
Steven menatap tajam Kate yang saat ini berdiri di hadapannya. Dia tidak habis pikir kenapa Wanita itu berani pada Jennifer. Bahkan dia berani menyebut Jenny seperti Annabelle.
"Hukum dia, Steve. Dia sangat lancang mengejekku dan menendang kakiku hingga aku terjatuh." adu Jennifer. Dia bergelayut manja di lengan Steven yang duduk di sofa.
"Hei... Annabelle, kau yang memulai nya terlebih dahulu. Kau menarik rambutku dan mendorong ku. Aku hanya membalas saja." teriak Kate
"CUKUP!!"
Baik Kate maupun Jennifer tersentak mendengar teriakkan Steven. Jennifer merasa takut dan sedikit menjauh. Berbeda dengan Kate yang seolah masa bodoh dengan kemarahan Steven.
"Kau harus di hukum, Kate." seru Steven
Kate menatap tajam Steven. Kenapa dia harus dihukum untuk sesuatu yang bukan kesalahannya? Dia ingin protes, tapi Steven mengangkat tangan nya seolah memberi isyarat untuk tidak berbicara.
"Pergi ke ruang arena pelatihan!! Aku akan memberimu hukuman di sana." titah Steven.
Kate menghentakkan kedua kakinya kesal. Dia melirik Jennifer yang mengejeknya. Tapi Kate membalas dengan menunjukkan jari tengah nya ke arah Jennifer sebelum pergi ke ruang arena pelatihan.
Jennifer melotot. Dia berdiri dan ingin membalas Kate. Tapi suara Steven mampu membuat nya mengurung kan niatnya.
"Jika kau juga berbuat ulah, maka aku tidak akan segan untuk menghukum mu juga."
Glek
Jennifer memilih kembali duduk di samping Steven. "Aku mana berani berbuat ulah, Steve. Ini semua gara-gara pembantu itu. Dia mengejekku seperti Annabelle dan mengatai diri ku seperti jalan9 karena gaunku. Apa dia tidak tahu jika ini adalah fashion?"
Steven melirik penampilan Jennifer. Entah mengapa dia merasa jijik melihat penampilan wanita itu. Benar yang di katakan Kate, Jenny terlihat seperti jalan9. Gaun mini dengan belahan dada yang rendah. Padahal dulu Steven sangat suka Jennifer memakai gaun apapun. Baginya wanita itu terlihat sangat cantik. Tapi sekarang?
"Huft... ada apa dengan ku?" batin Steven.
"Steve, Bagaimana jika kita....
"Aku mau memberi hukuman pada Kate." Steven berdiri dan meninggalkan Jennifer sendiri.
Tidak mau ketinggalan, Jennifer menyusul Steven karena dia ingin melihat Kate di hukum.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Steven.
"Aku mau melihat pembantu itu menerima hukuman."
Tap
Steven menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam Jennifer dan berkata, " Aku paling tidak suka kesenangan ku di ganggu."
Glek
Jennifer merasa Steven sangat berbeda sekarang. Dia terlihat menyeramkan. Apa benar rumor yang beredar? Steven menjadi orang yang tidak punya belas kasihan? Tapi dia juga bingung dengan ucapan Steven. Apa maksudnya tidak suka kesenangannya di ganggu? dia merasa ambigu dengan kalimat itu.
__ADS_1
Steven meninggalkan Jennifer yang terdiam. Entah mengapa dia malas bertemu dengan wanita itu. Padahal hatinya masih mencintainya, tapi.....
Entahlah, Steven males memikirkan nya. Sekarang yang ingin dia lakukan adalah memberi hukuman pada Kucing liarnya. Dia sudah tidak sabar. Pasti akan sangat menyenangkan bermain-main dengan Katty. Ya, Kitty.. Nama yang bagus untuk kucing liarnya.
Steven membuka pintu ruang tempat latihan. Di sana dia melihat Kate tengah berlatih memanah. Kate meletakkan kembali busur panah nya dan mendekati Steven. Dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Kenapa kau bersikap tidak adil? Jelas-jelas dia dulu yang membuat gara-gara. Tapi kenapa aku yang harus di hukum? Apa karena dia mantan kekasihmu, kau bersikap seperti itu pada ku? Lalu ap...
Ucapan Kate terhenti saat Steven membungkam bibir Kate dengan bibirnya.
Kate mendorong Steven hingga ciuman mereka terlepas. " Apa yang kau lakukan, hah??" pekik Kate.
"Ck.. Kau sangat cerewet, Kitty. Telingaku rasanya mau pecah mendengarnya." Steven duduk di sofa dan memejamkan matanya.
"Apa kau bilang? Cerewet?" Kate duduk di sebelah Steven dan mencengkram kerah pria itu hingga mau tidak mau Steven membuka matanya.
"Dengar ya tuan Steven yang terhormat! Aku tidak cerewet tapi hanya banyak bicara. Apalagi kau bersikap tidak adil pada ku. Dan lagi, Kau memanggilku apa? Kitty? Namaku Kate, Kate Berley. Bukan Kitty."
Bukannya marah, tapi Steven Justru tersenyum. Dia mencondongkan tubuhnya hingga mau tidak mau Kate memundurkan tubuhnya. "Ma_mau apa kau?"
"Aku menginginkanmu, apa boleh?"
Deg
Kate mendorong Steven dan berdiri membelakanginya pria itu. Dia memegang dadanya yang berdetak kencang. "Jantung amankan? kenapa dia berdetak sangat kencang?" batin Kate.
