
Di sebuah desa yang sejuk dan indah pemandangannya Wiro menghentikan langkah karena mengikuti jejak Zui Shen yang ditemuinya di warung. Zui Shen atau Dewa Mabok itu sebutan pemuda yang waktu itu sedang mabok di kedai dan menjadi pahlawan membela kebenaran. Wiro Sabrang penasaran kenapa ia disebut Zui Shen oleh penduduk setempat. Apakah memang ia seorang pendekar yang sangat sakti karena sering mabok atau hanya olok- olok orang untuk melucu. Di saat Wiro duduk diatas sebongkah batu besar ditepi jurang yang dibawahnya ada desa,mendengar sayup- sayup suara keributan. Seperti seseorang yang menangis dan yang lain membentak- bentak. Wiro Sabrang penasaran melompat menuju sumber suara jeritan itu.
Sesampai di lokasi dimana terlihat sebuah rumah berpagar kayu setinggi 3 meter yang dijajar rapi, suara jeritan dan pertengkaran itu makin jelas.
"Jiu Tong! Papahmu punya utang banyak harus bayar sekarang!"
Wiro mengintip dari celah kayu pagar itu melihat di dalam sudah ada 2 orang lelaki berambut panjang dan berkumis menuding pemuda yang dijumpai di kedai makanan. Lelaki itu sangat marah kepada pemuda itu sambil menunjuk seorang tua yang dirangkul oleh si pemuda yang disebut Jiu Tong.
"Papahmu seumur hidup tidak pernah bayar pajak kerajaan. Kenapa kamu bela hah ?" kata salah seorang lelaki yang berambut panjang dan tubuh tinggi.
"Hiiiiaaaattt!!"
"Bukk Bukk!!"
Jiu Tong kena tendangan keras hingga papahnya lepas dari pegangan tangannya dan jatuh. Tapi tamu- tamu itu malah menendang papahnya yang sudah tua renta itu hingga menangis.
Wiro Sabrang tidak tega melihat peristiwa itu hingga ia melompati pagar masuk ke dalam pekarangan Jiu Tong.
"Hentikan!!"
Kedua tamu berambut panjang itu bergegas menoleh ke belakang memandang kehadiran Wiro Sabrang.
"Siapa kamu, dan apa urusanmu datang kemari?"
"Kamu tega sekali memukul orang tua yang tidak berdaya."
"Orang tua ini sejak hidup didesa ini tidak pernah membayar pajak kepada kerajaan"
"Kerajaan apa?"
"Kerajaan apa? Ya kerajaan yang menguasai desa ini, Kamu siapa hah ikut campuri urusanku?"
"Aku hanya warga sini, aku ingatkan jangan pukul orabg tua itu lagi."
__ADS_1
"Hhaaah tidak peduli"
Orang tua itu kembali ditendang dan diinjak perutnya oleh dua orang yang mengaku orang kerajaan. Tapi Wiro Sabrang tidak membiarkan mereka terus menyiksa si orang tua. Wiro langsung turun tangan menyerang tamu bertubuh kurus tinggi itu dengan pukulab keras.
" Hiiiiaaaaatttt!!!"
"Hiiiiaaahhh!!"
"Aaaahh!!"
Orang bertubuh kurus tinggi itu ternyata seorang pendekar terlihat dari gerakan kakinya yang sangat cepat dan tubuhnya seperti kebal.
"Ayoh serabg aku dengan senjatamu !!"
Wiro yang merasa diejek karena pukulannya tidak menyakiti tubuh lawan mulai mengerahkan tenaga dalam yang diisi ajian Bayu saketi .
"Hiaaahh hiaaahh!!"
Dua orang pendekar berambut panjang itu terjungkal dan meregang karena teekena pukulan Wiro Sabrang yang sangat keras dan mematikan. Namun mereka langsung bersalto dan kembali menywrabg Wiro dengan menggunakan pedang. Mata mereka menatap gerakan Wiro Sabrang yang sangat cepat mengayunkan golok setan.
"Wuuuuzzz!!!"
"Bukk bukk"
Pedang kedua tamu tak diundang itu terlepas dari tangan ketika pedang mereka ditebas golok setan hingga patah. Dua pendekar itu terjungkal dan membentur pokok kayu penguat pagar. Wiro terus mendesak dengan ayunan goloknya hingga kedua lawannya tak mampu lagi bergerak.
" Ampuuun..jangan bunuh akuuu.." kata pendejar itu setengah menangis.
"Cepat pergi dari tempat ini. Awas kalau kembali lagi"
Kedua orang itupun langsung kalang kabut melarikan diri. Wiro Sabrang akhirnya menghanpiri Jiu Tong yang seperti menangis merawat papahnya yang sedang sakit.
"Terima kasih tuan"
__ADS_1
Wiro Sabrang tampak tersenyum girang melihat Jiu Tong menggendong papanya untuk diletakkan diatas ranjang.
"Namamu Jiu Tong ya?"
" Betul tuan."
" Jangan panggil aku tuan, tapi kakak saja" kata Wiro Sabrang.
"Aku lihat jurus kungfu kamu bagus, kenapa tadi tidak kamu lawan pendekar- pendekar itu?"
"Didalam ada adik- adik yang masih remaja sedang membuat ciu/ miras takut kalau keluar malah dibawa lari orang tadi."
"Membuat Ciu?"
"Yah, papah kan pedagang ciu, makanya dijuluki Zui Shen karena sering mabok. Sama seperti aku"
Wiro tersenyum lagi ketika ikut merawat sakitnya papah Zui Shen. Wiro mencoba menempelkan telapak tangannya ke punggung papah Zui Shen yang tengkurap, lalu menyalurkan hawa panas masuk ke dalam pembuluh darahnya. Jiu Tong membulatkan matanya ketika melihat ada sinar terang yang keluar dari telapak tangan Wiro Sabrang membias tubuh papahnya. Kemudian Wiro seperti membacakan mantra dan menggerakkan tangan mencabut sesuatu dari kulit punggung papah Zui Shen.
"Hiiiiaaahhh!!'"
" Sudah sembuh pah?"
"Yaah..aku sudah sehat." kata papah Zui Shen yang mulai bisa bangun berdiri. Lalu laki- laki tua itu berlari kecil dan melompat seperti menendang - nendang.
"Bagus gerakannya."
"Papah dulu suhu perguruan kungfu kakak"
Pantas kalau disebut dewa mabok oleh orang kampung. Ternyata Zui Shen punya pabrik miras dan guru bela diri. Kata Wiro Sabrang dalam hati.
Diatas pintu rumah mereka juga terpasang papan nama bertuliskan Perguruan bela diri Elang Putih.
__ADS_1
白鷹學校 ( Perguruan Elang Putih)