
Wiro Sabrang yang sedang memandang kedua lawannya si kembar dari negeri Gajah Putih itu, yang ternyata sangat bijak dalam merangkai persaudaraan ketika sudah dikalahkan. Kedua pendekar golok Emas itu memeluk Wiro Sabrang bahagia sambil berbisik.
"Sangat senang hatiku bisa melihat engkau kisanak, semoga misimu akan sukses memelihara kedamaian dan persaudaraan ksatria bumi" kata pendekar itu.
"Terima kasih."
"Mohon pamit"
"Selamat jalan kisanak"
Akhirnya kedua Kembar dari Siyam atau pendekar golok Emas itu pulang ke negaranya setelah puas bisa bertarung dengan Wiro Sabrang.
Sementara itu seorang pendekar yang baru saja datang memanggil nama Wiro Sabrang dengan sabar menunggu di belakang pendekar sakti itu.
"Kalingga!"Gumam Wiro sambil mulai tersenyum menatap mata pendekar yang telah lama ia kenal itu.
__ADS_1
"10 abad kita tidak pernah bertemu Wiro" kata Kalingga yang akhirnya merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Wiro Sabrang.
Kedua sahabat itu saling berbagi cerita tentang masa lalu mereka yang kelam semenjak peristiwa yang tragis terjadi di masa lalu.
"Aku juga tenggelam didasar laut es yang membeku sehingga tubuhku masih utuh ketika dewa Brahma memberiku kehidupan lagi. Lalu bagaimana denganmu Wiro?"
"Keluargaku sudah terpisah entah kemana, yang bulan lalu bertemu dengan aku cuma seorang Surogeni yang kini kusebut manusia api karena tubuhnya menyala seperti bara lava muntahan gunung berapi." kata Wiro Sabrang.
Wiro Sabrang teringat masa sulan ketika Kalingga juga sebagai seorang pendekar sakti yang ingin memberantas penjahat dan melindungi kaum lemah. Tapi jaman itu belum ada kerajaan, selain kelompok orang kuat yang selalu bertarung untuk menjadi yang terkuat dan bisa berkuasa.
"Oh jadi kamu baru turun dari langit ya. Pastinya kamu mulai haus dan lapar setelah berada di atas bumi. Ha ha ha."
"Betul sekali Wiro. Tapi bagaimana aku bisa mendapatkan makanan dan minuman seperti manusia?"
"Ayohlah, singgah ke istana sahabatku. Disana aku akan memberimu layanan yang sempurna. Tapi jika kamu bisa tidak menampakkan diri, lebih baik lakukan saja, agar aku bisa mengajakmu bicara tidak perlu dilihat orang"
__ADS_1
"Baiklah.." jawab Kalingga yang kemudian lenyap dari pandangan mata tetapi membayangi langkah Wiro Sabrang.
Di dalam istana Mojopahit sudah duduk di atas singgasana raja muda Anom Suro Menggolo didampingi seorang begawan Sindukawi. Kedatangan Wiro Sabrang jelas sangat dielu- elukan para ponggawa kerajaan karena baru saja bertarung dengan pendekar sakti Golok Emas Dati negeri Siyam.
"Selamat Gusti Wiro Sabrang yang telah berhasil menakhlukkan dua pendekar asing itu.'
"Ternyata mereka memang penasaran ingin berjumpa denganku paman"
"Yah, walau hanya ingin bertemu, itu karena mereka telah Raden kalahkan. Jika tidak, pasti mereka inginkan pusaka Golok setan yang menjadi perbincangan di dunia persilatan." Kata begawan Sindukawi.
"Betul sekali pendapat paman, Tapi aku tidak berprasangka buruk, jika dia telah menyebarkan berita keberadaan ku di tanah Jawa kepada para pendekar di seberang laut."
"Hamba dengar diluar sana sudah banyak para pendekar yang membicarakan pusaka Golok Setan dan mereka sedang dalam perjalanan memburu pusaka itu." kata paman begawan Sindu.
Wiro bisa paham setidaknya setelah bertarung melawan dua Kembar dari negeri Siyam itu. Karena itu, Wiro berpamitan untuk keluar dari istana menemui seseorang yang sekarang berada didekatnya tanpa terlihat oleh Sindukawi atau Suro Gendeng. Kalingga ingin membicarakan sesuatu yang serius dan tidak ingin didengar para ponggawa Mojopahit. Terutama tentang adanya rombongan pendekar dari sebrang lautan yang memburu pusaka Golok Setan.
__ADS_1