
Dalam ujian ini terdapat tujuh buah token emas, sekarang tiga di antaranya berada di depan mereka.
"Akan lebih bagus jika ada token yang muncul lagi. " Guman Yun Tianxie.
Jumlah murid yang berkumpul terus bertambah, sekarang jumlah mereka hampir mencapai empat puluh murid. ini menandakan kalau dunia lukisan ini sendiri tidaklah terlalu besar.
Jika tidak, hampir tidak mungkin bagi semua murid itu untuk bisa datang dalam waktu yang singkat.
Dalam hal ini, jika ada toke emas lain yang muncul mungkin bisa membuat jumlah mereka berkurang.
Dengan jumlah orang yang sebanyak itu, meskipun dia berhati-hati tetap akan sulit bagi Yun Tianxie untuk bisa mendapatkan salah satu token.
Tentu saja tidak hanya Yun Tianxie yang berfikir seperti itu, sebagian besar murid yang di sana juga memiliki pemikiran yang sama.
Selagi mereka semua memikirkan itu, tiba tiba mereka merasakannya fluktuasi yang tidak biasa. Ada sekumpulan energi spiritual yang muncul di dekat token. Tidak lama kemudian muncul seorang pria ranah bencana akhir.
"Hukum ruang! " Yun Tianxie sedikit terkejut, hanya hukum ruang yang bisa melakukan hal itu.
Saat ini meskipun Yun Tianxie ingin mencegah pria itu untuk mendapatkan token emas tetap akan sulit. Ada jarak yang cukup besar di antara mereka, apalagi Yun Tianxie tidak tau pria itu memiliki rekat atau tidak.
Di sisi lain, pria itu tersenyum kecil. Dia sangat yakin untuk bisa mendapatkan token itu dan mengulurkan tangannya. hanya tinggal sedikit lagi pria itu akan bisa memegang token emas.
Tiba tiba sesuatu yang tidak terduga terjadi, sebuah anak panah menusuk lengan pria itu. Anak panah itu lalu berubah menjadi sebuah kobaran api dan membakar lengan pria itu.
Pria itu merasa sangat kesakitan, tanpa disadari dia telah mengambil jarak dari token emas itu.
"Sialan! "
Pria itu sedikit marah, dengan tangannya yang lain pria itu segera meraih token emas. Namun, sama seperti sebelumnya sebuah anak panah menusuk tangannya.
Kini kedua tangan pria itu telah terbakar. Rasa sakit yang dirasakan jelas tidak ringan, api itu membakar langsung ke dalam tulang.
__ADS_1
Pria itu tidak tahan dengan rasa sakitnya, untung hanya kedua tangannya yang terbakar. Pria itu dengan cepat langsung memotong kedua tangannya.
Tentu saja penderitaan pria itu tidak berhenti sampai di sana, tidak lama setelah itu sebuah anak panah yang lainnya menusuk tubuh pria itu.
Tidak seperti sebelumnya, tidak ada api yang muncul. Namun setelah terkena anak panah pria itu langsung menghilang tanpa jejak.
"Kasihan sekali. "
Yun Tianxie turut berduka untuk pria itu, di sisi lain dia juga berterima kasih kepada pria itu. Dengan melihat hasil sebelumnya, Yun Tianxie tau kalau menuju langsung ke token emas merupakan tindakan yang gegabah.
Selain itu, Yun Tianxie juga merasa takut. Anak panah yang ketiga jelas berasal dari orang yang berbeda dengan kedua anak panah sebelumnya.
Meskipun tempat ini merupakan bukit dengan banyak pepohonan, Yun Tianxie masih bisa merasakan keberadaan yang lainnya dengan samar. Namun, tidak untuk keberadaan yang menembakkan anak panah ketiga.
Jangankan untuk melihat, Yun Tianxie bahkan sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya. Semuanya menjadi lebih rumit, Yun Tianxie berfikir kalau jumlah orang yang berkumpul di tempat itu jauh lebih banyak dari yang bisa dia rasakan.
"Jika terus begini, maka tidak akan berakhir."
Sampai sekarang masih belum ada yang bergerak, jika seperti itu terus apa gunanya mereka berkumpul?
