
Puluhan prajurit dari Mojosongo tertangkap oleh Bagaspati dan pengawal Surogeni tapi mereka mohon tidak dibunuh hingga dikabulkan dan hanya ditawan. Sedang Lowo Ijo dan Kilimantra yang siluman dedemit tentu tidak semudah itu menangkap mereka. Karena itulah Surogeni menggunakan ilmunya untuk menyedot kedua dedemit itu masuk ke dalam botol.
"Ha ha ha.. kau pikir aku ini manusia sepertimu.Aku tidak bisa kau bunuh asal tahu saja"
"Baiklah aku juga tudak ingin membunuhmu"
"Hiiiiaaaahhhh"
Dua dedemit itu kadang lenyap kadang muncul sambil menerkam Surogeni yang mampu menghilang juga.
"Wuuuuusss!!"
"Heeeeaaaahh."
Surogeni kemudian mengangkat botol kaca itu keatas kepala sambil bacakan ajian Jolodemit.
"Wuuuuuussstt"
Dua dedemit itu seperti melayang diatas awan tetapi ujudnya menjadi kecil yang akhirnya tersedot masuk ke dalam botol yang dipegang oleh Surogeni.
"Ha ha ha..enakan di dalem botol kan?" kata Surogeni yang membawa botol itu dan menunjukkan pada Gusti Kertajaya.
"Inilah demit yang disuruh raja Mojosongo Gusti"
"Bagaimana pasukan yang lainnya Surogeni?"
"Sudah hamba masukkan ke dalam tawanan."
__ADS_1
"Ampuuunn Gusti. Tolong lepaskan hamba Gusti, hamba ingin hidup gustii."
"Enak saja kamu suruhan dari Ridegso untuk membangkang dan melawan Singosari harus dihukum mati." kata Kertajaya.
Begawan Sentanu yang melihat kejadian itu bergegas menghampiri Gusti prabu Kertajaya dan berbisik.
"Cobalah Gusti tanyakan apa demit Lowo ijo mau bekerja sama dengan Singosari?"
Kertajaya mengangguk - angguk paham maksud dari begawan Sentanu.
Singosari sudah punya pendekar yang handal seperti Kebo Marcuet dan Wiro Sabrang jadi tak gentar dengan ancaman dari kerajaan sekitar sungai Brantas. Surogeni yang sengaja bergabung karena ingin mengikuti saudaranya Wiro Sabrang tentu bisa dijadikan tameng pertahanan.
Kini dua pendekar demit sudah dalam tawanan Surogeni, sedang pendekar terdahulu sudah mati di tangan Wiro Sabrang.
"Sekarang ceritakan dulu apa maksud Ridegso menyerang Singosari setelah menolak lamaranya?"
"Sekarang kamu ingin bergabung dengan Singosari atau kumusnahkan dari muka bumi?" tanya Surogeni kepada demit dalam botol yg telah ditawan.
"Tentu saja hamba ingin bergabung dengan Singosari saja tuan."
"Baiklah kalau begitu, kalian akan kulepas, tapi kalian harus berjanji."
"Yah. Kami berjanji akan membela Singosari sampai mati" kata pendekar siluman yang ada di dalam botol.
***
Kedatangan Wiro Sabrang dan Maeso Danu disambut hangat oleh Gusti Kertajaya yang wanti- wanti ingin sekali mendapat oleh- oleh pusaka untuk kejayaan Kraton Singosari.
__ADS_1
"Bagaimana kabarnya putraku?" sambut Kertajaya sambil memeluk pendekar sakti itu.
Wiro Sabrang yang sudah menyiapkan sebilah keris yang dibungkus dengan daun pisang dan kembang mawar diberikan kepada Gusti Kertajaya. Kertajaya menerima bingkisan keris itu sambil tersenyum dan bangga. Akhirnya ia telah memperoleh yang diidamkan istana yaitu senjata pusaka. Sambil membuka bungkusan itu Kertajaya membacakan mantra agar kuat memegang dan ditempati oleh keris itu.
"Inilah keris Nogososro yang kuimpikan.. ha ha ha"
Kertajaya memegang keris itu dengan aman dan mengangkatnya keatas kepala dengan sangat bangga.
"Lalu bagaimana aku tahu keris ini bertuah atau tidak Wiro.?"
"Coba paduka dirikan diatas meja dalam posisi ujungnya sebagai kaki keris"
Kertajaya kemudian menuruti saran Wiro untuk mendirikan keris diatas meja. Ternyata berhasil dan keris memancarkan sinar kemilau yang sangat terang.
Namun kemudian Kertajaya seperti mengantuk dan jatuh di kursi tertidur pulas. Wiro Sabrang berpandangan dengan Maeso Danu yang bisa melihat kekuatan Keris pusaka itu dari sisi mistis.
"Biarkan saja Dimas Wuro. Itu pertanda ada komunikasi pemilik keris dengan Gusti Kertajaya."
"Yah, pasti Putri Muninggar hanya bisa bicara lewat mimpi dari Gusti Kertajaya."
Sesaat kemudian Kertajaya bangun sambil kembali memegang keris itu dan memeluknya seperti memeluk seorang wanita yang dicintai.
"Pemilik keris ini Muninggar.Seorang ratu pendekar pedang yang legenda Wiro. Ia telah bicara padaku untuk ikut menjadi keluarga Singosari." kata Kertajaya sambil meneteskan air mata. Wiro Sabrang agak heran kenapa ayahanda Kertajaya sampai menangis setelah bercerit bertemu dengan Muninggar.
"Aku terharu.. ternyata Muninggar suka tinggal bersama ayahmu Wiro!"
"Jadi?"
__ADS_1
"Terima kasih anakku!"