Pendewaan

Pendewaan
#9 Teman Berlatih


__ADS_3

'Sakit sakit sakit'


Yun Tianxie belum pernah merasakan rasa sakit seperti itu. Sejujurnya dia ingin segera pergi, dia berfikir ada yang salah dengan serangan Luo Yan. Bagaimana mungkin serangan dari senjata yang tumpul bisa sekuat itu.


Sangkin kuatnya Yun Tianxie beberapa kali muntah.


"Ada apa? Aku baru saja menyerangmu satu kali dan kau sudah seperti ini!"


Luo Yan menatap Yun Tianxie yang masih muntah, sejujurnya jika Yun tianxie terus seperti itu maka Luo Yan pasti akan segera bosan.


Hanya saja sudah cukup lama sejak Luo Yan memiliki lawan untuk bertarung, jadi Luo Yan sebisa mungkin mencegah rasa bosanya muncul dalam waktu singkat


Setelah beberapa kali muntah, Yun Tianxie akhirnya menjadi lebih baik. Meski begitu dia masih dengan jelas bisa merasakan sakit disekitar perutnya.


Dengan tatapan mata yang tajam Yun Tianxie melihat Luo Yan 'Dasar perempuan gila' Yun tianxie tidak berani untuk mengatakannya langsung, dia hanya bisa mengatakannya didalam hati


'Pria ini….' Untuk sesaat Luo Yan sedikit tergoyah dengan tatapan itu, bukan karena Yun Tianxie, melaikan karena Luo Yan mengingat sesuatu yang membuatnya kesal


Dahulu dia pernah mengalahkan seorang pria, pada saat itu pria itu juga memiliki tatapan seperti Yun Tianxie saat ini


Luo Yan Kembali bergerak, dia lalu dengan cepat mengarahkan tombak tumpulnya ke perut Yun Tianxie, tidak seperti sebelumnya Yun Tianxie dapat melihat serangan itu. Dengan respon yang cepat Yun Tianxie segera menahan tombak tumpul itu.


'Hoo, meskipun tubuh ini sedikit tidak nyaman, tetapi seharusnya bukan hal yang mudah untuk menahan serangan ini'


Luo Yan sedikit tersenyun, dia merasa ini mungkin akan menjadi pertarungan yang sedikit menarik


Luo Yan Kembali menggerakan tombaknya, sama seperti sebelumya Yun Tianxie dapat melihat serangan itu dan Kembali menahannya

__ADS_1


'dia memiliki refleks yang bagus, juga dia berkembang cukup cepat'


Luo Yan telah ratusan kali menyerang Yun Tianxie, pada awalnya setengah serangnnya dapat ditahan Yun Tianxie. Kini Sebagian besar serangan Luo Yan bisa ditahan Yun Tianxie.


'dia telah terbiasa, bagaimana jika kucepatkan sedikit'


Serangan Luo Yan menjadi lebih cepat, Yun Tianxie Kembali merasa kesulitan. Setelah ratusan serangan yang dilancarkan Luo Yan, Yun Tianxie menjadi bisa menahan beberapa serangan itu. Jika itu terus berlangsung maka bukan Tidak mungkin bagi Yun Tianxie untuk menahan Sebagian besar serangan Luo Yan


Hanya saja, situasi saat ini sedikit tidak normal. Yun Tianxie merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Dia bahkan sudah hampir tidak memiliki fokus lagi untuk menahan serangan Luo Yan.


Luo yan mengetahui hal itu, dia lalu menghentikan serangannya dan berkata "kurasa sudah cukup sampai disini, Jika kau mau kau bisa Kembali lagi besok. Tentu saja aku tetap akan memberikan poin Kontribusi."


Luo Yan mengeluarkan sebuah pil dan melemparkannya ke Yun Tianxie "Makanlah itu, dengan begitu besok kau mungkin bisa datang dengan tubuh yang prima"


Yun Tianxie tidak mengatakan apapun, dia lalu menelan pill itu dan segera pergi dari sana. Begitu Yun Tianxie keluar dari Asrama Phoenix dia langsung berkata dengan sedikit kesal "Perempuan itu benar benar Gila, dia telah menggerakan tombaknya lebih dari seribu kali bahkan tanpa merasa Lelah sedikitpun"


Yun Tinxie ingat dengan jelas, betapa tenangnya ekspresi Luo Yan selagi dia terus menggerakan tombaknya.


