
Raja Diraja Daksaka adalah seorang raja di tanah pasundan yang sangat sakti dan berkuasa terhadap rakyat di pegunungan Barat. Seluruh rakyatnya tunduk dengan apa yang dikatakan raja termasuk undang- undang semua rakyat harus menyetor anak gadisnya kepada raja untuk dijadikan selir. Jika rakyat menolak akan dipidana mati. Dan semua pemuda harus suka rela menjadi prajurit untuk berbakti kepada raja. Karena itulah gadis- gadis di tanah Pasundan ketakutan tinggal dikampung sendiri baik yang sudah umur maupun yang masih belia wajib kawin dengan raja Daksaka yang usianya sudah setengah abad lebih.
Saat itu ada dua orang warga yang telah menikahkan putrinya dengan warga diluar tanah Pasundan, maka mereka dilaporkan dan dibawa prajurit menghadap raja.
"Betul kalian telah mantu dan keluar dari desa ini?"
"Betul Gusti, kan putri kami semua merantau, sehingga harus menikah dengan orang luar."
"Bagus! Tapi masih punya anak yang tinggal disini kan?"
"Sudah tidak punya"
"Algojo, bawa b*ngsat ini ke belakang dan penggal lehernya." perintah Daksaka. Dan algojo yang sudah menghunus pedang itu menarik lengan kedua psakitan untuk dipotong lehernya.
Disaat yang bersamaan datang tujuh orang prajurit yang terluka masuk ke dalam istana dengan berita duka.
"Ampuun Gusti..ampuun kami semua telah gagal menjalankan tugas karena dihalangi oleh dua orang asing yang sangat sakti."
"Apa? Sakti apanya? Di tanah Jawa ini tidak ada orang yang lebih sakti dari aku. Daksaka!!"
"Pedang kami tidak mampu melukai tubuhnya, dan dia dengan mudah menghancurkan semua senjata kami."
"Bohong!! Bilang saja kalian tidak mau setor gadis kepadaku karena masih keluargamu kan?"
__ADS_1
"Tidak Gusti!! Gusti bisa membuktikan sendiri, orang asing itu berada di pinggir sungai Serayu."
"Bodoh kalian semua!!" kata Daksaka seraya menendang prajuritnya hingga terjungkal.
"Pengawal!! Periksa diluar benteng dan sepanjang kali Serayu.Kalau ada orang asing, tangkap hidup atau mati!!"
"Sendika dawuh Gusti"
Lima pengawal berkuda sudah bergegas memacu kudanya menuju lokasi yang dimaksud.
***
Wiro Sabrang tiba- tiba sudah berdiri didepan singgasana dimana Daksaka yang sangat sombong itu sedang memandang kedepan membayangkan seperti apa orang asing yang berani menentangnya.
"Daksaka" gumam Wiro Sabrang yang seperti sudah mengenal wajah raja iblis itu.
"Glegeerrrrrkkkregg!!"
Tiba- tiba bumi terasa berguncang hebat karena Wiro telah mengerahkan tenaga langit perkenalkan diri kepada Daksaka. Daksaka bisa merasakan hingga ia langsung merespon dengan ajian Bayulangit .
"Bluaaaarrrr!!"
Ledakan dahsyat itu memuncak dengan terlihatnya kilatan cahaya biru muda di langit yang mengembang makin melebar dan seperti meteor turun ke bumi.
__ADS_1
"Jzlegggkk!!"
Dua sosok makhluk bertubuh tinggi besar dengan wajah gelap berdiri di kiri dan kanan Wiro Sabrang. Saat itulah Surogeni berganti melompat dari langit berdiri di depan Daksaka.
"Surogeni" gumam Daksaka lagi yang terjejut melihat kehadiran pendekar seangkatan dengannya.
"Ha ha ha..akhirnya aku bisa menemukanmu kembali Wiro Sabrang!! Saatnya aku menghancurkan nyawamu!"
Dua iblis yang berdiri di kiri dan kanan Wiro Sabrang tiba- tiba menerkam tubuh Wiro Sabrang yang tampak sebesar jari tangannya.
"Hiiiiaaahhh!!"
"Gluaaaarrrr!!"
Golok setan itu mengayun dan pancarkan sinar ultra violet yang dahsyat hingga menghancurkan tubuh tinggi besar iblis ciptaan Daksaka.
"Setan alas golok setan baru sekali ini aku melihat golok Wiro. Dulu ia tidak memiliki apapun." kata Daksaka di dalam hati. Sedang Surogeni yang sudah menjelma menjadi monster yang berujud cairan lava menyerang Daksaka hingga raja iblis itu melompat keatas atap istana. Kemudian Daksaka kembali menggerakkan tangannya mendorong keatas langit.
"Hiaaaaaatttt!!"
"Kclaapp!!"
Daksaka lenyap tubuhnya hingga muncul dua ekor naga raksasa yang bertanduk dan berkaki empat menyerang Surogeni bersama Wiro Sabrang.
__ADS_1
Dua ekor naga raksasa itu menyemburkan badai es yang sangat dahsyat ke ujud Surogeni yang berupa cairan lava. Seketika cairan lava dingin dan beku. Tapi Daksaka tentu sangat terkejut bila Wiro Sabrang tiba- tiba sudah berada diatas kepala ular naga raksasa Antaboga. Jelmaan dari gagang Kolok setan miliknya. Kembali Daksaka yang berujud dua ekor ular naga raksasa berwarna hijau itu terkejut melihat seekor ular naga raksasa bersisik emas menandinginya.
"Antaboga, penguasa laut Selatan" gumam Daksaka dalam hati. Tiga ular naga raksasa saling kibas dan gigit di atas langit hingga menimbulkan suara yang gembleger dan ledakan petir yang bersaut-sautan. Saat para pengawal yang diutus Daksaka kembali ke istana terhenti di alun- alun karena bumi terasa gempa dahsyat dan di atas langit ada kejadian yang belum pernah dilihatnya. Tiga ular naga raksasa itu saling serang.