
Desa Karang Wungu geger ketika pasukan dari Mojopahit yang dipimpin Giling Kebo melemparkan obor api ke atap rumah penduduk hingga terjadi kebakaran. Penduduk berhamburan keluar menyelamatkan diri dari kobaran api yang melalap rumah mereka. Sedang para wanitanya yang keluar ditangkapi oleh para prajurit sambil mengayunkan pedang menyerang pensuduk yang melawan.
"Serbuuuuu!!!!"
"Toloooong!!!"
Suro Gendeng sontak bergegas melompar ke arah sumber suara jeritan penduduk. Dari jauh saja sudah terlihat kepulan asap hitam membubung tinggi hingga menembus langit.
"Glegeerrrrr!!!"
Ledakan yang sangat dahsyat terdengar ketika Suro Gendeng melompat dan mengacungkan kapak diatas langit. Dari kapak pusaka itu terlihat cahaya biru yang sangat terang benderang dan membelah mendung diatas langit. Hujan deras disertai badai yang sangat dahsyat memadamkan kobaran api diatas rumah penduduk. Penduduk yang sudah berlarian keluar kembali berteduh di rumah mereka sambil berharap ada pendekar yang melindungi dari amukan para prajurit.
Giling Kebo sangat terkejut ketika usaha mereka membakar rumah penduduk desa Karang Wungu gagal. Sedang perjalanan mereka telah dihadang oleh seorang pemuda kampung dengan pakaian lusuh menggenggam kapak siap menyerang.
"Tangkap!!"
"Hiiiiaaaaatttt!!"
Pertarungan pun tak terelakkan antara Suro Gendeng dan para prajurit komplotan Giling Kebo. Pasukan yang sangat terlatih perang itu tentu berbesar hati saat menghadapi Suro Gendeng yang tampak seperti bocah kampung. Mereka sangat bernafsu ketika menyabetkan pedang ke tubuh Suro Gendeng.
"Trang Trang Trang !!"
"Ktekketek. krekk!"
Giling Kebo baru tahu jika bocah kampung yang direndahkan itu ternyata sangat kebal. Bahkan pedang anak buahnya ditangkap dan dipatahkan dengan mudah. Hal ini tentu saja membuat Giling Kebo naik pitam dan mundur selangkah untuk mengerahkan tenaga dalam.
"Hiiiiaaaaatttt!!"
"Aaaaaaccckk!!"
Puluhan prajurit yang dibawa Giling Kebo telah dirobohkan Suro Gendeng dengan mudah. Sampai penduduk desa yang melihat ikut membantu Suro Gendeng. Giling Kebo yang merasa keteter akhirnya mengerahkan ajian "Bayugeni"
"Hiiiiiaaaaatt!!'"
"Wuuuuuzzzzz!!"
Cahaya api yang keluar dari telapak tangan Giling Kebo dimentahkan ketika berbenturan dengan badai yang muncul dari kapak Suro Gendeng. Badai yang sangat dahsyat itu menderu menerbangkan apapun yang disambar. Termasuk tubuh Giling Kebo yang terdorong ke belakang hingga lebih seratus meter dan tertahan diatas rumah penduduk.
Giling Kebo bertatih - tatih ketika turun dari atas genteng katena dibawah sudah dikepung puluhan warga desa yang marah.
"Ampuuun..jangan bunuh aku.. aku akan pergi sekarang juga." kata Giling Kebo yang bergegas menaiki kuda kabur bersama prajurit. Suro Gendeng berdiri tegak diatas tanah batu di persimpangan ketika melihat iring-iringan kereta kuda dan prajurit yang menyusul datang ke desa Karang Wungu. Calonarang penasaran.
__ADS_1
Sebelum iring- iringan kuda itu sampai di desa Karang Wungu, Suro Gendeng sudah melesat terbang menjemput mereka.
"Hiiiiiaaaaaaattttt!!!*
Tentu saja rombongan prajurit berkuda itu sangat terkejut ketika yang datang menghadang adalah seorang pemuda kampung dengan tangan menggenggam kapak. Suro Gendeng tidak peduli mereka anggap apa, tapi ia tetap tegar melompat membabat para prajurit dengan kapak.
"Heh bocah edan !!"
"Hiiiiaaaaahhhh!!"
"Hep Hep Hep yaaaah"
"Waaaaaccchh!!"
Tersentak Calonarang ketika melihat hebatnya permainan silat Suro Gendeng hingga sekali sabet menjatuhkan dua tiga prajuritnya roboh.
"Minggggiiiiirr!!"
Calonarang yang sudah sangat marah melihat prajuritnya banyak yang roboh dengan anggota badan putus, maka ia melesat langsung menerjang Suro Gendeng dengan jurus ulartanah.
Suro Gendeng pun melayani dengan tenaga dalam Nyowogeni yang sangat mematikan. Kapak Nagaapi yang menjadi andalan Suro Gendeng berkelebat dan memancarkan sinar api yang sangat dahsyat. Tetapi Calonarang juga memiliki keris Nogowiso yang sangat ampuh.
