PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN 67


__ADS_3

Pendekar muda yang lahir dari tanah Jawa itu sebenarnya sudah yatim piatu ketika ditemukan oleh pendekar buta dari kaki gunung Lawu. Suro Gendeng masih terlalu muda untuk berkelana menghadapi banyak tantangan dari pendekar yang berjiwa iblis. Beruntung ia memiliki bakat baik sehingga Si Mata Malaikat yang buta itu mampu mengangkatnya menjadi seorang pendekar yang sangat mumpuni. Dalam perjalanan Suro bertemu dengan ular naga raksasa penunggu goa Selarong yang menghalangi  langkahnya. Ular itu bisa bicara seperti manusia sehingga meminta agar Suro membunuhnya, atau akan menjadi santapannya.


     Dalam pertarungan yang sangat dahsyat dan menguras semua ilmu yang didapat dari gurunya, Suro berhasil membunuh ular naga itu yang kemudian menjelma menjadi sebuah kapak yang kini dijadikan pusaka Suro Gendeng.


      Pusaka yang tidak lain adalah jelmaan dari Naga Api raksasa itulah yang memberi kekuatan gaib bagi Suro Gendeng untuk melawan pendekar iblis atau siluman. Berita tentang keberadaan raja iblis Calonarang telah sampai dan menggugah hatinya untuk melindungi rakyat kecil yang menjadi korban kebiadabannya.


      Bekel Martani yang sedih karena diinapi Suro Gendeng juga takut karena Suro  ternyata bukan bocah sembarangan yang bisa diremehkan. Bakan para pengawal dari raja iblis sudah dikalahkan.


      "Maaf kisanak. Saya sebenarnya merasa sedih semenjak diperintah raja yang baru ini. Tapi kami ini kan orang kecil." kata bekel Martani curhat kepada Suro Gendeng.


      "Tenangkan hatimu paman, aku pasti bisa melindungi kalian. Karena itu kewajibanku. Berdoalah kepada yang maha kuasa.Dewa agung pasti mengabulkan permintaanmu."


        "Itu orangnya Raden"


     Suara itu datang dari luar pendopo bale desa menunjuk arah Suro Gendeng. Ternyata diluar sudah berkumpul perangkat dari Adipati dan Bayan serta Jogoboyo. Mereka dengan beringas masuk pendopo dan menarik lengan Suro Gendeng.


      "Ayoh ikut aku"


    Suro menarik tangannya terlepas dari pegangan Jogoboyo dan duduk di bangku. Tapi Jogoboyo dan pengawal istana memaksa Suro dengan tamparan.


      "Plak!"


      "Krekk!!"


      "Kalian ini orang terhormat, kalau kalian dengan cara kasar aku tidak mau menghormati kalian." kata Suro Gendeng.


       "Kurang ajar!!"


      Jogoboyo nekat merasa benar dan memaksa Suro dengan memukul pakai kayu. Tapi Suro Gendeng menangkap kayu dan merebut, lalu balik memukul kepala Jogoboyo.


      "Tangkap dia" teriak seorang pengawal kepada Bayan dan pengawal.

__ADS_1


      Orang itu kalau sudah merasa paling benar dan berkuasa, biasanya tiran melakukan apapun kepada orang lain yang direndahkan. Mereka tidak peduli apakah sebenarnya Suro itu tidak bisa diperlakukan kasar seperti itu. Sehingga rombongan penguasa itu harus tumbang setelah kena pukul  Suro Gendeng.


        "Hiiiiaaaaatttt!!"


        "Trang Trang !!"


        "Auww!!"


       Suro Gendeng terpaksa menggunakan kekerasan ketika manusia itu tidak bisa diajak bicara baik- baik. Pedang mereka dipatahkan Suro Gendeng, sedang tangan Jogoboyo dipatahkan. Akhirnya mereka bukannya minta maaf minta dikasihani, tetapi mengancam sambil pergi dari bale desa .


      "Awas kamu, aku akan balik lagi dengan pasukan."


      Bekel Martani merasa tenang karena Suro Gendeng bisa mengatasi para prajurit suruhan dari raja Calonarang.


