
Setelah aku memberi taukan nama Daddy dan momi, Tante Nesa langsung pamit katanya mau nemuin orangtuaku untuk memberitahukan keadaanku. Setelah mungkin satu jam lebih aku menunggu tante Nesa kembali dan dibelakangnya muncul Daddy dengan wajah lelahnya.
Krekkk (Buka pintu) Aku menengok kearah pintu melihat siapa yang datang.
"Tante".
"Hy sayang coba liat siapa yang datang". Tante Nesa mempersilakan Daddy masuk
"Daddy... (Bahagia)". Aku langsung bangun dari tidurku melihat orang yang aku rindukan hadir di depanku.
"Cris sayang (Memeluk) Jagoan Daddy (Mencium) Maafkan Daddy sayang (Menangis)". Aku tidak pernah liat Daddy nangis tapi kali Daddy nangis depan aku.
"Daddy.. Apa Cris sedang bermimpi lagi? ( Bertanya dengan polos)". Moment Daddy datang memelukku juga pernah terjadi dan itu hanya mimpiku saja.
"Tidak.. Jagoan Daddy tidak sedang mimpi, Daddy nyata hum". Daddy mengambil tangan kecilku untuk meraba wajahnya, Meyakinkan aku kalo dia nyata bukan sekedar mimpiku. Tante Nesa memperhatikan aku sama Daddy sambil tersenyum nanar, aku yang masih kecil tentu tidak paham dengan ekspresi wajah tante Nesa, wajah ayahpun terlihat aneh saat menatap tante Nesa yang seketika membuang muka saat Daddy menatapnya.
"Daddy. momi sama Xenan kenapa tidak datang menemuiku? Apakah Xenan masih marah sama Cris Dad? dan momi juga masih benci Cris? Daddy Cris bukan pembunuh tapi momi bilang Cris pembunuh". Wajah Daddy langsung sendu
"Tidak Xenan menyayangimu, Daddy juga tau kalo Cris sangat menyayangi Xenan tapi Tuhan lebih menyayangi Xenan dibanding kita semua". Aku tidak mengerti apa maksud Daddy.
"Dad, kenapa tuhan menyayangi Xenan padahal Xenan milik kita?". Aku terlalu polos untuk memahami kalimat yang Daddy ucapkan, sangat sulit untuk aku cernah
"Umh.. suatu saat nanti kamu akan mengerti". Daddy
2 hari kemudian_
Aku sudah dibolehkan pulang oleh dokter yang menanganiku tapi aku masih butuh istirahat, gitu kata dokternya.
Rumah keluarga Alex.
__ADS_1
Aku melihat momi yang lagi duduk di pinggir ranjangnya sambil menatap foto Xenan.
"Dad, kenapa momi menangis?".
"Momi lagi sedih karna Xenan telah bersama tuhan. Xenan tidak lagi bersama kita". Daddy
"Apa akan lama Xenan pergi Dad?".
"Selamanya, tapi suatu saat nanti kita akan kumpul bersamanya di surga". Daddy
"Umh.. (Mengangguk) Cris akan merindukan Xenan nanti Dad".
"Kalo kamu merindukan Xenan kasih tau Daddy biar kita pergi menemui Xenan bersama2". Daddy
"Apa boleh?".
"Oh gitu (mengangguk) Tidak apa2 yang penting bisa menemui Xenan Dad".
"Kalo gitu kita masuk nemuin momi". Daddy menggendongku untuk menemui momi. Belum juga aku menyentuhnya momi langsung mengusirku dan mengatakan aku pembunuh.
"Jauhkan pembunuh itu dariku Darwin". Momi kenapa terus mengatakan aku pembunuh? aku bukan pembunuh. Daddy menyanggah ucapan momi tapi momi sama sekali tidak perduli dengan kata2 Daddy. momi terus mengatakan aku yang membunuh Xenan, mulai dari saat itu momi sering menyiksaku. Mulai dari menjemurku di bawah teriknya matahari, merendamku dalam kolam, memukul, memaki, menghina, mengunci dalam kamar dan sebagainya. Tapi Daddy slalu datang menyelamatkan aku sampai2 aku harus Daddy bawah kekantornya. Disekolah aku dijaga beberapa bodyguard agar momi tidak bisa bertindak kasar lagi padaku.
Karna kebenciannya padaku momi meninggalkan rumah, meminta cerai dari Daddy. Daddy tidak tau harus bagaimana mengingat aku masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap tapi dihatinya yang paling dalam ini adalah jalan terbaik melihat sikap momi yang semakin hari semakin jadi padaku. Akhirnya Daddy memutuskan untuk cerai sama momi.
