
***BTW INI MASIH KELANJUTAN FLASHBACKNYA FHENIS YAH GUYS😉..
_SELAMAT MENIKMATI***_
"Iyah sayang dari mama, papa dan kk'mu pergi perasaan opa udah sangat ngak enak (menahan tangisan)". Opa berusaha menahan tangisannya depan aku dan memelukku erat.
"Opa kita ke RS sekarang juga". Aku mengajak opa pergi ke RS secepatnya Aku sudah tidak perduli dengan penampilanku, Aku masih mengunakan mukenah.
__Rumah Sakit__
Aku berlari tampa alas kaki masuk RS masih dengan mukenah yang melekat di badanku, Aku melihat paman dan bibi beserta keluarganya yang lain berdiri dengan wajah lesu dan sedih disitu juga ada kelurganya kk ipar mereka semua tampak sedih juga tak bedah jauh dengan yang lainnya.
"Paman... bibi...!! dimana mama, papa sama kak azkal KK ipar?". Tanyaku ngos2an.
"Tenang nak (Memeluk) kendalikan dirimu". Paman.
"Iyah Nak, fhenis yang tabah yah sayang (Ikut memeluk)". Bibi
"Paman fhenis ingin melihat Mama, papa sama Kak azkal".
"Iyah sayang kamu akan melihatnya". Paman mengajak aku keruang mayat untuk melihat jasad kedua Kedua orangtuaku, Kakiku sangat lemes untuk melangkah masuk kedalam ruangan yang paling menakutkan untukku saat ini. Ruangan yang tak pernah terbayang menjadi pertemuan terakhir aku dengan orang tuaku, Saat aku masuk paman menuntun aku menuju brangkar tempat mama sama papa terbaring kaku dengan luka dimana2. Tanganku gemetaran tak sanggup aku membuka kain penutup kedua orangtuaku tapi paman menguatkan aku, Aku bahkan untuk sesaat melupakan opa, tiba2 opa memegang tanganku erat opapun ikut menguatkan aku padahal dirinya juga sangat rapuh.
"Opa fhenis gak bisa opa Hiks hiks (menangis) fhenis takut opa". Aku masih getaran walaupun opa sama paman sudah berusaha menguatkan aku.
"Nak Orangtuamu sangat menyayangimu maka lihatlah mereka untuk terakhir kalinya hum". Paman meraih tanganku untuk membuka kain kafan penutup kedua orangtuaku, Akupun membukanya Ya Allah sungguh ini bukanlah pemandangan yang ingin aku lihat seumur hidupku. Muka ayah hancur begitu juga dengan ibu wajahnya hancur sebelah dengan tangan dan kaki yang sudah patah total Kakiku lemes badanku juga gemetar hebat, nafasku sesak dan jantungku serasa berhenti berdetak penglihatanku tiba2 buram dan gelap setelah itu aku sudah tidak ingat apa2 lagi.
Saat aku terbangun (Sadar dari pingsan) Aku sudah ada di kamarku.
"Akhirnya kamu sadar sayang". Bibi memelukku aku mengingat kembali tentang orangtuaku.
__ADS_1
"Bibi mama, papa?". Aku bertanya pada bibi segera saja air mataku keluar.
"Ayo kita turun nak (Bantu bangun dari duduk) kita menunggu kamu sadar". Aku sama bibi turun ke lantai bawah, Diruangan tamu itu aku sudah dapat melihat langsung kedua orang tuaku yang sudah terbungkus kain kafan tangisanku kembali pecah.
"Fhenis jangan menangis lagi nak tapi berdoalah untuk Alm kedua orangtuamu". Paman menghampiriku dan memelukku lagi dan lagi. "Ayo liat lagi wajah orangtuamu". paman menuntun aku, Aku mengikuti paman orang yang duduk disamping jasad orangtuaku membukakan kain kafan yang menutupi wajah keduanya yang sudah di mandikan tinggal di bawah ke liang lahat. Aku berusaha tegar dan kuat dan tersenyum melihat kedua orangtuaku, Aku menahan tangisanku. "Fhenis tau mama sama papa sangat menyanyangiku, Aku yakin kalian tidak pernah menginginkan hal ini bukan? tapi Allah menginginkan kalian". batinku.
Setelah penguburan selesai aku tidak langsung pulang rumah tapi aku langsung ke RS melihat kondisi kak azkal yang di rawat di ICU kondisinya sangat kritis dan menghawatirkan.
"Kak cepat sadar dan sembuh, Apa kk masih ingat kalo KK pernah berjanji akan mengabulkan semua permintaankukan? maka sekarang aku meminta kk untuk sembuh". Batinku, Aku berdiri di depan ruangan ICU tempat kk dirawat karna aku tidak bisa masuk kesana. Ternyata kak azkalpun tidak mampu bertahan lama setelah satu minggu di rawat pada akhirnya kakakpun ikut menyusul kedua orang tuaku tepat dihari ulang tahunku 25.
"Apakah ini kado yang dikirim tuhan untukku? Maka mulai saat ini aku tidak akan pernah merayakan yang namanya hari ulang tahun". Batinku, disaat penguburan kak azkal Aku sudah ikhlas melepas mama, papa ataupun kak azkal air mataku sudah kering untuk menangis.
