
Di rumah minimalis berwarna putih dengan tata ruang yang sederhana, seorang wanita paruh baya tengah membersihkan kamarnya. Dia adalah Jully Berley. Sudah lama dia terbaring sakit dan hanya bisa mengandalkan putrinya. Tapi kini Putrinya tengah bekerja dan mau tidak mau dia harus mengurus dirinya sendiri.
Dia bisa saja meminta bantuan suaminya, tapi dia tidak mau merepotkan Robert karena dia tahu, Robert tidak pernah menganggapnya semenjak dia sakit.
Tidak seperti saat pertama mereka bertemu. Saat itu, Jully bekerja di Bar sebagai pelayan. Dia sudah cukup lama mengerjakan profesi itu karena dia harus menghidupi putrinya yang masih kecil. Dia adalah Single mother, Dia bercerai dengan mantan suaminya karena mantan suaminya terang-terangan berselingkuh di depan matanya. Untuk itu dia memilih pergi dan hidup berdua dengan putrinya. Dia terpaksa bekerja membanting tulang siang dan malam untuk mencukupi kebutuhan mereka. Saat itu dia hanya mampu menyewa sebuah rumah. Hingga akhirnya dia bisa mempunyai rumah sendiri.
Pertemuan pertama Jully dengan Robert terjadi saat Jully sedang di ganggu oleh beberapa berandalan. Robert datang bak pahlawan berkuda yang menolong Jully dengan menghajar berandalan itu hingga pingsan. Setelah itu Robert terus mendekati nya dan mencoba mengambil hatinya. Dan.. Yah, Jully akhirnya luluh. Mereka menikah dan hidup bahagia. Tapi itu tidak berlangsung lama.
Jully divonis mempunyai penyakit infeksi paru-paru yang membuatnya tidak bisa bekerja lagi. Dan saat itu pula Robert menunjukkan seringai aslinya. Dia sering mabuk-mabukan dan berjudi. Jika dia tidak mempunyai uang, dia kan mencuri. Dan dari situ pula, Jully merasakan penyesalan yang teramat sangat.
Robert mengajarkan putrinya untuk mencuri. Bahkan Robert melatih Kate ilmu bela diri, menggunakan senjata dan melakukan beberapa trik dan strategi untuk mencuri.
Hati Jully hancur. Dia merasa gagal sebagai ibu. Tapi Kate selalu meyakinkan Jully jika dia baik-baik saja dan akan mencari uang untuk pengobatan Jully.
Bahkan beberapa kali Jully melihat Kate terluka dan hampir kehilangan nyawanya. Hal itu semakin membuat Jully merasa bersalah.
Dan sekarang, Jully merasa sedikit tenang karena Kate mulai bekerja. Walau masih ada keraguan di hatinya. Tapi dia berharap Kate benar-benar bekerja dan baik-baik saja saat ini.
Brakh
Pintu terbuka cukup keras membuat Jully tersentak. Dia memutar tubuhnya melihat Robert yang menghampirinya.
"Bagus jika kau bisa bangun dan membersihkan tempat tidur mu sendiri. Jadi aku tidak perlu repot melakukannya." seru Robert
Jully memutar kedua bola matanya malas. Dia kembali melanjutkan aktivitas nya membersihkan kamarnya.
"Aku punya sesuatu untuk mu." Robert mengambil sebuah kertas dan memberi kannya pada Jully.
"Apa ini?" tanya Jully
"Surat dari Putri mu." Robert keluar begitu saja karena dia malas jika sampai Jully bertanya tentang surat itu padanya.
Jully tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia duduk di tepi tempat tidur dan membuka surat yang di berikan oleh Robert. Dia berharap jika ini bukan akal-akalan Robert saja untuk menyembunyikan keberadaan Kate. Tapi setelah dia membuka surat tersebut, dia yakin jika itu adalah tulisan tangan Putrinya.
"Hai Mom... Bagaimana kabarmu? Aku harap kau selalu baik, Mom. Maaf , Aku tidak berpamitan dengan mommy saat aku pergi. Tidur Mommy sangat pulas malam itu. Jadi aku tidak tega membangunkan Mommy."
"Mommy tidak perlu khawatir padaku. Saat ini aku mempunyai pekerjaan yang lumayan bagus . Aku bekerja menjadi Maid di sebuah rumah yang besar. Gajinya juga tinggi. Untuk itu berjanjilah padaku jika Mommy akan menjaga kesehatan Mommy. Nanti setelah aku mempunyai uang yang banyak, kita akan pergi mencari kebahagiaan kita. Mommy mau kan?"
"Iya Kate, Mommy mau." seru Jully di sela tangisannya
__ADS_1
"Aku akan merasa tenang jika Mommy baik-baik saja. Aku di sini berjuang untuk Mommy dan Mommy disana harus berjuang untuk ku agar kita bisa pergi meninggalkan si bolam lampu sialan itu."
Jully tertawa, Bolam lampu yang di maksud Kate adalah Robert. Dan Jully rasa itu julukan yang bagus.
