
Pasukan Maespati sudah merangsek ke wilayah timur sehingga penduduk desa sekitar gunung Bromo resah. Ada lima orang pendekar dari Maespati masuk desa wilayah Singosari untuk menarik pajak bumi dan memaksa penduduk untuk memberi harta bendanya. Tentu saja itu sangat meresahkan warga dan melapirkannya kepada penguasa kerajaan Singosari.
"Siapa kalian?" tanya penjaga gerbang kepada penduduk gunung Bromo yang datang.
"Kami warga dikaki gunung Bromo, mau melaporkan jika di daerah kami ada prajurit Maespati yang memaksa penduduk untuk membayar pajak"
"Hmm..ya sudah ayo aku antar masuk ke istana." kata Bawor sambil mengantar kedua warga desa itu menghadap raja.
Kedua warga Bromo itu sudah duduk bersila dan menyembah kepada sinuhun Kertajaya.
"Katakan apa yang kamu ketahui tentang tentara asing itu."
"Ampuun Gusti, hamba ingin melapor kalau akhir- akhir ini desa kami dimasuki tentara dari Maespati untuk meminta pajak dan menyiksa kami jika menolak"
"Maespati?"
"Betul Gusti."
Seketika Gusti Kertajaya marah dan membulatkan mata memandang para pengawalnya yang duduk berjajar dikiri dan kanan singgasana.
"Renggo, Gagak Rimang, periksa desa Bromo. Bawa pasukan untuk menangkap mereka." perintah Kertajaya.
"Sendika dawuh Gusti"
"Sudah kalian pulang saja. Hati- hati di jalan"
"Maaf kami telah lancang melapor gusti."
__ADS_1
Kertajaya sangat marah bila kerajaan Maespati sudah berani masuk ke wilayah Singosari sama juga mereka menantang perang.Pikir Kertajaya.
"Ini tidak bisa dibiarkan Sentanu."
"Yah, hamba kira paduka sudah mengambil putusan yang tepat." kata Sentanu.
Sementara itu diruang berbeda Singoyudo menyelinap ke gudang penyimpanan senjata pusaka Nogososro milik istana untuk mencurinya. Ruang yang hanya diketahui ayahanda Kertajaya itu tentu bisa ia masuki dan bongkar peti penyimpan senjata pusaka.
***
Benar apa yang dilaporkan warga Bromo jika tentara Maespati sudah berpatroli mengelilingi desa di kaki Bromo sambil menyandang pedang dan panah. Kepala Desa Mijan sudah mengumpulkan warganya di bale desa untuk berbicara langsung dengan Motojaran dan Sondobelo.
Seorang pemuda yang tidak mau bayar dan mencoba melawan telah disiksa oleh Sondombelo.
"Ayo kumpulkan semua pembangkang disini."
"Bukk!!"
"Ampuun"
"Ayo mau kubunuh kalian hah? Kalau tidak mau disiksa, ya nurut sama aku"
"Hiiiiaaaaattt"
"Heit ! Heit!! Aaach"
Tiba- tiba pasukan dari Gagak Rimang datang membawa kuda dan menyerang gerombolan pemalak dari Maespati. Sondombelo dan .Matajaran tak mampu melarikan diri.
Pertarungan dua kubu kerajaan Maespati dengan kubu Singosari pecah. Sondombelo yang sudah mengikat puluhan penduduk desa untuk disiksa harus menerima ganjaran pukulan dari Gagak Rimang.
__ADS_1
"Oo jadi kamu ya yang jadi begal rakyat Singosari?"
"Yah mau apa kamu?"
"Kurang ajar!! Minggat kalian dari bumi Singosari?!"
"Hiiiaaaaattt!!"
Gagak Rimang yang terdesak oleh serangan Motojaran melompat keatas dahan durian yang tinggi. Sedang Motojaran yang berilmu cukup tinggi mengejar dengan bersalto dan mengayunkan pedang ke tubuh Gagak Rimang.
"Crakk!!"
"Hiiiiaaatt!!"
Pukulan Gagak Rimang yang punya tenaga dalam itu cukup kuat mendarat dibperut lawan sambil menangkap pedangnya. Pedang Motojaran yang tajam itu tak berarti apa2 dalam genggaman tangan Gagak Rimang. Sedang tendangan kakinya cukup keras menghunjam perut Motojaran hingga ia tumbang jatuh ke tanah.
"Brukk!!"
Melihat kawannya terjatuh dengan leher terbabat pedang, Sondombelo membulatkan mata sangat terkejut. Gagak Rimang sudah berdiri dihadapannya. Warga Bromo yang merasa ada bantuan dari Singosari bersorak memburu prajurit lain dari Maespati. Sondombelo harus berhadapan dengan Gagak Rimang dan Renggopati yang sudah siap menghunus pedang. Sondombelo yang melihat sahabatnya Motojaran sudah tergeletak bersimbah darah menjadi ketakutan. Ia dengan cepat melompat keatas kudanya untuk melarikan diri. Sayang sekali Renggopati yang sudah siaga itu melompat menangkap tubuh Sondombelo dan mengikatnya. Sedang Gagak Rimang menghentikan kuda dengan membabat kedua kakinya hingga roboh.
Sondombelo diikat ramai- ramai oleh warga desa dan dinaikkan keatas kuda. Dengan begitu Gagak Rimang bisa pulang ke istana membawa barang bukti tawanan perang Sondombelo
"Sekarang ambil semua barang- barang kalian dari bale desa"
Penduduk sangat girang.karena telah terbebas dari begal Maespati. Sedang Gagak Rimang dan pasukannya pergi sambil membawa tawanan Sondombelo.
Renggopati masih berjaga di desa itu untuk mengantisipasi jika para prajurit Maespati kembali datang. Renggopati juga memberi tugas kepada penduduk yang masih muda untuk menjaga dan melindungi desanya dari penjahat.
.
__ADS_1