PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN 43


__ADS_3

Begawan Sentanu sudah mengirim berita duka kepada Wiro Sabrang perihal kegaduhan di Singosari terkait hilangnya pusaka Nogososro dan kepergian pangeran Singoyudo dari Singosari lewat telepati. Wiro Sabrang sudah paham apa yang terkandung dalam berita itu karena ia tahu pasti jika pusaka itu kalau tidak dirawat oleh pemiliknya dengan cara dimandikan dan dibacakan mantra, tentu akan mudah terlepas. Bisa jadi mungkin pusaka itu merasa lapar seperti makhluk hidup yang butuh diberi makan dan minum. Begawan Sentanu juga memberitahu tentang mimpi Gusti Kertajaya yang bermakna firasat akan ada musibah dalam istana Singosari menurut dugaannya. Ternyata semua terbukti setelah kepergian Singoyudo dan hilangnya keris pusaka Nogososro.


      "Kakang Surogeni, ada baiknya kakang pergi ke Singosari sekarang,  Gusti Kertajaya pasti butuh kehadiranmu." kata Wiro Sabrang.


      "Bukankah engkau yang masih darah keturunan Kertajaya, kalau aku gak ada hubungan apapun."


      "Bukan begitu kakang, kita berdua sebenarnya tidak ada hubungan dengan manusia diatas bumi. Bukankah sebenarnya kita sudah mati?"


      Akhirnya Surogeni luluh juga mendengar penjelasan Wiro Sabrang.  Memang benar kata Wiro Sabrang jika mereka berdua sudah mati secara lahiriah. Wiro Sabrang sebenarnya sudah mati raganya, tetapi dihidupkan kembali oleh Dewa Brahma untuk menyampaikan pesan beliau kepada manusia. Begitu pula Surogeni yang masa itu adalah satu sekte dengan Wiro Sabrang yang ditumpas habis oleh sekte hitam yang berkuasa di atas bumi.


      "Baiklah Suro, aku berangkat ke Singosari."


      " Hati- hatilah. Sampaikan pesanku pada Gusti Kertajaya."


      Wiro Sabrang tengah bersiap- siap membuka sayembara untuk mengumpulkan para pendekar dari sekte putih atau hitam yang bisa diajak berdamai membangun kerajaa  Salaka Negara.


     Pengawal Jaka Bandung sudah mendirikan panggung yang terbuat dari papan kayu yang diikat tambang dan diganjal batang pohon pisang. Sedang Arya Kamandanu memukul bende atau gong kecil milik kerajaan.


      "Ayo ayo sayembara segera dimulai..yang ingin mencoba kemampuan bela diri segera daftar dan ikut atraksi diatas panggung."


     Wiro Sabrang mengawasi jalannya pentas pertarungan bersama begawan Umbaran dan pengawal Salokantara.


     "Apakah tidak sebaiknya Aden Wiro Sabrang mencari pendamping seorang wanita Pasundan Aden?" bisik begawan Umbaran.


      "Aku tidak butuh wanita di dalam tugasku yang selalu bertualang."

__ADS_1


      "Maaf, hanya usul saja"


      "Menurut paman apakah di tanah Pasundan itu ada sekte hitam atau orang- orang yang sering melakukan kejahatan dengan bantuan setan?"


      "Oo banyak Aden. Coba saja nanti dilihat dalam pertarungan pasti ada orang yang sombong dan merasa terkuat." kata begawan Umbaran. Wiro Sabrang mengangguk- angguk.


      "Aku ingin mendirikan dan mengembangkan sekte putih kalau kerajaan Salaka Negara mulai maju"


       " Ya..hamba setuju Raden. Tapi banyak halangannya Raden. Dulu pernah ada di Pajajaran, tapi langsung diserang Gusti Daksaka hingga punah"


       "Kan Daksaka sudah mati paman."


       "Iyaa.. kan sifat Angkara itu pasti ada pada manusia"


     Arena pertarungan sudah didatangi ratusan warga sekitar Papandayan. Mereka yang bersandang golok adalah bukan pendekar, tapi adat petani dari Kulon. Ternyata sudah ada orang yang naik panggung dan mulai demonstrasi jurus- jurus Cimande.


      Lalu seorang warga baru melompat keatas panggung dan mulai pasang kuda- kuda.  Gerakan yang sederhana itu memikat Wiro Sabrang karena diiringi musik jaipong yang syahdu.


      "Tahan!!"


      "Buk!! Heit"


     Sujana ternyata pandai juga menyerang dengan sapuan kaki. Lawannya jatuh, trus bersalto dan kembali berdiri sambil menyerahkan tenaga dalam. Kali ini pemuda kampung itu hanya mendorong angin dari telapak tangannya tanpa menyentuh musuh.


      " Hiiiiaaaaatttt!!!"

__ADS_1


      "Uhhhh..buk!"


     Sujana terdorong mundur dan akhirnya jatuh ke papan panggung. Pertarungan yang makan waktu lama itu nembuat ada penonton yang tidak sabar langsung melompat menyerang kedua pesilat dengan tendangan tenaga dalam.


      "Hiiiaaatttt!! Kesuwen"


     "Aaachh..."


     Pertarungan dihentikan Wiro Sabrang karena dianggap ada yang curang. Tapi orang itu tidak terima dan menendangi pagar panggung dari bambu.


      "Maaf kisanak, kalau mau  mau ikut sayembara yang sopan. Satu lawan satu." kata Wiro Sabrang.


      "Aaah sekarang maunya apa? Kamu saja yang maju lawan aku!!" kata tamu tak diundang itu sambil merusak pagar. Wiro hanya bisa menahan diri menghadapi orang konyol begitu. Jaka Bandung akhirnya yang naik ke panggung melawan  orang itu. Baru saja naik ke panggung Jaka sudah diserang dengan pukulan keras dan tendangan tenaga dalam sampai Jaka terlempar keluar panggung.


     "Ayoh siapa yang merasa kuat, lawan aku" tantang orang itu sambil mencabut golok dari sarungnya dan membacoki rangannya yang kebal. Begawan Umbaran berbisik kepada Wiro Sabrang.


      "Inilah contoh sekte hitam Raden.."


      "Iya paman." Wiro Sabrang masih menahan diri sebatas orang itu tidak membuat orang sengsara. Sebenarnya Jaka Bandung juga memiliki ilmu bela diri tingkat 4, tapi ia tidak suka sombong menunjukkan diri seorang pesilat. Saat ronde kedua Jaka Bandung kembali diserang dengan pedang, tetapi ia mampu merendahkan badan dan merebut golok lawan sambil menendang perutnya hingga lawan jatuh.


      "Hiiiiaaaaatttt!!!"


      "Buk! Bukk!! Aaaaach"


     Jaka sudah kembali berdiri dan kembalikan golok kepada lawan. Sayangnya lawan memang sangat sombong sehingga kembali menyerang dengan membabi buta ke tubuh Jaka Bandung yang belum siap.

__ADS_1


      "Wuuuzzz!!"


     Wiro Sabrang mengirim tenaga dalam dari jarak jauh hingga membuat petarung curang itu terdorong ke belakang dan jatuh keluar panggung.


__ADS_2