
Wiro Sabrang yang makin bingung menghadapi kesaktian Calonarang bermeditasi untuk minta petunjuk kepada sang hyang Wenang penguasa kehidupan. Tetapi Antaboga sudah berbisik kepadanya agar meminta kepada Batari Durga atau Muninggar saja untuk mengalahkan raja iblis itu. Calonarang tidak akan mampu menandingi lawan pendekar wanita. Apalagi Batari Durga atau Muninggar adalah putri dedemit pula.
"Yayi ratu Batari Durga dan Muninggar,keluarlah dan petangi raja iblis ini,"
Ketika Wiro Sabrang ayunkan golok Setan ke arah Calonarang, maka keluarlah dua bayangan pendekar wanita yang sangat cantik menghadapi Calonarang sambil mengacungkan pedang. Tentu saja Calonarang sangat terkejut melihat ada dua orang putri yang sangat cantik berdiri di hadapannya. Apalagi dua putri cantik itu mengenakan pakaian ratu yang mewah bersulam emas dan mahkota kerajaan, jelas wanita itu turunan bangsawan.
"He he he..siapa gerangan paduka Raden ayu hingga berkenan rawuh ke Mojopahit?" tanya Calonarang menyambut dua putri pedang itu.
"Kami adalah utusan dewa kahyangan untuk mengambil nyawamu sobat!'
"Kurang ajar! Aku tanya baik- baik jawabanmu kok songong gitu hah? Kau pikir aku ini orang apa hah? Aku raja di raja yang takkan ada orang yang bisa menandingiku. Tak ada yang mampu membunuhku" sesumbar Calonarang.
__ADS_1
"Bersiaplah paman!"
"Hiiiiaaaaatttt!!!"
"Bluaaaaarrrrr!!"
"Hooiaaatt hiiiaaatt!!"
Muninggar dan Batari Durga sang ratu pedang itu beraksi dan bergerak sangat cepat hingga takkan terhindarkan oleh siapapun yang bertarung melawan mereka. Ilmu gaib yang dimiliki Calonarang tak kan mampu menahan tubuh manusianya yang telah disabet dengan pedang Setan milik kedua ratu pedang itu. Jika Calonarang masih bisa bersuara itu hanyalah roh yang tidak akan bisa terlihat dan menyentuh manusia kecuali ada media tubuh manusia yang siap dimasuki.
Wiro Sabrang yang masih dalam keadaan marah tentu masih siap dengan golok setan di tangan setelah menghabisi nyawa Calonarang.
__ADS_1
"Apalagi kalian?"
"Ampuun kisanak. kami adalah ponggawa dari raja Mojopahit yang baru,tetapi kami merasa senang setelah paduka berhasil membunuh raja iblis ini. Kami menghaturkan beribu terima kasih kepada paduka Gusti." kata kelima pendekar itu sambil bersimpuh menyembah kepada Wiro Sabrang dan Suro Gendeng. Tentu Saja Wiro Sabrang tidak jadi marah dan malah bersyukur bila raja iblis itu telah binasa. Dan harapan Wiro Sabrang tentu ini yang terakhir kali para jin setan mengganggu manusia.
"Baiklah, kalau memang kerajaan ini telah tak ada lagi iblis yang masuk, segera kumpulkan para prajurit dan pengawal untuk aku tunjuk siapa yang akan memegang tahta." kata Wiro Sabrang.
Kemudian seorang ponggawa istana menyuruh pelayan untuk membuang bangkai Calonarang ke kolam buaya milik istana dan membersihkan bekas darah yang tercecer di lantai. Warok Liman yang semula menjadi jenral perang akhirnya bersimpuh di kaki Wiro Sabrang untuk menyembah memberikan hormat. Begitu pula Gagak Putih dan Jian Chow yang mengakui kesaktian Wiro Sabrang dan Suro Gendeng mampu mengusir Calonarang dari bumi Mojopahit.
"Hamba berserah diri kepada Raden yang telah berhasil membunuh Gusti Calonarang. Kami sangat bahagia karena tidak lagi ada rakyat yang sengsara karena ditindas dan disiksa oleh raja setan itu."
"Ampuun Raden, hamba adalah empu pembuat pusaka yang dipercaya sebagai sesepuh istana, hamba begawan Sindukawi Raden."
__ADS_1
"Baiklah.. sekarang sudah berkumpul para ponggawa Mojopahit, aku sebenarnya darah dari Singosari yang telah runtuh itu. Ada baiknya aku akan menyerahkan tahta kepada saudaraku Suro Gendeng atau Suro Menggolo. Bagaimana menurut kalian?"
"Hamba sangat setuju Raden, karena menurut hemat hamba Raden Suro adalah seorang pemuda yang berhati ksatria. Beliau kelak akan menjadi pelindung dan pengayom rakyatnya." kata begawan Sindukawi.