
WIRO SABRANG pendekar Golok setan yang namanya sudah legenda di seluruh dunia persilatan sehingga keberadaannya selalu diburu para pendekar yang penasaran. Penasaran terhadap kesaktiannya dan kekuatannya yang dikenal tak tertandingi oleh semua pendekar bumi. Bahkan pendekar langit pun banyak yang dikalahkan karena ia memiliki pusaka Golok Setan yang sangat ditakuti oleh pasukan iblis.
Kembar dari negeri Siyam sudah melakukan perjalanan melintas tujuh puluh gunung dan tiga samodra hanya untuk bertemu dengan pendekar Golok Setan .
Sangat lega hati mereka berdua yang kini berdiri di pinggir pagar panggung sebelah luar untuk menyaksikan jalannya pertarungan.
Gagak Putih adalah pelatih bela diri milik Mojopahit yang sudah mengalahkan dua petarung dari desa kini sudah kedatangan seorang setengah tua dengan tongkat di tangan melompat ke depan Gagak.
"Kesuwen! Main kayak anak kecil saja. Ayo pukul aku, cepattt!!" kata pendekar tua itu sambil berdiri tegak dengan tongkat tegak disamping tubuhnya siap untuk jadi senjatanya.
"Maaf kisanak, kan saya sedang mencari calon tamtama untuk kerajaan."
"Ya sudah aku mau jadi Senopati.Mau bayar aku berapa?"
"Melalui seleksi dulu kisanak."
" Bagus!! "
" Hiiiiaaaaahhhhh!!"
Pendekar asing itu langsung melompat menerjang tubuh Gagak Putih yang berdiri di hadapannya. Pukulan pendekar itu sangat cepat dan kuat sehingga dada Gagak Putih terkena tendangan serta pukulan keras tanpa bisa dihindari.
Melihat situasi tegang begini tentu membuat Suro Gendeng jadi ikut tegang mengawasi dari luar panggung. Ternyata Gagak Putih tidak mampu menghadapi lawan yang sangat cekatan dan gesit.
__ADS_1
Gagak Putih baru mau bangkit setelah terkena tendangan, tiba- tiba pendekar bersenjata tongkat itu melompat dan memukulnya bertubi- tubi hingga kembali roboh dengan kepala berdarah.
"Hiiiiaaaaatttt!!"
"Krekk!!"
"Brukk!!"
Suro Gendeng terpaksa menengahi dengan menangkap tongkat pendekar tua itu dan mematahkan dengan sekali pukul. Pendekar tua itu mundur sambil menahan tubuhnya yang goyah dengan satu tangan menyangga di atas panggung. Penonton pun bersorak ketika Suro Gendeng menunjukkan betapa ia adalah seorang pesilat yang mahir juga dengan jurus- jurus mematikan. Kembar dari Siyam belum tertarik karena belum melihat permainan Wiro Sabrang si Golok Setan.
Sesaat kemudian, pendekar tua yang sudah kehilangan tongkat kembali menyerang dengan golok yang ada di pinggang.
"Hhiiiiiaaaaahhh"
"Hop hop hop!!"
Suro terpaksa melayani pendekar tua yang mulai curang dengan memukul saat lawan terjatuh tak berdaya. Kali ini si pendekar asing itu kena batunya ketika membacok Suro Gendeng tetapi tidak mampu melukai tubuh pemuda itu. Bahkan goloknya rusak seperti telah beradu dengan batu karang. Sedang Suro membalas dengan sekali tendang pendekar tua itu jatuh dan susah berdiri.
"Bangunlah." kata Suro Gendeng sambil menarik lengan pendekar tua untuk kembali bangkit.
"Tidak perlu!" sahut pendekar tua itu sambil melompat dan kembali mengayunkan golok ke tubuh Suro Gendeng dengan tenaga dalam. Sayangnya tangan Suro Gendeng lebih cepat menangkap golok dan mematahkannya hingga menjadi dua dan buang ke luar panggung.
"Bunuh! Bunuh saja tuh si tua bangka belagu!" teriak penonton yang mulai kesal kepada pendekar tua tak tahu diri. Tapi Suro Gendeng bukan pengecut. Ia menghampiri lawan yang sudah tak berdaya itu dan menarik berdiri.
__ADS_1
"Sekarang kisanak mau apa? Kalau cari musuh jangan disini. Ayohlah kamu pergi saja kalau ingin aku bersabar." kata Suro Gendeng.
Akhirnya pendekar tua itu melompat pergi karena merasa malu. Tapi saat Suro lengah itu telah diserang seorang penonton yang ingin mencoba kesaktiannya.
"Hiiiiaaaaatttt!!"
"Heit Heit..heit ,!!"
Suro Gendeng dengan cepat miringkan tubuh menghindar dari sabetan pedang sambil mengayang dan berputar menyapu kaki lawannya.
"Brukk!!"
"Prang!! Prang,!!"
Lawan Suro Gendeng kali ini sengaja menggunakan senjata pedang yang sudah ditancapkan ke tanah 7 kali sambil dibacakan mantra anti kebal. Tapi tetap saja tidak mampu melukai kulit Suro Gendeng. Saat pemuda itu tercengang sambil masih berdiri mematung di depan Suro, malah ditegor.
"Bagaimana? mau jadi tamtama di Mojopahit?"
"Oh ya ya..saya mau Gusti. Saya memang ingin masuk menjadi prajurit di istana Mojopahit." jawab pemuda itu yang akhirnya menerima ajakan Suro.
Ketika beberapa pelamar kerja sudah datang dan diterima menjadi ponggawa istana, Wiro Sabrang muncul ke atas panggung untuk mengumumkan para pemuda yang diterima sebagai tamtama. Saat itulah Kembar dari negeri Siyam melompat ke panggung sambil menyebut Wiro Sabrang.
__ADS_1
"Wiro Sabrang! Boleh kan aku ingin bertarung denganmu kisanak ?"