Ini adalah salah satu alasan mengapa hampir tidak ada yang mau Latihan dengan Luo Yan. Dia sering kali menyerang lawanya dengan kuat, bahkan meskipun senjata yang dia gunakan adalah tombak yang tumpul, rasa sakit yang ditimbulkan tidak main main.


Hanya saja ada satu hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Meskipun pada judulnya tertulis untuk menemani Luo Yan berlatih, tetapi itu bukanlah tujuan Luo Yan yang sesungguhnya. Luo Yan ingin melatih seseorang, karena itulah dia selalu mulai menyerang dari ritme yang paling rendah.


Lagi pula didunia ini apa ada orang yang bisa menjadi teman Latihan Luo Yan ketika dia sedang serius? Jawabannya adalah tidak ada. Bagi Luo Yan membunuh satu juta orang diranah dewa bukanlah sebuah masalah. Dimata Luo Yan itu tidak ada bedanya dengan membunuh hama yang menggangu pengelihatan.


Lalu mengapa orang yang sekuat itu memutuskan untuk berdiam diri? Hal itu tidak ada yang mengetahuinya selain Luo Yan. Setiap orang punya rahasia mereka sendiri, apalagi dikatakan kalau seorang perempuan memiliki banyak rahasia yang tidak harus diketahui oleh orang lain.


Keesokan harinya Yun Tianxie pergi menemui Luo Yan. Meski pada awalnya Yun Tianxie merasa sedikit enggan, tetapi dia merasa kalau menemami Luo Yan berlatih Bukanlah hal yang buruk. Meskipun dia akan merasakan rasa sakit yang luar biasa, itu juga membantu Yun Tianxie melatih refleksnya.

__ADS_1


Ngomong ngomong, seperti yang Luo Yan katakan sebelumnya, setelah memakan Pill itu kini Yun Tianxie sama sekali tidak merasakan sakit disekitar Tubuhnya.


Yun Tianxie dan Luo Yan Terus menerus berlatih, Yun Tianxie seperti telah melupakan tujuannya, Yaitu untuk mendapatkan poin dan memasuki Menara pedang.


Latihan mereka terus berlangsung selama berhati hari, sekarang tepat dihari ke 30. Luo Yan telah menunggu Yun Tianxie dengan sebuah tombak dan pedang yang ada didekatnya.


"Itu?"


Yun Tianxie langsung bertanya, kedua senjata itu jauh lebih bagus dari pada pedang miliknya


"Bukankah kau melihatnya, ini adalah pedang dan tombak"


'Aku tau itu sialan' Yun tianxie ingin mengatakannya dengan keras, hanya saja sampai saat ini dia masih belum berani untuk mengatakan hal seperti secara langsung


"Hari ini kita akan menggunakan kedua senjata ini."


"Eh, apa anda sedang bercanda senior?"


Sampai saat ini Yun Tianxie masih belum bisa menahan semua serangan Luo Yan, bahkan meskipun sebelumnya Luo Yan hanya menggunakan tombak tumpul, Yun Tianxie harus merasakan rasa sakit yang luar biasa setiap harinya


Kini Luo Yan akan menggunakan tombak yang asli, untuk sesaat Yun Tianxie sedikit ragu. Dia tidak tau berapa nyawa yang harus dia miliki jika melawan Luo Yan dengan senjata yang asli.


"Tentu saja kita tidak akan melakukannya sekarang, melaikan setelah kau berhasil melakukan penerobosan"


Luo Yan sedikit tersenyum, Yun Tianxie tidak mengerti arti dibalik senyuman itu. Luo Yan dengan cepat mencengkram perut Yun Tianxie dan memasuki energi spiritual dalam jumlah yang sangat besar.


"Senior Luo Yan, bukankah akan berbahaya jika tubuhnya tidak dapat menahan jumlah energi itu."

__ADS_1


"Tenang saja, Mu Ning. Aku tau batasanku."


Tentu saja batasan dari sudut pandang Mu Ning dan Luo Yan memiliki perbedaan yang sangat jauh.


__ADS_2