
Istana Mojopahit mulai menjadi besar ketika seluruh kerajaan kecil sekitar sungai Brantas dan Trenggalek bergabung menjadi satu dan dikuasai oleh seorang raja siluman bernama Calonarang dari gunung Agung. Raja siluman Calonarang dikenal sangat sakti hingga bisa menakhlukkan setan di tanah itu. Raja- raja dan para Senopati yang telah ditaklukkan dijadikan prajurit atau pengawal jika mau mematuhi perintahnya. Ternasuk Kebo Marcuet dan Maesa Danu yang sudah dikalahkan terpaksa jadi abdi raja iblis itu. Singosari sudah tinggal kenangan saja bagi rakyat di kaki gunung Bromo. Maesa Danu yang tidak lagi memiliki pekerjaan tentu tidak punya pilihan selain menjadi ponggawa Calonarang yang datang dari pulau Dewa bersama pasukannya menguasai kerajaan di tanah Jawa.
Duka Kebo Marcuet yang telah dijajah oleh raja yang suka perang dan kawin tentu tidak sama dengan yang dirasakan pengawal dari Blambangan Minakjinggo yang malah ikut berpesta ria ketika diutus untuk mencari gadis desa yang akan dijadikan selir Calonarang.
Di desa Karang Wungu Kebo Marcuet sudah tiba bersama Minakjinggo di rumah bekel Martani. Bekel itu kepala desa yang berkuasa atas wilayah yang berpenduduk 1000 orang. Karang Wungu yang berada di lereng bukit itu berhawa dingin dan dikenal banyak gadis yang bekulit kuning serta cantik- cantik. Bekel Martani menjamu ponggawa kerajaan dengan pesta tayuban dengan penari tayub yang cantik- cantik.
Kebo Marcuet duduk paling depan disamping Minakjinggo dan tiga pengawal lagi agar dekat dengan atraksi tayuban. Bekel Martani sudah menyiapkan makanan serta minuman teh manis gula merah dan wedang jahe.
"Ting nong Ting nong"
Gamelan sudah ditabuh mengumandang diiringi nyanyian tradisional dari para sinden yang cantik dan muda. Tapi dibalik tarian itu ada seorang dukun yang memasang susuk serta rajah kepada para penari agar tetap terlihat muda dan cantik. Mbah Soma.
"Mangga mangga dinikmati hidangannya Gusti. Sambil menikmati tayuban dari desa"
"Boleh dong saya ikut joget bersama penari?" tanya Minak Jinggo.
"Ya tentu saja boleh . Kan ini semua disajikan untuk Gusti dari istana"
Senangnya Minak Jinggo yang langsung berjoget berhadapan dengan penari cantik dan muda Sisi. Penari tayub itu hanya berpakaian selembar kain jarik batik yang diikat dengan selendang sebatas bawah dada tanpa bra. Tentu saja mata para lelaki yang menonton tidak akan lepas dari pandangan indah itu. Apalagi Minakjinggo yang punya otak tidak jauh dari raja Calonarang. Ngeres.
"Plung Ting tak Ting plung Ting tak tingplung"
Suara kendang dan ganelan mengiringi gerakan pinggul Minak Jinggo dan para penari cantik itu hingga menambah hingar bingar suasana. Biasanya kalau bukan orang dari kerajaan pasti nyawer uang banyak kepada para penari lewat lekuk dada yang terbuka. Tapi saweran itu sudah ditanggung pak bekel Martani.
Siwi yang sangat muda itu tidak suka dengan Minakjinggo yang suka merayapi pinggulnya sambil menempelkan kumisnya yang tebal ke lehernya yang mulus.
Tapi suasana yang indah itu mendadak berubah menjadi geger menakutkan ketika angin menderu dengan sangat kencang disertai turunnya hujan yang sangat lebat. Langit cerah pun berubah menjadi gelap terselimuti mendung tebal.
"Ki Soma..bagaimana ini kok jadi hujan?" tanya bekel Martani.
"Ada musuh yang merusak acara." Kata pak Soma yang bisa pawang hujan.
"Pasti kamu salah hitungan hari atau saji Ki"
__ADS_1
"Duuaaarrrr!!"
Petir menyambar bersaut- sautan hingga membuat acara kacau. Kebo Marcuet sudah berfirasat lain kalau sudah begini biasanya ada setan yang jail. Itu lebih menyenangkan jika setan itu adalah musuh dari Calonarang. Kebo Marcuet jadi teringat Raden Wiro Sabrang yang pasti akan menumpas raja seperti Calonarang. Gumam Kebo Marcuet dalam hati.
