
Anom Wiro Sabrang itu kini sudah nampak sangat mirip dengan sifat- sifat yang dimiliki ayahnya. Karena sebelum wafat, Wiro Sabrang sudah mendapat firasat jika arwah pendekar sakti itu akan masuk kedalam raga Anom. Seperti yang kini dilihat dan dirasakan betapa pendekar remaja itu punya aura pendekar langit yang mumpuni. Kebo Kuning yang sudah terdesak karena serangannya tidak mampu menjatuhkan lawannya yang tidak bisa dianggap remeh. Ternyata nama besar Wiro Sabrang tetap dipertahankan oleh bocah sakti itu sehingga Kebo Kuning memilih menyerah daripada harus mati sia- sia ditangan pendekar sakti itu.
"Ampuuun Gusti Wiro Sabrang, aku menyerah kalah dan siap menerima hukuman apapun asal jangan bunuh aku." kata Kebo Kuning yang kini berlutut di bawah kaki Anom Wiro Sabrang.
"Baiklah kalau begitu, mulai saat ini perintahkan seluruh rakyatmu untuk patuh kepada semua perintah dan aturan dari Salaka Negara. Kahyangan itu wilayah kekuasaan Salaka Negara dan Pejajaran." kata Wiro Sabrang muda.
Sementara itu di dalam istana yang kini tidak lagi memiliki pengawal sakti seperti Jiu Tong dan Martani masih berbela sungkawa. Ada dua puluh prajurit yang gugur di dalam perjalanan ke istana Kahyangan. Sedang Kebo Kuning kini jadi tawanan yang harus menyesuaikan diri dan menggantikan posisi Jiu Tong. Kebo Kuning sudah pasrah karena ilmunya tak dapat menandingi kesaktian Wiro Sabrang muda.
__ADS_1
***
Begawan Sentanu sudah membaca firasat dari mimpi yang dirasakan Anom Wiro Sabrang yang menjadi kenyataan bila Gusti Wiro Sabrang wafat. Tetapi Sentanu sudah tahu jika roh dari pendekar legenda itu tidak pergi ikut dengan Gusti Wiro sepuh melainkan masuk ke dalam raga Anom Wiro Sabrang.
Namun begitu Sentanu tetap menjadi pendamping yang senantiasa memberi arahan dan nasehat kepada raja muda itu. Karena Anom masih terlalu muda dalam menjalankan kebijakan kerajaan. Walau dalam olah Kanuragan dan kesaktian sudah lebih mumpuni dari pendekar dewasa seperti Zui Shen atau Maeso Danu. Bahkan pasukan kuat seperti Kebo Kuning yang awalnya meremehkan, kini tunduk dan pasrah menjadi budak Salaka Negara.
Namun begitu Adiyaksa dan Senopati Jaka Umbaran sudah ikut membantu untuk merekrut para pemuda menjadi prajurit sekaligus anggota sekte putih. Gusti sepuh Salokantoro dari Pejajaran juga ikut datang saat diadakan pertemuan seluruh anggota sekte Elang Putih. Salokantoro yang adalah kakek Anom Wiro Sabrang tentu sangat mendukung pertemuan itu karena ingin kerajaan besar Pasundan tetap solid dan kompak dalam melaksanakan darma dari paguyuban Sekte Elang Putih. Tanah Pasundan yang meliputi Banten hingga Nusa Kambangan sangat rawan dengan serangan Sekte Naga Hitam yang datang dari Lautan Kidul dan Benua Timur.
__ADS_1
Maheso Danu yang duduk disamping Gusti Anom Wiro Sabrang memperkenalkan Kebo Kuning yang adalah tawanan perang yang telah pasrah menyerah karena tidak mampu melawan Anom Wiro Sabrang. Ada sepuluh pengawal pilihan Kebo Kuning yang datang dalam acara itu sebagai pengganti tewasnya Jiu Tong dan Martani.
"Ampuun para hadirin yang kami muliakan, kami yang datang dari Ujung Kulon bersama sepuluh pengawal terkuat kami siap mengawal Gusti Anom Wiro Sabrang." kata Kebo Kuning.
Seluruh hadirin yang juga datang dari pesisir barat tentu tidak asing dengan para pengawal Kebo Kuning. Karena mereka adalah para awak kapal dari Benua Utara yang sangat sakti. Mereka juga terkenal sangat ganas bila bertemu dengan bajak laut yang ada di kawasan selat Sunda.
Anom Wiro Sabrang yang duduk diatas singgasana tidak terlihat kecil karena aura wajah yang dimiliki sudah sangat kuat menjadi seorang raja atau orang yang disegani.
__ADS_1
"Mulai detik ini kita wajib mengadakan patroli ke wilayah barat hingga ujung timur untuk memantau datangnya musuh dari pesisir." kata Maeso Danu dibantu Zui Shen sebagai ketua perguruan Elang Putih.
"Perkenalkan ini adalah para pengawal dari Adipati Kahyangan. Ada yang ingin mencoba kesaktian dimohon maju ke depan" kata Kebo Kuning.