
Kejayaan Singosari makin terlihat semenjak Gusti Kertajaya memiliki pusaka Keris Nogososro. Tetapi berita itu telah mengundang banyak lawan yang ingin memperoleh pusaka itu dengan mendatangi istana Singosari untuk bertarung. Seperti Adipati Blambangan Minakjinggo dan Adipati Maespati yang merasa sangat kuat harus bisa merebut keris Nogososro menjadi miliknya. Ridegso dan Guntur Geni, Adipati Maespati sudah datang di depan Beteng Singosari.
"Hmm" Kertajaya menarik nafas dalam ketika mendapat berita tersebut. Ada Begawan Sentanu dan tentu Wiro Sabrang walau masih muda tapi bisa berwawasan dewasa. Tidak mudah memecahkan masalah peperangan yang harus dihadapi atau tidak.
"Bagaimana Wiro Sabrang, engkau yang lebih tahu masalah strategi peperangan."
"Terserah paman Sentanu saja yang bisa meramal apa yang akan terjadi." jawab Wiro Sabrang. Mereka tentu sependapat bila Singosari harus menjaga kedaulatan negara, tetapi juga pertimbangkan kekuatan dan hawa nafsu yang harus dibuang. Beruntung Kertajaya sekarang sudah sadar tidak berani membawa keris pusaka yang diperoleh dari Wiro Sabrang. Karena keris itu adalah ujud dari roh ratu pedang Muninggar yang masih punya rasa dendam kepada musuh- musuhnya semasa hidup.
"Cobalah Cocak Anggoro dan pengawal Gagak putih temui tamu kita. Jangan dengan kekerasan" kata begawan Sentanu.
"Paman Bagaspati, perintahkan pengawal untuk siaga di pintu gerbang."
" Sendika Gusti."
Bagaspati sudah melangkah keluar dan mencari para pengawal Kraton. Sedang Wiro Sabrang bersama Maeso Danu sudah menerawang dari dalam istana untuk memantau diluar Beteng jika terjadi keributan.
Ternyata yang ada di gerbang adalah utusan dari Mojosongo yang berniat memberitahu waktu diadakan perang antara pasukan Mojosongo melawan Singosari.
"Apakah tidak bisa damai saja kisanak?" tanya Gagak Putih.
"Tidak bisa. Rajamu kasih tahu bahwa Mojosongo bukan lagi masuk wilayah Singosari. Atau kita adakan kontak fisik saja" jawab pengawal Rawun dari Mojosongo. Jawaban yang sangat keras dan menantang itu. Cocak Anggoro sudah naik pitam tidak ikut bicara.
__ADS_1
"Ayo..kita masuk saja teman- teman!!" Kata Rawun sambil memacu kuda sambil menabrak penjaga gerbang Singosari.
" Heeeaaahh!!"
"Heit!! Heit!!"
"Aaaacchh!!"
Pengawal dari Singosari yang cuma sedikit diremehkan oleh Rawun yang terbyata membawa lebih seratus urang berjaga diluar benteng.
Pertarungan tidak imbang membuat pasukan Mojosongo nekat masuk ke dalam alun- alun ketika pertahanan dari istana bisa diserbu. Kali ini Kebo Marcuet yang jadi pelatih bela diri pada semua prajurit terpaksa turun tangan ikut berperang.
Pangeran Jakasaba yang memimpin pasukan dari Mojosongo telah berani pasang badan menghadapi pendekar dari Singosari. Apalagi ia juga memiliki pusaka keris Nogosari yang sangat dikdaya sehingga berani kudeta melengserkan raja Singosari.
Kebo Marcuet yang paling tidak suka sombong seperti yang dilakukan pangeran itu tidak bergeming berdiri tegak diatas rumput alun- alun tanpa menggenggam senjata apapun.
"Heeeaaahh!!"
"Trang!! Trang!!"
Betapa terkejut Jakasaba ketika senjata pusakanya tak mampu melukai kulit Kebo Marcuet. Namun sebaliknya Kebo Marcuet kemudian memantek aji Brojomesti dengan menyatukan telapak tangan di dada dan mendorong ke arah Pangeran Jakasaba yang juga sedang membacakan mantra.
__ADS_1
" Heeeeaaaaahhhh!!"
"Bluaaaarrrr!!"
Sinar biru yang sangat terang itu terpancar dari telapak tangan Kebo Marcuet bertemu dengan sinar merah yang mengobarkan api dari keris Nogosari milik Jakasaba. Ledakan dahsyat itu telah melempar tubuh kedua pendekar ke belakang hingga sepuluh meter. Kebo Marcuet bersalto dan kembali berdiri dengan tegap dan pasang kuda- kuda.
"Aji Bayulabrak" gumam Kebo Marcuet dalam hati sambil terus siaga memandang gerakan kaki lawan dan mata Jakasaba. Pangeran itu tidak bisa dipandang enteng. Kemudian mereka kembali melompat dan Jakasaba mekayang sambil sabetkan keris ke tubuh Kebo Marcuet.
"Duarr!!"
Torehan keris yang menancap di pundak Kebo Marcuet menimbulkan ledakan cukup keras. Kebo Marcuet merasakan sedikit perihbdi pundak karena terluka. Tapi senyum simpul terlihat dimulut Jakasaba karena kerisnya telah berhasil melukai kulit tubuh Kebo Marcuet. Dengan begitu Kebo Marcuet bergegas mencabut goloknya yang sejak tadi tak dipakai. Karena lawannya bukan sembarangan dan memiliki keris pusaka yang sakti.
"Hmm ternyata engkau tidak kebal ya" ledek Jakasaba sambil tersenyum. Kemudian kesempatan itu tidak disia- siakan oleh Jakasaba
Ia dengan cepat kembali menyerang menggunakan keris Nogosari yang telah diusap dengan daun kelor.
"Hiaaaattt"
"Bluaaaarrrr!!"
Ledakan kembali terdengar hingga menggema menembus langit ketika kedua pusaka di as lung berbenturan. Kini Jakasaba yang terlempar ke belakang hingga terbentur pilar istana. Kebo Marcuet yang diatas angin tak mau memburu lawannya yang terjatuh. Sebaliknya Suryo Lelono pengawal dari Mojosongo menerkam punggung Kebo Marcuet dari belakang.
__ADS_1
"Brukk!!"
Walau pedang Suryo tak mampu melukai punggung Kebo Marcuet, tetapi dorongan kekuatan tenaga dalam Suryo sangat kuat hingga menumbangkan pengawal Singosari.