Suara itu terdengar sangat tenang, Yun Tianxie dengan cepat melihat ke belakangnya. Seorang perempuan berdiri di sana.
Jelas Yun Tianxie sangat terkejut, dia bahkan tidak menyadari kedatangan perempuan itu.
"Siapa? " Tanpa sadar Yun Tianxie segera bertanya.
"Murid Luar, Gu Pan." Kata perempuan itu dengan sebuah senyuman.
"Kau... Murid Luar Yun Tianxie bukan? " Gu Pan melirik Yun Tianxie. Yun Tianxie belum sempat menjawab, tetapi Gu Pan segera berbicara lagi, "Kudengar kau memilih penampilan yang luar biasa saat di menara pedang, aku tidak berharap kau sama pengecut nya seperti mereka semua!"
Gu Pan bukan kultivator pedang, dia sendiri belum pernah memasuki menara pedang. Namun, dia sudah beberapa kali mendengar tentang Yun Tianxie. bagaimanapun Yun Tianxie adalah seorang pendatang baru di menara pedang, tidak heran jika ada banyak orang yang memperhatikannya.
__ADS_1
"Itu hanya Rumor, aku hanya di ranah bencana menengah. Bagaimana aku bisa melawan sekumpulan monster itu?"
Tentu saja tidak ada monster yang asli di sana, yang ada hanya para murid Luar sekte saja.
"hah, apa gunanya rasa takut itu? Jika memang tidak memiliki keberanian untuk apa memasuki jalan kultivasi dan menembus ranah bencana? Lebih baik tetap berada di peningkatan jiwa dan hidup di tempat terkecil, dengan begitu kau tidak perlu melawan sekumpulan monster itu."
Perempuan itu tidak salah, jalan kultivasi selalu berbahaya. Ranah peningkatan jiwa dan ranah bencana juga berbeda, jika ingin memasuki ranah bencana harus melewati malapetaka surga.
Jika memang takut akan kematian apa gunanya melewati malapetaka itu?
"Malapetaka dan Mereka itu berbeda, Malapetaka tidak memiliki pikiran sedangkan mereka memilikinya. Kau juga sudah melihat pria yang sebelumnya bukan? Pria itu menghilang tanpa ada yang mengetahuinya."
Karena tidak ada yang mengetahuinya, mereka menganggap bahwa pria itu telah mati.
Gu Pan menatap Yun Tianxie. Jika orang lain yang mendengar itu, mereka akan berfikir kalau Yun Tianxie itu seorang pengecut. Namun, Gu Pan berbeda, dia tidak melihat hal itu dari Yun Tianxie.
"Kau..... Jelas seorang pembohong yang baik."
Itu bukan hinaan, melainkan sebuah pujian. Sudah cukup lama Gu Pan tidak melihat orang orang yang bisa berbohong dengan tenangnya.
"Aku tidak tahu apa yang kau katakan." Yun Tianxie hanya tersenyum kecil. Dia bahkan tidak memiliki niat untuk menyangkalnya.
"Terserah lah."
Gu Pan mengeluarkan sebuah kertas kuning, "Kau bisa menggunakan hukum ruang bukan? Lebih baik kau menggunakannya saat ada kekacauan terjadi."
Gu Pan melempar kertas kuningnya, dengan cepat menuju token emas. meski kecil kertas itu bisa dilihat dengan jelas.
Ada banyak orang yang melihat kertas itu, mereka secara alami sedikit bersemangat. Setelah tenang cukup lama akhirnya ada yang bergerak juga, mereka semua bersiap siap.
Gu Pan mengeluarkan tiga buah kertas merah, begitu kertas kuning mencapai token emas. kertas kuning itu langsung mengeluarkan cahaya yang sangat terang.
__ADS_1
Cahaya itu menghalangi pengelihatan semua orang, tentu saja Gu Pan tidak terkecuali. Gu Pan sendiri tidak mempermasalahkannya.
Dengan jarak pandang yang terbatas, Gu Pan melempar kertas merah. Tidak lama kertas merah di lempar, ledakan yang besarpun terjadi.