"Maaf aku tidak bisa menghubungi Mommy, karena di sini di larang membawa ponsel. Tapi aku berjanji, jika ada kesempatan aku akan menghubungi Mommy. Ya sudah, aku masih harus berkerja. I love You Mom."
"I love you too , Kate.. Mommy berjanji akan menjaga kesehatan Mommy. Dan saat kau pulang nanti kita bisa langsung pergi dari sini."
*
*
*
*
*
"Apa kau sudah tahu siapa pria itu?" Steven yang baru saja selesai memberi hukuman pada Kate langsung pergi ke ruang kerjanya. Dia duduk di depan James yang sedang berkutat dengan laptopnya.
" Sepertinya dia ayah tiri Kate Berley, Tuan."
"Iya Tuan. Dia adalah mantan pencuri dan pernah di tangkap polisi. Tapi semenjak keluar dari penjara, dia tidak pernah lagi mencuri." terang James
"Pencuri amatiran." celetuk Steven. Dia jadi berfikir apakah Kate menjadi pencuri karena didikan ayah tiri nya? Tapi jika itu benar, bukankah akan terlihat lucu? Pencuri amatiran melatih Pencuri profesional yang legendaris. Menggelikan.
"Jadi, untuk apa dia kemari?" tanya Steven
"Sepertinya dia ingin membebaskan Kate, Tuan. Tapi entah kenapa Kate tidak mau ikut. Mungkin dia masih memikirkan ancaman kita."
"Itu sudah pasti. Tapi James, entah kenapa aku kurang suka saat kau hanya memanggil namanya saja."
glek
James menelan saliva nya kasar. Ucapan Steven terdengar seperti sebuah perintah yang harus dia lakukan.
"Ba_baik Tuan."
"Panggil wanita itu kemari!!!" titah Steven
__ADS_1
James membungkuk dan keluar dari ruang kerja Steven. Dia merasa jika Tuannya sudah mulai mempunyai perasaan pada Kate karena tidak biasanya Steven bersikap seperti itu pada orang yang baru di kenalnya. Tapi, bukankah itu bagus?
"Dimana Nona Kate?" tanya James pada para Maid.
"Ka_kami tidak tahu tuan."
James berdecak. Belum ada sehari dia sudah di buat gila karena harus mencari wanita itu. Walaupun Kate sudah mulai menempati posisi penting di hati Steven, tetap saja James waspada pada wanita itu. Apalagi Kate bukan orang sembarangan.
"Ada apa mencari ku?" Kate mendekat saat mendengar seseorang mencarinya.
"Tuan Steven mencari mu." seru James
"Untuk apa dia mencariku? Mau berbuat mesum lagi? Cih... Aku tidak akan menemuinya."
James menaikan kedua alisnya. Berbuat mesum? Apa telah terjadi sesuatu di antara mereka?
"Siapa yang kau bilang mesum, hah?" Semua menunduk mendengar suara Steven yang menggelegar kecuali Kate tentunya. Dia menegakkan kepalanya seolah tidak takut pada Steven.
"Tentu saja kau. Si mesum yang lancang mengambil ciuman pertama ku."
"Apa? Ciuman pertama? Cih... aku tidak percaya. Aku tidak yakin wanita sepertimu masih tersegel. Banyak wanita seperti mu di Bar. Dan kebanyakan mereka sok suci tapi sudah longgar." seru Steven
"Kau..."Kate menggeram kesal. Ucapan Steven sangat pedas. Dia bukan sok suci tapi memang dia belum pernah melakukan hal itu.
"Dengar baik-baik Tuan Steven yang terhormat. Walaupun aku wanita miskin dengan profesi kriminal, tapi aku sangat sangat sangat menjaga diriku apalagi dari pria seperti mu yang sudah biasa celup sana celup sini. Menjijikkan."
"Kau....
Steven tidak bisa berkata-kata. Itu merupakan penghinaan untuk nya. Dia pria terhormat dan tidak pernah melakukan hal seperti itu sembarangan.
Steven mendengus kesal. Ucapan Kate membuat moodnya hancur. Tapi itu hanya beberapa saat. Karena Kate sudah mengingatkannya pada sesuatu yang harusnya Kate lakukan.
"A_ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Kate mulai waspada. Apalagi tatapan Steven seperti binatang yang siap menerkamnya.
"Aku harap kau tidak melupakan tugasmu. Dan hari ini juga, kau harus membuatnya terbangun." Steven menarik Kate dan membawanya ke kamar.
"A_apa? Hai..!!! lepaskan aku!!" Kate terus memberontak dan berteriak. Tapi kekuatan Steven lebih besar dari nya. Dia hanya bisa pasrah saat Steven membawanya ke kamar. Ini adalah hari sial untuk nya.
James dan para Maid hanya bisa mematung melihat perdebatan keduanya. Ini pertama kalinya ada yang berani berdebat dengan Steven tapi nyawanya masih menempel di raganya. Bahkan Kate membuat Steven tidak bisa berkata-kata karena kalah berdebat. Sungguh sangat ajaib.
__ADS_1