"Kyaa.." pekik Kate. "Apa yang kau lakukan, sialan?" teriak Kate. Dia ingin bangun, tapi Steven memeluknya begitu erat.
"Biar begini sebentar." Steven membenamkan wajahnya di ceruk leher Kate. Lagi-lagi mencium aroma tubuh Kate membuat Steven merasa tenang. Ada apa dengan nya? Apa dia mulai menyukai Kate? Lalu bagaimana dengan Jennifer?
Tidak! Tidak mungkin dia menyukai wanita bar-bar seperti Kate. Tapi....
"Bisa kau lepaskan? aku sangat tidak nyaman seperti ini." seru Kate
"Kau tidak nyaman jika seperti ini? Lalu bagaimana jika seperti ini?" Steven mendorong Kate ke sofa dan mengukungnya.
"Hei..." pekik Kate
Steven kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Kate.
"Minggir!! Kau berat, Steve."
"Kau memanggilku apa?"
"Ma_maksudku, Tuan Steven."
Steven mengangkat wajahnya hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. "Kau tahu kan jika aku akan menghukum mu. Jadi bersiaplah !!" Steven mengunci pergerakan Kate. Dia takut jika kaki Kate melayang mengenai benda keramatnya lagi. Dia juga mencekal kedua tangan Kate. Dan sekarang wanita itu tidak bisa bergerak.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" teriak Kate
"Menghukum mu." Steven mencium brutal bibir Kate, sampai-sampai Kate tidak bisa mengimbanginya. Dia terus memberontak. Tapi Steven justru semakin liar dan membuat Kate mengalah. Dia tidak lagi memberontak dan membiarkan Steven menikmati bibirnya.
Ciuman yang awalnya brutal, kini berubah menjadi ******* yang lembut dan memabukkan. Steven menuntun tangan Kate agar memeluknya. Mereka saling mengecap dan bertukar Saliva. Bahkan bibir Steven dengan lancang turun ke leher jenjang Kate dan meninggalkan jejak di sana.
"Ugh.." Satu erangan keluar dari bibir Kate dan itu berhasil membuat Steven menggila. Ini aneh, dulu dia tidak seagresif ini. Padahal Jennifer dengan suka rela menawarkan tubuhnya. Tapi Steven selalu menolak. Dia akan melakukannya setelah menikah nanti. Tapi sekarang? Steven benar-benar tidak bisa menahannya.
Kedua tangan Steven sudah berada di atas dua benda kenyal milik Kate yang masih terhalang oleh seragam Kate. Tapi hal itu tidak membuat Kate kehilangan rasa nikmat yang di berikan Steven.
"Ini aneh. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku menginginkan lebih dari ini? Tidak!! Ini tidak benar." batin Kate. Dia menahan kedua tangan Steven yang begitu aktif di atas benda kenyalnya.
"Stop!!" Seru Kate dengan nafas yang memburu. Dia takut Steven akan melakukan lebih dari ini. Bagaimanapun mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa. Jangan sampai Steven hanya menjadikan nya pelarian saja.
Steven mendongak menatap Kate dengan nafas yang tidak kalah memburu. Hasrat nya sudah di ubun-ubun tapi Kate justru meminta nya untuk berhenti.
"Ada apa? Apa kau tidak mau melakukan nya?" tanya Steven
Kate menggeleng sebagai jawaban dan hal itu membuat Steven menghela nafas berat. Dia bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Dia merasakan bagian bawah nya yang berdenyut sakit tapi hatinya lebih sakit karena penolakan dari Kate.
Kate ikut terbangun. Dia mengusap leher dan belakang telinganya yang penuh dengan air liur Steven. Menjijikkan, tapi itu sangat nikmat. Dia juga membenarkan kancing seragamnya karena sempat di buka oleh Steven.
"Maafkan aku. Tapi aku bukan siapa-siapa mu. Dan aku tidak mungkin melakukan dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dengan ku."
Deg
Steven menatap Kate dalam. Sial.. Dia lupa jika mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa. Hubungan mereka hanya sebatas pelayan dan majikan. Pantas saja Kate menolaknya. Sekarang dia harus apa? Dia tidak mungkin menjadi kan Kate kekasih nya. Apa lagi Jennifer sudah kembali.
Sungguh dia mereka dilema. Dia menginginkan Kate, tapi dia masih mencintai Jennifer. Walaupun cinta itu sedikit demi sedikit sudah memudar, tapi rasa itu masih ada .
Steven melirik Kate yang membenarkan tatanan rambut nya. Sekilas dia melihat hasil karyanya di leher Kate dan hal itu membuat nya tersenyum senang.
"Setelah ini jangan lupa tutupi tanda ini agar orang lain tidak tahu." Steven mengusap tanda di leher Kate.
"Tanda? tanda apa?"
Steven mengambil ponselnya dan memfoto tanda di leher Kate. "Coba lihat!! Bagus kan hasil karya ku?"
Kate melebarkan kedua mata nya. Dia memegang lehernya dan menatap tajam Steven yang kabur
"STEVEN!!!" teriak Kate. Dia mengejar Steven tapi sayangnya dia menginjak tali sepatunya sendiri yang mengakibatkan dia jatuh.
Gubrak
"AW..."
Steven berhenti di ambang pintu. Bukannya membantu Kate, dia justru tertawa keras.
__ADS_1
"DASAR STEVEN SIALAN!!!"