
Keesokan harinya, Kate bersantai di dapur menikmati makanan nya. Sesekali dia melihat ke lantai atas dan belum ada tanda-tanda Steven keluar dari Kamar. Padahal ini sudah hampir siang, Tapi pria itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Kate menghela nafas panjang. Tangannya sudah sangat gatal ingin membersihkan kamar Steven yang berantakan. Tapi jika pria itu belum pergi, dia tidak akan leluasa membersihkannya.
"Kenapa dia belum juga bangun? Apa dia tidak ke kantor?" gumamnya dalam hati.
Kate membawa piring kotornya ke wastafel dan mencucinya. Sepertinya dia harus membangunkan Steven setelah ini sekaligus memastikan jika pria itu tidak mati.
Tapi baru saja kakinya menginjak anak tangga, Jennifer datang dan menyuruhnya pergi ke butik untuk mengambil gaun pesanannya.
"Hei kau..!!" panggil Jennifer
Kate menoleh dan menghela napas panjang. "Mau apalagi Annabelle kemari??" batin Kate
"Ambilkan gaun ku yang ada di butik." perintah Jennifer
"Aku?" Kate menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kau. Memangnya siapa lagi?"
"Dengar ya Nona Annabelle! Aku pelayan pribadi Tuan Steven. Dan aku hanya mendengar perintah dari nya. Memangnya siapa kau berani memerintah ku?" ujar Kate
"Aku kekasih Steven. Jadi aku berhak memerintah mu juga."
"Mantan, nona. Jangan lupakan itu." ledek Kate
"Kau....
Ucapan Jennifer tertahan. Dia begitu kesal dengan Kate yang berani membantahnya. Tapi mau bagaimanapun dia harus bisa membuat Kate keluar dari rumah ini karena Leo sudah menunggu di luar sana.
"Aku tidak mau tahu. Sekarang juga kau ambil gaunku di butik. Atau jika tidak, aku akan membuatmu di pecat oleh Steven." ancam Jennifer
Kate berdecih pelan. Dia tidak perduli jika sampai Steven memecatnya. Justru dia akan senang. Tapi tunggu dulu! bukankah ini kesempatan bagus untuk kabur? Dia bisa keluar dengan mudah dengan alasan mengambil gaun milik Annabelle. Dan setelah dia keluar, dia bisa meminta orang lain untuk mengantar gaun itu dan dia tidak perlu kembali. Ide yang bagus bukan?
"Baiklah. Berikan alamatnya padaku!" pinta Kate
__ADS_1
Jennifer tersenyum sinis. Dia memberikan alamat di mana Leo sudah menunggu wanita itu.
"Ini alamat dan ongkos taksi. Tenang saja, gaun itu sudah aku bayar. Dan ingat, jangan sampai rusak."
"Iya iya.. Cerewet sekali." Kate pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia tidak mungkin keluar dengan baju pelayan karena itu terlihat menggelikan. Dia juga membawa tas selempangnya yang di isi dengan senjata untuk berjaga-jaga.
"Oke Kate. Saat nya untuk meninggalkan neraka ini." Kate melangkah keluar. Untungnya James belum datang. Jadi dia hanya perlu berhadapan dengan penjaga saja.
"Anda mau kemana nona?" tanya penjaga
"Aku di suruh Annabelle, maksudku Nona Jennifer untuk mengambil gaun nya di butik. Jika kalian tidak percaya, kalian bisa bertanya padanya." seru Kate
Salah satu penjaga memastikan secara langsung dengan bertanya pada Jennifer. Dan ternyata benar, Kate di minta ke butik untuk mengambil gaun Jennifer.
"Kalian sudah percaya bukan? Sekarang buka pintunya!!" pintanya pada penjaga.
Dengan ragu, Penjaga membuka gerbang untuk Kate. Bahkan mereka memberi tawaran untuk mengantar Kate. Tapi Kate menolak. Bisa gawat jika mereka tahu dia berencana untuk kabur.
Kate menyetop taksi yang kebetulan lewat. Dia masuk kedalam taksi dan memberikan alamat tujuannya pada si sopir.
