PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN 35


__ADS_3

Suasana di desa Karang Asem di kaki gunung Bromo masih belum kondusif karena desa yang merupakan perbatasan wilayah Gunung Barat dengan Kali Brantas memang sering dijadikan pangkalan para perampok dan orang- orang utusan dari Maespati atau Mojolegi yang bersebelahan dengan Mojosongo. Renggopati yang piket menunggu pos jaga di bale desa Karang Asem didukung lima orang prajurit dan beberapa pemuda desa ternyata masih kecolongan juga oleh begal yang datang di saat warga beranjak tidur.


"Rampok!! Rampokk!!"


Teriak warga di pinggir desa berbatas bukit kapur. Renggopati yang sudah siaga di pos bale desa terbangun dan bergegas menuju arah sumber suara.


"Di kaki bukit kapur Gusti" kata seorang warga.


Renggopati dan prajurit langsung memacu kudanya menuju sumber suara.


Ternyata disana sudah mulai serangan yang berupa pembakaran rumah warga dengan cara melempar bambu yang diisi minyak jarak dan dibungkus gombal yang dibakar lalu dilempar keatas atap rumah penduduk.


"Tolooong!! Tolooong!!"


"Ha ha ha..ayo kalian keluar semua kalau tidak ingin mati terpanggang!!"


Melihat asap mengepul dan kobaran api yang sangat dahsyat membuat Renggopati marah hingga ia kirim aji Bayusegara yang sangat cepat menghembus badai es yang sangat dahsyat memadamkan kobaran api diatas atap rumah penduduk.


"Wuuuuuzzzzz!!!"


"Bluaaaarrrr!!!"


Petir yang menyambar bersaut- sautan membuat para perampok itu panik karena tidak ada mendung tetapi tiba- tiba muncul badai yang sangat dahsyat.


"Kurang Ajar!!" bentak Renggopati sambil menebas pedang ke tubuh kepala rampok.

__ADS_1


"Trang!! Trang!!"


"Mampus kamu tikus!!"


"Hiaaaattt!!"


Pertarungan antara pasukan Renggopati dan para perampok pecah. Renggopati yang sudah memantek aji dan ayunkan pedang membuat para perampok itu kocar-kacir.


"Ayo ngaku, siapa kamu dan dari mana asalmu hah?"


Seorang perampok yang berambut panjang dengan kepala diikat kain putih tertangkap Barongan ketika hendak melarikan diri.


Sementara itu ketua rampok sudah dibunuh Renggopati karena menyerang dengan pedangnya dan telah melukai warga. Melihat ketuanya sudah terkapar berlumur darah, para perampok itu berlutut di kaki Renggopati.


"Ampuun tuanku, jangan bunuh aku.."


"Hamba dari Maespati disuruh Gusti raja untuk membuat keonaran di seluruh desa wilayah gunung Bromo."


"Baiklah. Aku tidak membunuhmu tetapi akan kuserahkan kepada Gusti Kertajaya." kata Renggopati sambil mengikat kedua tangan perampok itu dan dibawa ke Bale desa untuk diserahkan ke istana Singosari besok.


****


Kertajaya sedang berembuk dengan begawan Sentanu serta Wiro Sabrang untuk membicarakan ancaman yang datang dari luar istana sesuai dengan impian. Ketika itu Singoyudo sudah mengendap-endap dalam kamar untuk menemukan peti yang berisi pusaka Nogososro untuk dicurinya. Singoyudo yakin bila ia bisa memegang pusaka itu ia akan menjadi pendekar yang sangat ampuh karena di dalam pusaka itu ada roh Putri pedang yang legenda. Singoyudo yakin kekuatan Keris pusaka yang disimpan ayahanda Kertajaya luar biasa. Jika ia bisa memiliki, pasti ia jadi sangat sakti seperti Wiro Sabrang.


Sementara itu di pagelaran sedang serius membicarakan strategi Singosari untuk menghadapi perang besar yang akan pecah.

__ADS_1


Kedatangan Renggopati yang membawa tawanan seorang rampok tentu sangat mengejutkan sekaligus membuat Kertajaya girang.


"Hhmm itu siapa lagi yang dibawa Renggo?" gumam Kertajaya lirih.


Semua mata menoleh tertuju kearah Renggopati yang setelah mencincang kudanya dibawah pohon beringin, menuntun tawanan dari Maespati.


" Ini rampoknya Gusti"


"Hmm" deham Kertajaya. Wiro Sabrang tidak perlu turun ke lapangan kalau cuma berhadapan dengan rampok kelas teri. Tapi semua ponggawa yang hadir memandang kearah tawanan yang duduk bersila dengan kedua tangan terikat dipunggung.


"Katakan kamu berasal dari mana dan apa tujuanmu merampok desa wilayah kekuasaan Singosari?"


" Ampuun Gusti tuan, hamba sebenarnya prajurit dari Maespati yang diperintahkan untuk mengacau wilayah perbatasan dan tetutama wilayah Singosari dan Brantas"


"Gila!! Gila sekali Turonggo!! Dia ingin menantang perang dengan Singosari" kata Kertajaya dengan wajah berapi,- api penuh emosi.


"Sabar Gusti. Mungkin itu cuma alesan rampo itu"


"Alesan bagaimana? Kalau ia sudah mengaku dari Maespati berarti memang Turonggo berniat menantang perang."


"Begini Gusti, beri saja hadiah kepada rampok itu,dan pulangksn ke istana Maespati" bisik Sentanu ke telinga Kertajaya. Tentu Kertajaya tidak paham dan memandang ke mata Sentanu."Maksud Bopo?"


"Dengan begitu, ia akan mengabarkan bahwa Singosari itu baik hati, dan prajurit itu pasti dibunuh dan Pasukan Burisrawa datang ke Singosari untuk menyerang." bisik Sentanu.


Kertajaya mengangguk paham dan melskukan apa yang disarankan Sentanu.

__ADS_1


"Karena engkau jujur, aku berterima kasih dan menghadiahkan kamu uang dan sampaikan salamku kepada rajamu."


"Ohh terima kasih Gusti sesembahan hamba. Hamba pasti akan menyampaikan salam paduka kepada Gusti Burisrawa."


__ADS_2