Ledek atau penari berteduh dirumah bekel Martani ketika hujan turun. Minakjinggo yang sudah gatelen tidak kuat menahan hasrat hingga menggabung dengan ledek - ledek yang berteduh di rumah bekel. Ia mencari Siwi yang entah kemana bersembunyi. Tapi Siwi memang lebih suka berlindung didekat Kebo Marcuet yang muda dan tampan.
"Tolonglah Gusti, saya takut sama Gusti yang kumisnya tebal itu." bisik Siwi yang berada dibelakang punggung Kebo Marcuet.
"Brakk!!'
Tenda yang dipasang didepan bale desa itu roboh tertiup angin. Sedang pintu rumah bekel Martani didobrak seorang pemuda dengan kapak di tangan.
"Minggat kalian semua atau aku memaksa kalian dengan ini?" kata pemuda itu sangat kasar dan penuh amarah.
"Suro Gendeng!" gumam Kebo Marcuet sambil tidak berani melongokkan kepalanya. Karena ia kenal pemuda desa itu punya ilmu tinggi. Seperti yang diharap Kebo Marcuet bila ada seorang pendekar yang sakti mampu melawan Calonarang, maka ia akan bantu balik kepadanya.
"Hiiiaaatttt!!"
"Tolooong!!"
"Hiiiiaaaaatttt"
"Wedan tenan Kowe..!!" ujar Minakjinggo yang terkena tendangan Suro Gendeng. Wulu Landak yang sekarang sudah berubah menjadi liar ikut seperti yang dilakukan Minak Jinggo. Ia dengan sangat meremehkan lawannya yang dianggap pemuda desa biasa langsung menyabetkan pedang.
"Hiiiiaaaaatttt !!"
"Trang Trang Trang !"
"Aaaaauuuuww!"
Tapi Wulu Landak sangat terkejut bila pedang yang disabetkan kepunggung Suro Gendeng patah dan tubuh pemuda desa itu tudak terluka.
"Hiiiiaaaaatttt!!"
__ADS_1
Minakjinggo yang merasa diremehkan oleh anak ingusan itu tentu sangat gusar ingin membunuhnya dengan cara yang sadis. Dengan pedang pusaka Minak Jinggo menikam perut pemuda itu, sayang sekali Suro Gendeng bersalto dan membacok punggungnya dengan dahsyat.
"Crep!!"
"Aaaaack matiaku!!"
Minakjinggo roboh, pak bekel bingung mau berbuat apa. Suro Gendeng tidak kenal ampun menebas leher para pengawal dari Mojopahit yang ada dalam acara itu.
"Ampuun..jangan bunuh aku.. kata Wulu Landak dan Minak Jinggo yang tertatih- tatih karena punggungnya terluka.
"Ayoh..kalian minggat dari desa ini atau kubunuh semua." kata Suro Gendeng sambil mengacungkan kapaknya. Kebo Marcuet yang bersembunyi selamat dari bantaian Suro Gendeng. Minak Jinggo dan yang lain sudah kabur mengendalikan kuda ke istana. Tapi Kebo Marcuet masih tertinggal.
"Bagaimana ini kisanak, kalau nanti Gusti ratu datang marah- marah dan menghukum kami semua" kata bekel Martani kepada Suro Gendeng.
"Tenanglah pak, aku akan menginap dirumah ini sampai keadaan aman"
"Tapi ini masih ada ponggawa istana. Gusti Kebo Marcuet."
"Tenanglah paman bekel, saya kenal dengan Dimas Suro Gendeng." kata Kebo Marcuet.
"Kangmas pulang saja ke istana agar aman dari murka raja Calonarang" kata Suro Gendeng.
"Aku senang sekali melihat kamu datang dinas Suro Gendeng. Karena semenjak Gusti Kertajaya wafat, aku sudah tak ada yang kuikuti. Putra beliau yang membawa pusaka Nogososro malah minggat dan menjadi gila"
"Aku dengar Gusti Kertajaya dibunuh putranya sendiri. dan seluruh istana sudah dikuasai raja Ridegso."
"Siapa dia?"
"Raja Mojosongo yang akhirnya dicaplok Calonarang yang sekarang berkuasa."
"Ya sudah..sekarang kembalilah ke istana, lain waktu kita bertemu lagi"
__ADS_1
Suro Gendeng menginap di rumah bekel Martani untuk menjaga jika esok hari akan datang pasukan dari Calonarang.