"Apa kau yakin nona?" tanya sopir
"Tentu saja aku yakin." seru Kate
Walau merasa aneh, Sopir taksi tetap melajukan mobilnya menuju alamat yang diberikan Kate. Dia merasa heran, untuk apa penumpangnya itu kesana? Apa dia tidak tahu tempat apa yang dia tuju?
Sedangkan Kate, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya karena sebentar lagi dia bisa bertemu dengan ibunya. Dia akan mengajak ibunya pergi sesuai rencana awal. Tapi sebelum itu, dia harus mencari seseorang untuk mengantar gaun Annabelle terlebih dahulu.
Tapi, kenapa dia merasa ada yang aneh? Kenapa Annabelle memintanya mengambil gaun sedangkan dia baru saja datang. Bukankah dia bisa mampir ke butik terlebih dahulu sebelum ke rumah Steven? Dan jika tidak sempat, bukannya dia bisa meminta pihak butik untuk mengantar gaun tersebut.
Kate melihat keluar jendela mobil. Dia melihat jika taksi yang dia tumpangi masuk ke gang yang sempit. Dan hal itu semakin membuatnya merasa aneh.
"Berhenti pak!! Kenapa kita kesini?" tanya Kate
"Bukannya anda memberikan alamat itu padaku. Dan memang ini alamat yang anda tuju, nona."
__ADS_1
"Tapi pak, aku di suruh Annabelle untuk mengambil gaunnya di butik. Apa di sini ada butik?" tanya Kate. Dia tidak menyangka jika butik langganan Annabelle ada di tempat kumuh seperti ini.
"Aku tidak tahu nona, apakah ada butik atau tidak. Tapi yang aku tahu tempat yang anda tuju adalah tempat yang sangat berbahaya. Jadi apa anda yakin ingin kesana?" tanya Si sopir taksi.
Kate terdiam. Apa Jennifer membohongi nya? Tapi sepertinya memang begitu. Dia pasti berniat menyingkirkannya.
"Sial.. Kenapa aku percaya begitu saja dengan Annabelle? Berada didekat Steven membuat insting ku berkurang." batin Kate geram
"Kita putar balik saja pak." pintanya pada si sopir taksi.
Tapi belum sempat si sopir menjalankan mobilnya, di depan sana beberapa orang berdiri menghadang mereka dengan senjata api di tangannya.
"Sial!! Mundur!!" ucap Kate pada sopir taksi.
Si sopir taksi menginjak pedal gas dan memundurkan mobilnya. Tapi sebuah peluru melesat menembus kaca mobil dan bersarang di dada si sopir yang menyebabkannya tewas seketika.
"****." Kate merogoh belatinya yang ada di dalam tas dan menyimpannya di balik baju.
"Keluar kau!!" pria itu menggedor pintu belakang dan mau tidak mau, Kate keluar dari taksi.
"Angkat tangan!!" bentak pria itu
Kate mencoba untuk tenang. Apalagi salah satu dari mereka menodongkan pistol padanya.
"Ikut kami!!" seru pria itu.
Kate tidak ada pilihan. Dia mengikuti ketiga pria di depannya sedangkan satu pria berada di belakangnya menodong senjata padanya.
"Ok, tenang Kate. Hanya empat orang. Jadi kau pasti bisa mengalahkan mereka." batinnya
Kate menghela nafas panjang dan dengan gerakan cepat dia menendang kebelakang dan mengenai kepala pria yang menodongnya. Kate mencekal senjata pria itu dan bersalto kebelakang dan menembakan senjata pada ketiga pria di depannya.
Tidak sampai disitu, Kate menendang betis pria itu dan menembakkan senjata yang dia rebut ke dada pria itu.
Dor
__ADS_1
"Itu balasan untuk mu karena sudah menghilangkan nyawa orang yang tidak bersalah." seru Kate. Dia menyimpan senjata itu untuk berjaga-jaga dan bergegas pergi dari sana. Tapi tiba-tiba sebuah peluru bius melesat mengenai punggungnya dan membuatnya pingsan.