PENDEKAR YANG HILANG

PENDEKAR YANG HILANG
BAGIAN : 45


__ADS_3

Prajurit itu memaksa pemilik warung melayani makanan dan minuman mereka dengan kasar dan terlihat arogan. Sedang pemuda yang sedang teler karena mabok masih duduk slonjor diatas kursi panjang.


"Brakk!!"


"Kurang ajar!!"


Ketika prajurit itu memukul pemuda mabok dengan tongkat kayu, pemuda itu membalas dengan tendangan yang sangat cepat hingga prajurit roboh. Pemuda mabok itu seperti tidak terjadi apa-apa kembali meletakkan kepala di meja sambil mendengkur tidur. Tentu saja itu membuat para prajurit kesal dan kembali mengangkat kursi untuk menggulingkan pemabok.


"Hiaaahh!!"


"Bukk!! Bukk !! Auww!!"


Tiga orang prajurit sangat marah ketika mereka kena pukul si pemabok hingga roboh dan kesakitan. Si pemilik warung serba salah mau melayani pembeli yang mana. Prajurit yang bertubuh paling besar dengan kumis panjang sangat marah kepada pemilik warung.


"Cepat layani kamii!!"


Wiro tak peduli dengan mereka yang marah- marah dan si pemabok yang melanjutkan tidurnya. Wiro Sabrang sedang menikmati kopi dan makan gorengan tahu dan pisang.


"Dasar setan semua ya,"


"Hiiiiaaaattt!!"


Para prajurit itu masuk ke dalam mencolek tubuh wanita pemilik warung yang masih muda dan cantik. Gadis anak pemilik warung itu menjerit ketika dipegang oleh dua orang prajurit yang masuk ke dalam warung.


"Tolooong!! Leoaskan!!!"


Wiro Sabrang membulatkan mata hendak berdiri menolong gadis itu, tapi keduluan oleh pemuda yang sedang mabok itu cepat memukul dan menghajar para prajurit hingga kalang - kabut. Wiro diam- diam memuji pemuda mabok itu sambil menikmati kopi.

__ADS_1


"Hajar dia!! Bunuh saja dasar pemabok!!!"


Lima prajurit yang main pukul itu kini mengepung pemuda mabok dan menyerang dengan mengeroyok. Sayangnya pemabok itu terlalu kuat bagi mereka sehingga mereka memilih kabur setelah terkena pukulan keras dari pemuda mabok.


"Maaf Raden, warung mau tutup saja." kata gadis itu sambil bergegas menutup pintu warung.


"Kenapa?"


"Biasanya prajurit itu kalau sudah kabur akan datang lagi dengan jumlah banyak. Kami takut warung akan dirusak dan dijadikan arena pertempuran."


"Oh gitu, ya sudah ini aku bayar semua dan makanan pemuda itu." kata Wiro Sabrang sambil memberi uang 10 Dinar kepada pemilik warung. Sedang pemuda mabok itu terus melanjutkan tidurnya di bangku yang tidak dibawa masuk ke dalam warung.


"Itu dia orangnya!!" bentak seorang prajurit yang datang bersama pasukan berkuda. Mereka langsung berfokus kepada Wiro Sabrang yang sudah beranjak berdiri hendak pergi.


"Tangkap saja, bunuh orang asing itu." teriak salah satu prajurit yang memfitnah dengan mengajak pemuda kampung datang mengusir Wiro Sabrang.


"Diaaamm!!"


"Plak!! Plakk!!"


Dua orang prajurit itu memaksa Wiro Sabrang untuk ikut bersamanya fengan kasar, sayangnya Wiro cepat mengelak dan menampar kepala mereka hingga jatuh tersungkur.


"Hah!??" gumam seorang prajurit yang melihat betapa keras tamparan tangan Wiro Sabrang hingga temannya jatuh tersungkur sanbil meringis karena rahangnya patah. Prajurit yang lain mengganggu pemuda yang masih tertidur teler dengan menyiram air seember. Lalu menendang tubuh lemas itu dengan kasarnya.


"Inilah yang jadi gara- gara. Hiiiiaaaahhh!!"


"Heit!! Heitt Heitt!!"

__ADS_1


"Aaaaaachh!!"


Lima orang pemuda kampung ikut mengeroyok pemabok dengan memukul dan menendang. Tetapi saat bangun pemuda mabok itu membalas dengan gerakan seorang pendekar. Lima orang yang mengeroyoknya harus mengakui kehebatan jurusnya yang sangat keras. Pendekar mabok itu tetap meneguk miras yang dibawa dalam botol yang digantung di pinggang. Wiro sendiri kagum melihat gerakan cepat si pemabok yang telah menjatuhkan lebih sepuluh orang yang mengeroyoknya.


Tanpa komando para prajurit itu lari kabur menyisakan penduduk desa yang kagum dan berlutut di depan pemabok. Tapi pemabok itu menoleh ke arah Wiro sambil membungkukkan kepala.


"Terima kasih telah mentraktirku makan"


"Sama- sama"


"Berterima kasihlah kepada tuan ini yang telah membayari tukang warung" kata pemabok itu sambil menunjuk ke arah Wiro Sabrang. Wiro tersenyum mau bertanya kepada pemabok itu, tapi keburu pergi entah kemana. Seorang kepala kampung datang ikut menyambut Wiro Sabrang.


"Ampuun Gusti sinuhun Sakaka Negara, Kenapa paduka datang menyamar ke kampung hamba? Terima kasih telah menyelamatkan kami dari para begal itu."


Wiro Sabrang bingung mendengar ucapan kepala dusun itu yang ternyata mengenal dia sebagai raja di istana Salaka Negara.


"Begal? Kenapa memakai pakaian prajurit? Dari mana mereka?"


"Awalnya mereka juga prajurit Salaka Negara, tetapi jauh dari pengawasan paduka jadi suka memeras warga dengan kekerasan."


"Lalu siapa pemuda mabok tadi?"


"Dia seorang pendekar yang suka mabok dimana -mana. Tapi dia sangat baik. Dia suka membela kalau ada orang yang disakiti para begal tadi."


"Tadi yang kulihat juga begitu. Para begal itu mengganggu pemilik warung dan pemabok itu membela dan mengusir mereka."


"Ampuun hamba Gusti yang telah salah sangka karena begal tadi omongnya lain." kata kepala dusun itu.

__ADS_1


"Besok akan kukirim pengawal dari istana untuk mengawasi desa ini. Kalian datanglah ke istana untuk jadi tamtama. kan sejak raja iblis itu mati, semua ponggawa ikut pergi."


__ADS_2