
Betapa sangat terkejut pengawal begal yang masih duduk dipunggung kuda menyaksikan pertarungan Suro Gendeng dengan anak buahnya yang berakhir dua orang begal roboh berlumur darah. Warok Aran yang bertubuh besar dan penuh tatto itu melintir kumisnya sambil membulatkan mata menatap Suro Gendeng.
"Bedebah! Mau mampus kamu. Hiiiiaaaattt!!" gertak Warok sambil melompat dan menikam Suro Gendeng dengan pedang dan tendangan sangat kuat. Suro Gendengpun dengan cepat mengelak sambil menebaskan kapak ke kaki kuda lawan hingga putus.
"Hiat hiat hiat hiiaaat"
" Brakk !!"
"Greeekkkgg!"
Kaki Warok Aran yang bersalto dan kembali menginjak tanah hingga seperti menikam ke dalam bumi.
"Ha ha ha..Suro Gendeng, apakah kamu masih gendeng bocah ?"
Melihat lawannya berilmu cukup tinggi Suro Gendengpun mengerahkan Aji Bayu saketi dan mendorong kan ke arah tubuh Warok Aran yang sombong itu. Dua pendekar itu saling bertarung di udara seperti dua ekor naga terbang. Kapak Suro Gendeng yang berisi roh naga emas itu bergerak cepat memancarkan sinar yang kemilau dan kilatan petir menyambar bersautan.
"Glegerrrrrkkk!!"
__ADS_1
"Aaaaaccchhh!!"
Ledakan yang sangat dahsyat itu kembali terdengar dari benturan kapak maut dengan pedang Warok Aran. Tapi pedang Warok yang hancur berkeping- keping dan tubuh begal itu terhempas ke tanah sangat kuat.
"Brukk!!"
Melihat rekannya roboh dan mati, sisa pasukan begal itu melarikan diri meninggalkan istana Mojopahit.
***
Esok harinya Wiro Sabrang yang masih mendampingi Suro Gendeng bertahta mulai mengadakan sayembara pemilihan pengawal dan Senopati untuk kerajaan Mojopahit yang telah kehilangan banyak ponggawa. Gajah Oling yang dipercaya sebagai pengawal yang tersisa bergegas membuat arena panggung bersama tamtama di alun- alun.
"Ayoo ayoo siapa yang ingin melamar menjadi tamtama atau pengawal barisan di kerajaan Mojopahit..Monggo silahkan daftar.."
"Gung.. Gung..Gung ayo ayo siapa yang mau daftar prajurit, Gusti raja Mojopahit butuh prajurit banyak hari ini. Gung Gung"
Penduduk sekitar desa karang Mojo, Karang Wungu sangat antusias keluar dan mendaftar ke alun- alun yang sudah dibuka dengan acara tarian serta bela diri yang dilakukan oleh para prajurit senior.
__ADS_1
Wiro Sabrang dan begawan Sindukawi bersama Senopati Anggarapati berembug rencana menobatkan seorang Patih dan raja muda Suro Menggolo di dalam Setinggil.
"Untuk saat ini Raden Wiro Sabrang harus bisa membagi waktu ke gunung Pasundan dan Bromo tentunya."
" Itulah yang sedang aku pikirkan paman. Istriku sedang hamil muda di tanah Pasundan, sementara aku harus mengawasi Dimas Suro Menggolo yang masih terlalu muda memegang tahta kerajaan. Karena itulah aku minta pendapat paman untuk mencari seorang Patih yang bisa membimbing Dimas Anom Suro Menggolo" kata Wiro Sabrang.
"Hamba punya pandangan kepada Raden Anggarapati yang adalah adik dari bekas Patih Logender, yang mempunyai putra seorang pendekar sakti bernama Damarsongo. "
"Benarkah apa yang dikatakan begawan Sindu, Anggara?" tanya Wiro Sabrang kepada Senopati itu.
"Betul Gusti, kakanda Logender memang memiliki putra seorang pendekar tapi tidak mau berurusan dengan kerajaan Mojopahit yang telah memecat ayahnya."
"Panggil anak muda itu kepadaku. Berangkatlah Anggara!" kata Wiro Sabrang.
"Sendika dawuh Gusti, mohon pamit" kata Anggarapati sambil menyembah dan beranjak pergi meninggalkan istana untuk memanggil ponakannya Damarsongo.
Di luar setinggil acara sudah dibuka dan dihadiri ratusan pengunjung dari desa yang berniat mendaftar jadi tamtama atau yang iseng melihat sejauh mana ilmu para pendekar di wilayah kerajaan. Ada dua orang pendekar yang tertarik menonton pertunjukan sambil menunggu info yang dicarinya. Siapa pendekar pemegang Golok Setan itu?
__ADS_1
Karena di dalam arena yang sudah dimulai pertarungan antar murid perguruan, tetapi tidak didengar dan dilihat ada petarung yang memiliki Golok Setan. Dua pendekar itu adalah Kembar dari negeri Siyam. Pendekar yang sangat digjaya dan belum pernah terkalahkan di negerinya. Namun ketika Wiro Sabrang muncul sebagai pengawas arena, dua pendekar itu membulatkan mata memandangi wajah Wiro.
"Wiro Sabrang, pendekar Golok Setan" Gumam pendekar itu seraya menggerakkan dagunya ke arah Wiro.