"Bluaaaaarrrrr!!!"
"Hiiiiaaaaaattttt"
"Auww!!"
Serangan Suro Gendeng yang mengandalkan pusaka kapak itu terdesak dan mental ketika kepalan tangan Calonarang menggenjot dada pemuda sakti itu. Suro Gendeng pun terpental jatuh hingga 100 meter.
"Ha ha ha..matilah kamu bocah gila" kata Calonarang sambil melompat menikam dada Suro Gendeng dengan keris Nogowiso yang ternyata hidup seperti ular yang menyemburkan bisa dan menggigit.
"Crass!!"
"Hiiiiaaaahhhh!!"
Keris pusaka itu sangat cepat menjulur menikam dada Suro Gendeng yang terkapar seperti kehilangan tenaga. Tapi di saat yang sama Wiro Sabrang telah datang lebih cepat hingga menghadang terjangan Calonarang.
Calonarang terbeliak matanya ketika didepan matanya sudah berdiri sosok pendekar yang legend itu. Pandangan mata raja iblis itu mendadak meredup ketika bertemu dengan tatapan mata Wiro Sabrang.
"Wiro Sabrang" ucap Calonarang sambil meremas jemarinya hingga terdengar gemeretuk tulangnya. Baru kali ini ia bertatap muka dengan pendekar yang pernah ia impikan. Betulkah ini pendekar purba yang tidak bisa dikalahkan? gumam Calonarang di dalam hati.
__ADS_1
"Tidak malu kamu bertarung dengan anak kecil sobat?"
"Harusnya kisanak tahu kenapa aku harus turun tangan sendiri, padahal aku punya prajurit dan pengawal yang handal"
Wiro Sabrang melirik sejenak ke arah bocah Suro Gendeng yang sudah bangun dan berdiri di sampingnya. Bocah itu memang terlihat polos, tetapi garis wajahnya menunjukkan jiwa ksatria yang agung.
"Maaf kakanda, biarlah saya hadapi raja iblis ini." kata Suro Gendeng yang masih bersemangat mau bertarung melawan Calonarang. Tapi Wiro Sabrang melarang karena Calonarang bukan manusia biasa. Wiro tahu itu dari Sentanu sebelum datang ke istana Mojopahit.
"Minggirlah Dimas. Ini bukan lawanmu"
"Nah.. kalau kamu mau adil, biarkan saja dia bertarung melawan aku."
"Kamu curang kisanak."
"Baiklah..aku juga tidak segan bertarung denganmu Wiro." kata Calonarang yang bersiap mengerahkan tenaga dalam dan ambil merapatkan keris pusaka ke dada. Lalu ia dorong keris itu kedepan dengan mulut menghembuskan angin keras.
"Huuuuaaaaahhhh!!!"
"Wuuuuuuzzzzz!!!"
Wiro Sabrang juga kerahkan tenaga angin untuk melawan semburan api dari mulut Calonarang. Tapi serangan Wiro Sabrang tidak secepat gerakan keris Nogowiso milik Calonarang yang menjulur seperti lidah ular merobek pakaian Wiro Sabrang.
"Hiiiiaaaaatttt!!"
Ternyata raja iblis itu tidak main- main ketika menghadapi Wiro Sabrang yang ia kenal pendekar purba. Calonarang sudah bersiap diri menantang sang pendekar legend dengan ilmu gaibnya. Wiro Sabrang sampai kehilangan waktu untuk mengelak ketika keris pusaka lawannya bergerak sendiri menikam dan menyemburkan api, sementara raja iblis itu berulang kali memukul Wiro Sabrang dengan pukulan setan.
"Mampus kau Wiro"
"Hiiiiaaaaaattttt!!!!*"
Baru kali ini Wiro terdesak dan tak berdaya diserang lawan pendekar bumi yang berilmu iblis. Saat Wiro terlempar ke belakang itulah Suro Gendeng menebaskan kapak mautnya ke kepala Calonarang.
"Hiiiiaaaahhhh"
"Bluaarrrrr!!!"
Ledakan dahsyat kembali membahana ketika kepala raja iblis hancur berkeping terkena tebasan lapak Suro Gendeng. Calonarang tidak mati dan tetap berdiri tegak sekalipun tanpa kepala. Wiro Sabrang baru tahu betapa Suro Gendeng bukan bocah kecil lagi.
"Hiiiiaaaattt hiaaaatt!!"
Seperti kesetanan saja Suro Gendeng menghancurkan tubuh raja iblis itu hingga akhirnya lenyap ujudnya berubah menjadi gumpalan asap putih. Wiro bersalto dan berdiri didepan Suro Gendeng yang telah menyelesaikan tugasnya.
__ADS_1
"Terima kasih Dimas."
"Saya yang berterima kasih kakanda"