PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN 92


__ADS_3

Jiu Tong tidak menjawab pertanyaan prajurit dari Kahyangan toh ia tetap membela Istana Salaka Negara.


      "Benar, aku berasal dari Benua Utara, tapi kini aku adalah prajurit Salaka Negara." jawab Jiu Tong.


      Martani melihat kawannya dalam tawanan secepat kilat melompat menerjang kepala prajurit itu dengan jurus Sapujagat.


       "Hiiiiaaaaatttt!!"


       "Buk buk buk!"


      Lima prajurit dari Kahyangan tak mampu menghindar sehingga pukulan keras dari Martani mendarat ke leher dan kepala mereka . Jiu Tong terbebas hingga melompat menuju alun- alun dimana para penjaga garis depan langsung menghadang dengan tombak dan pedang di tangan mereka. Jiu Tong kini tidak sendirian walau anak buahnya sudah tewas terbunuh oleh pasukan dari Kahyangan yang rata- rata punya ilmu bela diri sangat tangguh.


     Untung Jiu Tong dibekali ilmu kebatinan yang diberikan oleh Sentanu sehingga mampu melawan musuh dengan sihir dan tenaga setan . Prajurit Kahyangan yang pandai bela diri itu takkan mampu menghadapi ilmu hitam yang dimiliki Martani atau Jiu Tong.


      Jiu Tong harus berani jibaku saat dikepung puluhan pendekar yang sangat tangguh. Andalan Martani adalah rawarontek yang sangat ditakuti kalangan pendekar karena bisa menyambung bagian tubuh yang terputus. Sedang Jiu Tong punya sapujagat yang mampu mengirim pukulan tanpa menyentuh.


      "Hiiiiaaaaatttt!!"


      "Heit!! Heitt !"


      "Wuuuuusssss!!"


       "Crass !!"

__ADS_1


       "Mampus kau!!"


      Prajurit dari Kahyangan itu berhasil menebas leher Martani hingga jatuh menggelinding ke tanah. Tapi Martani kemudian memungut kepalanya yang telah terputus itu dan diletakkan di lehernya yang berlumur darah.


       "Crepp!!"


     Martani kembali tersenyum sambil memainkan pedang menyergap lawan yang mulai ketakutan. Disaat itulah Jiu Tong melepas badai dahsyatnya dengan kedua tangan yang seolah mendorong ke depan.


      "Wuuuuuuzzzzz!!"


      Martani kembali mengerahkan badai api yang menghembus membakar lawan hingga kalang kabut. Melihat prajuritnya yang kewalahan tentu saja Kebo Kuning dan Maeso Giwang murka sehingga turun tangan menghadapi Jiu Tong dan Martani yang sedang berdiri mengirim tenaga dalam ke arahnya


      "Heeeeaaaahhh!!"


      "He he he..kalian belum tahu ya siapa penguasa istana Kahyangan." kata Kebo Kuning yang berdiri di hadapan Martani maupun Jiu Tong. Dua pengawal Wiro Sabrang itu hanya mampu membisu karena mulutnya telah terkunci santet.


     "Kalian akan kukembalikan kepada rajamu tetapi untuk menyerang. bagaimana kakang Maeso?"


     Maeso Gilang melihat kedua pengawal yang tak berdaya itu tidak setuju dengan maksud Kebo Kuning.


     "Biarkan saja mereka terpaku di alun- alun biar jadi mangsa prajurit kita Dimas Kebo Kuning"


     "Usulmu benar juga kakang, karena dengan begitu raja Wiro Sabrang akan datang kesini dan kita akan membunuhnya tanpa harus bersusah payah."

__ADS_1


      "Hiiiiaaaattt!"


     Maeso Gilang mengayunkan tongkat dan menenggelamkan kedua pengawal yang sudah tak berdaya itu ke tanah hingga terlihat hanya sebatas dada tertanam.


     Martani dan Jiu Tong hanya merasakan sakit yang tak terhingga ketika tubuhnya dipaksa masuk ke dalam tanah oleh tenaga dalam Maeso Gilang. Sedang kedua pendekar itu meninggalkan mereka menjadi korban amukan para prajurit Kahyangan.


      "Hancurkan saja!!"


      "Crak!! Buk Prak "


      "Cress!! Aaacch!"


****


     Anom Wiro Sabrang yang sudah mulai remaja bermimpi buruk dan mengutarakan kepada ibunya Putri Domas. Sedang ibunya hanya bisa menangis setelah kepergian Wiro Sabrang entah kemana. Anom Wiro dianjurkan menanyakan kepada begawan Sentanu yang lebih tahu soal impian dan firasat.


      "Bersabar saja Raden, karena ayahanda sedang bertapa di gunung Macan Putih."


      Tapi bocah sakti itu seperti sudah bisa membaca apa yang akan terjadi sehingga ia bergegas pergi. Anom Wiro yang sejak bermimpi itu merasakan tubuhnya dimasuki roh seorang pendekar dari jaman prasejarah. Tapi dalam mimpinya itu Anom menangis karena ayahnya meninggal.


     Tanpa banyak tanya bocah sakti itu melompat dan pergi dari istana ke arah dimana ayahanda Wiro Sabrang bertapa.


     Gunung Macan Putih itu tempatnya juga tidak tahu,tetapi bocah sakti itu melangkah saja mengikuti kata hatinya. Yang kini telah ada roh pendekar sakti yang menuntun. Bahkan Begawan Sentanu tidak bisa menunjukkan arah dimana letak gunung Macan Putih itu.

__ADS_1


__ADS_2