
Kebo Marcuet tumbang saat disodok kaki pengawal dari Mojosongo. Dalam kondisi demikian Jakasaba langsung menerjang dada pengawal Singosari itu sambil mengayunkan pusaka keris Nogosari ke dada Kebo Marcuet.
"Heeeeaaaaahhhh!!"
"Heit! Heit!!"
Tetapi Surogeni yang melihat dari jarak jauh sudah ada kecurangan dalam pertarungan bergegas melompat menahan serangan Jakasaba. Tentu saja pangeran dari Mojosongo itu terkejut saat tangannya bersentuhan dengan tubuh Surogeni yang menyala seperti bara lava yang dimuntahkan dari gunung berapi.
"Kurang ajar!"
"Yang kurang ajar tuh kamu. Tahu kalau lawan sedang jatuh dicurangi, kamu malah menerkam dengan keris." kata Surogeni.
Pangeran Jakasaba menyipitkan mata memandang wajah Surogeni yang rusak seperti mayat hidup itu dan tubuh yang menyala bagai bara api. Sepertinya ia belum pernah melihat manusia seperti Surogeni. Karena itulah Jakasaba kembali mengerahkan tenaga dalam dan dan tancapkan keris pusakanya di tanah sebanyak 7 kali agar mampu menembus daging lawan sesakti apapun
Surogeni tak mengandalkan senjata apapun walau ia juga memiliki keris pusaka yang masih terselip di pinggang. Dengan makin menyalakan tubuh saja Surogeni sudah membuat lawan kepanasan dan melepuh. Namun begitu Jakasaba bukanlah manusia biasa dengan keris pusaka Nogosari. Jakasaba bangga ketika acungkan keris diatas kepala memancarkan sinar yang sangat terang yang menyilaukan mata. Saat Surogeni tak dapat melihat dengan jelas lawannya, Jakasaba menyerang dengan jurus tingkat 7 yang menjadi andalannya.
"Hiiiiaaaattt hiaaaattt!!!"
__ADS_1
"Wuuusss Wuuusss Wuusss!!! Wuuuussss!!!"
Badai api yang berhembus dari telapak tangan Surogeni ternyata bisa mengecek Jakasaba yang terpental terbang kepanasan sehingga ia terlempar sejauh puluhan meter terkapar di tanah rumput. Sungguh baru kali ini ia mendapat serangan seperti badai api. Keris pusaka Nogosari jangankan menyentuh tubuh lawan, berada dalam genggaman tangannya saja sudah gemetar dan kepanasan.
"Hhhhhh..hhhhh!!"
Walau begitu tetap saja Surogeni tidak mau curang menerjang lawan yang sedang terjatuh. Seorang pendekar yang masih bertarung dengan Kebo Marcuet berbanga hati kareba berhasil mendesak Kebo Marcuet yang melarikan diri masuk ke dalam Pagelaran dengan tubuh berlumur darah. Tidak heran jika pasukan dari Adipati Mojosongo yang banyak menyewa pendekar siluman mampu mematahkan perlawanan dari Singosari. Tapi bukankah Singosari juga memiliki pendekar handal seperti Wiro Sabrang dan Surogeni?
" Hhhhiiiiaaaattt!!"
"Glegerrrr!!"
"Hiiiiaaaaatttt!!!"
Jakasaba yang merasa diatas angin mampu merobohkan Surogeni merangsek ikut menyerang masuk pagelaran. Singosari .mulai terdesak karena Jakasaba memang luar biasa. Bagaspati dan Kebo Marcuet sudah tak mampu menahan serangan pasukan dari Mojosongo sehingga Wiro Sabrang satu- satunya pendekar yang mampu membuat Jakasaba dan padukannya kocar- kacir.
"Bluaaaarrrr!!"
__ADS_1
Ledakan dahsyat itu terdengar manakala Golok setan berbenturan dengan senjata keris ampuh milik Jakasaba yang hancur berkeping -,keping. Jakasaba membulatkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pusakaku.. hancur?" gumam Jakasaba setengah menangis ketika ia harus kehilangan pusaka yang sangat diandalkan itu. Dan bahkan kekuatan tubuhnya hilang drastis terisap oleh aura pusaka di tangan Wiro Sabrang. Golok setan yang baru kali ini dilihatnya.
Serangan Jakasaba yang menggebu -gebu dan merobohkan pendekar andalab Singosari telah gugur. Dengan jatuhnya Jakasaba, pasukan Mojosongopun kabur nekarikan diri. Wiro Sabrang bukan pendekar biasa. Jangankan Jakasaba yang masur dengan keris pusaka Nagasari, pasukan siluman yang pernah menguasai Ridegso saja telah dikalahkan pendekar purba itu. Surogeni yang kembali bangkit karena pertolongan Wiro Sabrang menangkapi prajurit yang terkurung dalam alun- alun karena pintu gerbang telah ditutup sehingga mereka tak bisa kabur keluar dari istana Singosari.
Kertajaya sangat bangga kepada Wiro Sabrang yang mampu mengembalikan kejayaan Singosari bukan hanya karena kesaktiannya, tetapi pusaka Nogososro yang telah tersimpan dalam peti kerajaan sebagai tumbal kejayaan.
"Terima kasih anakku" kata Kertajaya sambil memeluk Wiro Sabrang.
"Kita masukkan tawanan ke dalam penjara Gusti"
"Yah. Nanti kamu tanya kekuatan Mojosongo seperti apa hingga berkali-kali berani menyerang Singosari. Kalau perlu jadikan karang Abang!!" perintah Kertajaya yang murka.
Begawan Sentanu mengangguk-angguk paham apa yang dirasakan Gusti Kertajaya. Semua itu tidak lepas dari kepemilikan pusaka keris Nogososro yang menjadi simbol kedaulatan kerajaan. Konsekwensinya Singosari harus siap menghadapi setiap serangan dari kerajaan manapun. Beruntung sekali ada Wiro Sabrang yang bisa diandalkan menjadi panglima perang sekaligus penasehat raja.
"Beteng roboh!!" teriak seorang prajurit yang berjaga di alun- alun.
__ADS_1
"Serangan dari Maespati!"