Dengan berpisahnya Daddy sama momi semakin membuatku trauma dan terpuruk apalagi kata2 pembunuh yang momi ucapkan terus terngiang2 dipikiranku. Sampai pada suatu hari timbullah rasa penasaran yang amat sangat dalam benakku. Bagaimana rasanya membunuh? seperti apa kalo membunuh? Akupun mencoba melakukan pembunuhan bukan pada manusia melainkan membunuh kucing peliharaan momi.
Setelah aku membunuh kucing itu, ada rasa puas dan juga takut melihat kucing itu penuh darah. Ingatanku atas kejadian yang menimpa Xenan kembali terulang, seakan2 Xenan datang dan membenciku.
"Tidak Xenan aku hanya penasaran hiks hiks, aku penasaran bagaimana rasanya membunuh karna momi slalu bilang kalo kak Cris pembunuh". Bayangan Xenanpun mengilang
__ADS_1
Tak.. tak.. tak..
Langkah kaki orang yang mendekat kearah kamarku semakin jelas.
Krekkk... (pintu dibuka)
"Aaaaaaaaa, Cris apa yang kau lakukan sayang". Suara itu sangat familiar, itu suara tante Nesa. Aku berbalik badan melihat wajah takut dan rasa ngeri yang terpancar di wajah tante Nesa atas apa yang dilihatnya.
"Tidak.. hiks hiks Cris bukan pembunuh, Cris hanya penasaran". Jelasku dengan suara terbata2, tante Nesa langsung menghampiri dan membuang pisau yang berlumuran darah yangku gunakan untuk membunuh kucing itu lalu memelukku. "Tidak sayang kamu bukan pembunuh (mencium) jangan lakukan itu lagi, Sungguh itu tidak baik Cris (Menggendong)". Tante Nesa langsung membawahku ke kamar mandi dan memandikan aku dengan hati2 dan lemah lembut.
"Berjanjilah pada tante tidak melakukannya lagi (Mencoba membunuh lagi)". Aku tersenyum dan meraih tangannya
"Cris janji". Seandainya bidadari tampa sayapku tidak hadir dalam hidupku mungkin saja aku sudah menjadi psikopat karna jujur saja rasa ingin membunuh itu slalu saja muncul. Tapi aku terus menahan rasa itu karna janjiku pada bidadari Tampa sayapku dan juga mengingat akan Xenan.
3 bulan kemudian_
Aku meminta Tante Nesa dan Daddy menikah dan aku janji tidak akan meminta yang lain sama Daddy selain menikah dengan Tante Nesa. Daddypun menuruti keinginanku, tante Nesapun mau. Lalu lahirlah si jagoan kedua Daddy yaitu adek tiriku, dia laki2 yang sangat tampan aku awalnya takut untuk menyentuhnya. Aku takut kalo aku menyentuhnya tanganku akan membunuhnya tapi Tante Nesa (Bidadari tampa sayapku) slalu meyakinkan aku kalo aku tidak akan menyakiti adek kecilku. Umurku saat itu 13 tahun, Adek kecil baru hadir setelah Tante dan Daddy menikah 2 tahun.
Aku memanggil tante Nesa Mama dan mengubah panggilanku pada Daddy, papa. Sedangkan mama meminta persetujuan papa untuk mengubah nama panggilanku menjadi (Alex) Aku dan keluarga baruku tinggal dirumah baru setelah Daddy menikah dengan mama Nesa. Ini semua keinginan mama agar aku bisa melupakan kenangan buruk yang menimpaku dirumah lama. Mulai saat itulah hidupku berubah kebahagianku kembali. Trauma yang aku rasakan perlahan menghilang keinginan untuk membunuh pun hilang begitu saja. Ada satu hal yang slalu mama katakan, kalo aku harus bisa menjadi Kk yang teladan untuk adek2ku. Menjaganya walaupun tidak bisa menyentuh/memeluknya, memanggilnya adek atau sayang seperti aku memanggil jagoan kecil kedua papa. Aku hanya bisa mengawasinya, melindunginya dari jauh.
Aku sangat bahagia saat aku tau kalo aku masih punya adek perempuan lagi dan itu adalah Fhenisia. Anak papa sama mama Nesa yang aku tidak mengerti bagaimana bisa papa memiliki anak sedangkan papa sama mama Nesa baru menikah dan hanya melahirkan adek kecilku (Cowo) yang sekarang. Tapi aku tidak perduli bagaimana fhenis bisa ada di dunia ini, yang aku tau kalo aku harus menjaganya supaya kejadian yang terjadi pada Xenan tidak terulang lagi pada Fhenisia.
Saat aku dewasa aku baru tau bagaimana cerita sebenarnya antara mama (Fhanesa) dan papa sehingga Fhenisia ada didunia ini.
Satu orang lagi yang slalu ada saat aku terpuruk dia itu sahabat karibku "Novanto". dia slalu menghiburku dan berbagi apapun denganku, Aku menganggapnya juga saudaraku.
Flashback Off
Alex POV end
__ADS_1