     ****


     Calonarang yang sedang berpesta dengan 20 gadis belia yang diberikan oleh Adipati dari Madura sangat murka mendengar aduan dari pengawal jika ada seorang pemuda desa Karang Wungu yang sangat sakti telah menghalangi para utusan dari istana.


      "Hamba tidak mampu bertarung melawan pemuda itu Gusti."


      "Sudahlah, aku gak mau tahu, Pokoknya hari ini kalian harus berikan aku 10 gadis bau kencur untuk jamu.Sudah sana pergi."


     Tentu saja Batikjoyo dan Wulu Landak sangat gusar dan galau nendengar Gusti Calonarang tidak bisa paham. Wulu Landak yang sudah terluka dan kehilangan pedang tak bisa berbuat banyak.


      "Wahai istriku yang cantik- cantik, aku tinggal dulu ya.. kalian yang rukun di taman sari." kata Calonarang beranjak keluar dari taman Sari menemui para ponggawa.


     "Sendika Gusti." jawab para selir itu bersamaan.


      Di setinggil sudah ditunggu begawan Sinduajj yang maha tahu segala yang akan terjadi. Tepatnya beliau adalah seorang nujum atau peramal yang sangat dipercaya Calonarang.


       "Bagaimana ini paman?Punya ponggawa kok goblok banget. Apa sih hebatnya orang desa sampai seluruh pengawal kerajaan besar seperti Mojopahit tidak bisa menangkap bocah itu."

__ADS_1


      Begawan Sinduajj yang sering bertapa dan mencari Wahyu tentu lebih bijaksana dalam berucap kata.


       "Ampuun Gusti. Sesungguhnya tidak ada yang lebih kuat dari pada kekuatan dewa penguasa alam Gusti."


       "Benar. Terus bagaimana pendapatmu jika anak desa itu menjsfi hantu yang ditakuti semua prajuritku. Apa maksudnya paman,?"


        "Anak desa itu sesungguhnya adalah Suro Gendeng pendekar sakti yang masih belia murid dari Mata Malaikat pendekar buta."


        "Mata Malaikat?" Gumam Calonarang yang kenal dengan nama itu.


        "Pendekar buta yang sangat legend itu telah mendidik seorang bocah yatim piatu setelah kedua orang tuanya mati dibunuh iblis  Maesanga."


       "Hmm aku jadi penasaran, seperti apa dia. Kalau memang dia sangat sakti, ajak dia ke Mojopahit, nanti kujadikan dia Senopati." kata Calonarang. Jelas itu menyinggung perasaan Senopati Giling Kebo yang langsung bangkit dan usul.


      "Biarkan hamba serbu desa Karang Wungu. Hamba siap menangkap orang kampung itu Gusti"


       "Bagus!  berangkat sekarang. Aku akan menyusul jika terpaksa."


      "Sendika Gusti, hamba minta doanya"


      "Ini baru ponggawa yang jentel." ujar Calonarang sangat bangga dengan sumpah Giling Kebo. Sinduajj melanjutkan ceritanya tentang Suro Gendeng.


      "Dia sudah punya pusaka berbentuk kapak yang berasal dari seekor naga hijau yang telah dikalahkan. Dengan kapak itu Suro Gendeng menjelma menjadi seorang bocah yang lihay dalam beladiri kungfu. Karena itulah prajurit paduka akan kalah dan kabur jika melawan Suro Gendeng."


      "Baiklah kalau begitu, aku akan kerahkan seluruh kekuatan kerajaan Mojopahit untuk menangkap bocah itu" kata Calonarang penuh murka.


     Sebenarnya sangat sedih Begawan Sinduaji mengatakannya.tetapi apa boleh buat jika Gusti Calonarang yang keras hati itu pasti sulit diajak berpikir jernih. Mungkin sudah waktunya Calonarang jatuh sehingga datang seorang pendekar belia yang tak pernah disangka. Sinduaji bisa melihat raut wajah rajanya yang murung dan tidak percaya ramalan begawan tua itu.


      "Suro Gendeng, ajalmu ada di tanganku Bangs*t"


     

__ADS_1


__ADS_2