"Kak kau mengabulkan permintaanku tapi bukannya sembuh melainkan untuk meninggalkan aku, kau memilih ikut mama sama papa juga (Memeluk nisan). Aku tau tuhan... kau lebih menyayangi mama, papa kak azkal daripada aku menyanyangi mereka semoga semuanya tenang disana bersama'mu. tuhan tempatkanlah keluargaku di surgamu bersama orang2 yang kau kasihi jauhkan mereka dari api neraka dan ampuni segala dosa2nya Aamin (Mencium nisan)". Aku berdoa untuk keluargaku di kuburan kak azkal lalu aku beralih ke kuburan mama dan papa mengucapkan salam dan menitip rinduku untuk keduanya yang baru seminggu yang lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
Flashback off__
_______________________________________
"Fhenis maafkan aku karna aku baru tau sekarang, seandainya aku tau maka aku akan langsung datang untuk menemuimu". Rio membangunkan aku dan memelukku erat. "Mulai sekarang aku akan slalu ada buat kamu dan jangan pernah sungkan untuk menceritakan apapun sama aku Ok (Menyeka air mata)". Rio melepaskan pelukannya padaku dan aku tersenyum menahan tangis. "Tetap tersenyum jangan menyerah Orangtuamu dan azkal sangat menyayangimu mereka akan sedih melihat kamu sedih".
"Iyah (Mengangguk) Jadi sekarang bagaimana?". Aku bertanya mengenai tujuan Rio datang menemui kak alex malah mendengarkan curhatku.
"Bagaimana apa?". Rio terlihat bingung dengan pertanyaanku.
"Tujuanmu datang menemui pak Alex?".
"Oh itu tidak apa2 nanti juga bisakan, yang paling penting sekarang itu kamu (Memegang tangan)". Rio
"Aku baik2 aja Rio (Mengacak rambut)" Aku melepaskan sebelah tanganku dari genggaman Rio lalu refleks aja aku mengacak rambutnya Rio sama seperti dulu, Aku sangat suka sekali mengacak rambutnya Rio. "Maaf (cengengesan)". Saat aku sadar atas tingkahku
__ADS_1
"Hehee ngak papa asalkan kamu bahagia dan tersenyum (Mencubit hidung)". Rio melakukan hal sama seperti yang dia lakukan dulu kalo lagi gemes atau kesal sama aku.
"Rio...! Fhenis...!". Kak Alex berdiri tepat di depan pintu ruangannya memanggil nama aku sama Rio dan otomatis pandangan kita beralih ke kak Alex, Apa kak Alex sudah dari tadi di melihat aku sama Rio?
"Bang Alex". Rio memanggil kak Alex dengan sebutan bang apa mereka sedekat itu sedangakan aku membungkuk tanda memberi hormat sama kak alex.
"Katanya kamu datang cepat tapi saat menunggu kamu ngak muncul2 jadi aku memutuskan untuk keluar tapi sekalinya kamu sudah disini sama fhenis? (Mengernyitkan Alis dan bingung) Apa kalian saling kenal? (Menunjuk bergantian)". Kak Alex kayannya penasaran karna melihat kedekatan aku sama Rio jadi kak Alex ngak dengar atau melihat aku berpelukan dengan Rio tadi.
"Iyah bang fhenis teman SMA ku dulu". Rio
"Iyah pak kami temanan dari dulu". Akupun ikut mengiyakan dan menatap kak Alex, Saat aku menatap kak Alex ekspresi kak Alex seketika berubah dan berjalan mendekatiku.
"Apa kamu menangis?". Kak Alex memegang pundakku dan menatap kearah Rio dalam sekejam. "Kamu apakan fhenis Rio sampai dia menangis? (Wajah memerah karna marah)".
"Eh tidak pak Rio sama sekali tidak melakukan apapun aku menangis karna lagi bahagian karna bisa ketemu teman sekolah yang digilai banyak cewe dulu (Tersenyum)". Aku bersikap profesional masih memanggil kak Alex dengan sebutan pak di kantor dan sedikit berbohong sama kak alex.
"Benarkah?". Kak Alex masih ngak percaya terlihat jelas di wajahnya masih ragu dengan pernyataanku.
"Iyah pak sungguh (Phiss) Apakah kak Alex sangat dekat dengan Rio sampai dia memanggilmu bang? (Berbisik)". Aku bertanya setengah berbisik sama kak Alex ngak enak juga kalo aku bertanya terus di sengar sama Rio.
"Iyah sayang dia sepupunya novant". Jawab kak Alex tak kalah pelan. "Oyah Rio ayo kita bicara dalam Ruanganku saja". kak Alex mengajak Rio masuk ke dalam ruangan kerjanya meninggalkan aku sendirian.
"Jadi Rio sepupunya Novant? Apakah dunia ini hanya selebar daun kelor? sehingga aku bertemu dengan satu keluarga disini? yang satunya mantan pacar sedangkan yang satunya lagi adalah orang yang aku suka dan cintai". batinku, dan akupun kembali fokus pada pekerjaanku walaupun aku terkadang masih mengingat kenangan bersama keluargaku, Aku tidak sadar kalo di sebelah sana ada mata dengan tatapan tajamnya yang sedang memperhatikan aku sama Rio dari tadi.
_____________________________________
_____________________________________
_Demi Teman2 Author Up Lagi Hari Ini Sekalipun Author Baru Pulang Dan Capek Aktivitas Seharian Hihiii😂 Maafkan Author Yang Malah Curhat😅_ "Semoga Tidak Kecewa Dengam Alurnya".😉
__ADS_1
______________________________________