PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN 89


__ADS_3

Reinkarnasi Pendekar Golok Setan itu benar- benar terujud ketika Wiro Sabrang tidak lagi memiliki kesaktian seperti semula. Namun Wiro Sabrang terus menanyakannya kepada gurunya Antaboga dan begawan Sentanu yang lebih tahu tentang supranatural dan tafsir firasat. Begawan Sentanu yang dituakan dalam istana Singosari sampai ke tatar Pasundan tentu lebih tahu perihal gaib yang akan terjadi.  Bagaimana mungkin seorang bocah umur 10 tahun mampu mengalahkan pendekar langit yang datang dari benua Utara yang sangat sakti itu. Bagaimana mungkin kelahiran Anom Wiro Sabrang telah dikabarkan ke seluruh dunia persilatan sebagai lahirnya seorang pendekar abadi? Anom baru lahir, sudah kedatangan tamu para ketua sekte Naga Putih yang ingin bergabung dan anggota sekte Naga Hitam yang ingin bertarung melawan Anom.


     "Benar yang dikatakan dewa Brahma lewat firasat bila telah lahir seorang ksatria yang memimpin sekte Naga Putih di tanah Jawa. Ksatria itu bernama Wiro Sabrang seperti namamu. Bukankah kamu sebenarnya jasad bocah Singosari yang dibunuh ibu tirinya itu? Dan Wiro Sabrang adalah pendekar abadi di jaman purba. Kini roh pendekar besar itu telah berpindah ke dalam tubuh putramu." bisik Antaboga. Wiro Sabrang terdiam mendengar bisikan gaib itu.


     "Lalu buat apa lagi hamba hidup jika tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengusir para iblis yang menindas manusia?"


      "Tidak hilang sekarang. Engkau masih sakti seperti sebelumnya. Menunggu saat putramu dewasa hingga punya pikiran yang stabil dan Waskita. Kemarin hanya ingatkan kamu jika nanti sudah ada pendekar yang lanjutkan perjuanganmu. Dia adalah putramu sendiri."


      Wiro Sabrang sadar jika dirinya adalah jasad manusia yang dimasuki roh pendekar sakti. Sedang putranya jelas - jelas seorang manusia hidup yang punya umur panjang serta kuat menerima ilmu serta kekuatan gaib dari roh seorang pendekar besar.

__ADS_1


     "Anom..dimana Diajeng?" tanya Wiro Sabrang ketika hendak makan tidak melihat putranya.


      "Tadi sedang berlatih kungfu di halaman kakang"


       Wiro Sabrang penasaran ingin melihat kegiatan putranya hingga sering di dalam ruang semedi berhari- hari. Baru sampai di teras kamar belakang, terlihat putranya sedang ******* ***** batu kali seperti meremas tanah liat saja. Betapa hebat tenaga bocah itu yang menganggap batu seperti lumpur. Apa jadinya kalau meremas kepala manusia! Gumam Wiro Sabrang dalam hati. Dari kejauhan Wiro memperhatikan putranya yang mondar- mandir dari luar tembok masuk ke dalam tembok tanpa harus membuka pintunya. Benarkah putranya adalah reinkarnasi pendekar purba itu? Lalu Wiro berpikir tentang dirinya yang malah tidak bisa menembus tembok tanpa membuat lobang untuk lewat. Apakah pendekar purba itu seperti putranya juga? Tubuhnya tidak cuma lentur, tetapi larut di dalam hembusan angin.


      "Anom..makan dulu gih"


      "Tidak boleh begitu. Nanti tubuhmu sakit lho"

__ADS_1


       "Tidak ayah. Hamba sudah lakukan selama 20 hari juga tidak sakit" kata bocah itu lagi.


      Wiro Sabrang memandangi dengan penuh kekaguman. Betapa tidak seorang bocah telah mampu menahan hawa nafsu selama 3 Minggu dan melanjutkan hingga 6 Minggu berpuasa.  Orang tua biasa tidak sanggup melakukannya. Wiro mengangguk- angguk percaya bila putranya memang punya kekuatan gaib supranatural. Benar kata Antaboga dan Sentanu jika putranya adalah reinkarnasi pendekar besar yang kini berada dalam tubuhnya. Wiro Sabrang reborn.


      "Berpuasa itu untuk menahan hawa nafsu ayah, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga." kata Anom yang sedang menari diatas tambang yang diikat dari pohon satu ke pohon lain. Lalu, bocah itu perlihatkan kemampuan berjalan diatas air kolam di belakang istana.


      Wiro Sabrang semakin kagum ketika melihat putranya yang sudah memiliki ilmu meringankan tubuh tanpa guru, dan tenggelamkan tubuh ke dalam bumi. Wiro Sabrang bangga sekaligus kagum berdecak sambil tersenyum.


     "Sudahlah ayah makan bersama ibunda, jangan rusaukan hamba. Hamba bisa menjaga diri kok."

__ADS_1


      "Batu keras jangan buat mainan." kata Wiro Sabrang mengingatkan putranya. Dan yang dikatakan seperti diijini dewa. Batu yang sedang diremas putranya jadi keras. Anom menoleh kepada ayahnya. Wiro Sabrang lega jika ilmu kesaktian  masih ada dalam tubuhnya. Buktinya apa yang diucapkan bisa terkabul.


__ADS_2