada apa sebenarnya?
"Anda baik-baik saja Tuan?"
"Apa kau buta, James? Aku baik-baik saja." Steven berdiri. Tapi karena mabuk membuatnya hampir terjatuh.
"Tuan!!" James menahan tubuh Steven agar tidak terjatuh. "Mari saya antar ke kamar." ucapnya lagi
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri." Steven berjalan dengan sempoyongan ke kamarnya. James ingin mengikutinya, tapi Steven justru melarang untuk mengikutinya.
"Ada apa dengan tuan Steven? tidak biasanya dia seperti ini. Aku tidak mungkin meninggalkan nya dalam keadaan seperti ini." James sangat khawatir pada Tuannya. Dia ingin melihat keadaan Steven tapi dilarang. Jika dia memaksa untuk mengikutinya, yang ada dia akan kehilangan nyawa nya.
"Nona Kate. Iya Nona Kate." James bergegas menuju kamar Kate. Dia mengetuk pintu begitu keras hingga membuat si empunya terkejut dan mengumpat karena dia baru saja akan mengarungi mimpi indahnya.
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Nona, apa kau sudah tidur? Bisa kau keluar sebentar? Ini sangat penting." teriak James
Cklek
Kate membuka sedikit pintu kamarnya karena dia menggunakan gaun tidur yang sedikit terbuka.
"Apa kau tidak tahu sekarang jam berapa? Kenapa kau berteriak seperti kesurupan seperti itu? Mengganggu tidur ku saja." gerutu Kate
"Maaf sudah mengganggu tidur mu, Nona. Tapi ini sangat gawat. Tuan Steven mabuk dan dia melarang ku untuk mengikuti nya." Terlihat James yang khawatir dengan keadaan Steven. Tapi tidak dengan Kate. Menurutnya James berlebihan.
"Dia bukan anak kecil, James. Kenapa kau begitu mengkhawatirkan nya? Bukannya dia sudah biasa minum minuman beralkohol?"
"Tapi ini berbeda nona. Jika sudah mabuk, Tuan Steven akan melakukan yang bisa membahayakan dirinya sendiri." ucap James
"Apa? Jangan bercanda James !"
"Aku tidak bercanda nona. Jadi aku minta tolong padamu untuk melihat keadaan Tuan." pinta James
"Tuan Steven melarang ku mengikutinya. Jadi cuma anda satu-satunya yang bisa saya andalkan. Lagipula saya harus mengawasi Leo."
Kate terdiam sesaat. Tapi kemudian mereka mendengar suara pecahan kaca dari kamar Steven.
"Apa yang dia lakukan?" Kate melupakan jika dia memakai baju yang seksi. Dia segera ke kamar Steven tanpa memperdulikan James yang melongo melihatnya.
"Astaga... Sadar James! Atau kau akan kehilangan nyawamu." James segera pergi karena ada yang harus di kerjakan. Dia akan mengawasi Leo dan Jennifer. Dia tidak mau kecolongan dan membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan.
...****************...
Kate masuk ke kamar Steven tanpa mengetuk pintu. Dia berkacak pinggang melihat kamar Steven yang berubah seperti kapal pecah.
"Oh my God... Kenapa dia membuat kamarnya berantakan seperti ini? Apa dia tidak tahu jika membersihkan kamarnya itu sangat melelahkan. Hais.. Sepertinya besok aku akan sibuk." gerutu Kate
Pyaarrr
__ADS_1
Terdengar suara dari dalam kamar mandi. Kate segera masuk karena yakin itu adalah perbuatan Steven.
"Oh my.... Tuan!!" Kate mendekati Steven yang duduk di lantai dengan tangan yang mengeluarkan darah.
Pria itu terlihat kacau. Rambut dan bajunya basah. Tangannya berdarah. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Kau kenapa, bodoh?" Kate menuntun Steven keluar dari kamar mandi dan menyuruhnya duduk di tepi tempat tidur. Dia mengambil handuk dan baju untuk Steven.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat kacau seperti ini? Kau seperti orang yang sedang patah hati saja." Kate dengan telaten mengeringkan rambut Steven menggunakan handuk. Bahkan tanpa rasa malu, dia melepas baju Steven dan menggantinya dengan baju yang kering.
Steven memperhatikan Kate yang terus mengomel tanpa henti. Tapi kemudian terlintas ketakutan jika Kate akan meninggalkannya.
"Jangan baik padaku!" seru Steven.
Kate menatap Steven. Dia berdecak pelan dan mengambil p3k untuk mengobati tangan pria itu yang terluka.
"Jangan salah paham. Aku tidak baik padamu. Anggap saja aku sedang melakukan tugasku sebagai pelayan pribadimu." Dengan telaten Kate membersihkan luka Steven dan membalutnya. Dia jadi penasaran kenapa Steven seperti itu.
"Kau terlihat aneh jika bersikap seperti ini. Apa ada masalah di perusahaan? atau kau sedang....
"Dia mengkhianati ku."
Deg
Kate menatap Steven yang juga sedang menatapnya. Mengkhianati? Apa dia sudah tahu?
"Iya Kitty. Aku tahu semuanya." seru Steven dengan suara serak.
Dia tahu jika Jennifer sudah mengkhianatinya. Awalnya dia ingin mengecek email di laptopnya. Tapi tiba-tiba keberadaan Jennifer terdeteksi dan muncul di layar laptopnya. Karena penasaran, Steven mengamati kemana Jennifer akan pergi.
Dia melihat satu titik merah berhenti cukup lama. Steven memperbesar layar dan mendapati sebuah alamat yang tidak asing baginya.
Jantung Steven berdetak kencang. Hatinya bergemuruh mencoba meyakinkan jika semua ini tidak benar. Dia yakin ini hanya kebetulan saja. Tapi setelah dia mengetahui siapa pemilik rumah tersebut, Steven tidak bisa lagi membendung amarah nya.
Steven mengambil wine dan menenggaknya sekaligus. Dia tidak menyangka jika selama ini Jennifer berhubungan dengan orang itu. Orang yang sangat dia benci.
__ADS_1
"Leo Abraham."