
Masih lanjutan chapter sebelumnya
.
.
Aku mengedarkan pandanganku, Mencari sosok Novant dikamarnya, Tapi Novant yangku cari tak terlihat batang hidungnya. Tapi aku mendengar suara gemiricik air dalam kamar mandi. "Emh, mungkin Novant lagi mandi kali?". Pikirku lalu membaringkan baby boy dalam kendonganku di atas tempat tidurnya Novant. Tak berapa lama Novant keluar dan kaget melihat aku yang sudah duduk di pinggir ranjangnya
"Sayang!! (Kaget)". Novant
"Nov". Aku memperhatikan wajah Novant dan yah di sana terlihat bekas bogelan yang sudah terlihat biru keunguan, Naas sekali, Aku kasian melihat wajah tampannya seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi adek dan kakakku sangat menyayangiku jadi siapapun yang berani menyakitiku maka siap2 kena amukan mereka berdua. Siapa lagi kalo bukan Farel dan kak Alex. Aha.. ini belum lagi papa sama Rio yang dengar, Ngak tau deh Novant bakal di apakan?
"Nov!! Kamu ngak papakan? Apa itu sangat sakit? (Menunjuk wajah) Maafkan Kak Alex dan juga Farel". Khawatir? yah jelas banget aku khawatir, Biar gimanapun Novant adalah kekasihku, Sekalipun kita lagi marahan dan itu karna Novant. Bukan berarti aku ngak ada rasa simpati sama Novant
"Sayang!! Aku ngak pp kok (Senyum tampan) Aduh duh.. Senyum aja pake sakit segala (Gerutu dalam hati)". Novant berjalan mendekat kearahku yamg sudah berdiri dari dudukku tadi. " Udahlah sayang, Alex ma Farel ngak salah kok. Yang salah itu aku jadi sudah sepantasnya untuk di pukul karna aku udah buat kamu sedih. So, Ngak usah minta maaf, Ok".
"Baguslah". Aku ingin kembali duduk tapi Novant meraih tanganku lalu menarikku dalam pelukannya
"Maaf dan makasih sudah datang. Kamu khawatir yah sama aku sayang?". Novant
"Siapa bilang? Orang tadi aku cuman di suruh kak Alex kesini". Aku melepaskan pelukan tersebut dan yah, Novant sepertinya sangat kecewa dengan jawabanku
"Emh.. Aku minta maaf (Menarik napas) Aku yang terlalu berharap rupanya (Mencoba tersenyum". Novant ini yah, Dasar memang ahjussi ngak peka, Kalo aku ngak khawatir yah ngak mungkin aku datang kesini. Aku kembali duduk di pinggir ranjang di ikuti oleh Novant. "Apa baby rewel?".
"Tidak! baby anak yang baik"
"Syukurlah, Makakasih sudah menjaga baby untukku". Aku menatap tepat di manik mata Novant saat ini, Kenapa dia begitu canggung dan berterimah kasih untuk kebaikanku menjaga baby. Bukankah aku sudah katakan kalo aku akan tetap menjaga dan memberikan baby kasih sayang selayaknya anakku sendiri. Aku mengabaikan ucapan terimakasih Novant dan lebih tertarik untuk membahas tentang siapa perempuan selingkuhanya itu
"Apa ini moment yang tepat untuk aku bertanya siapa dia? (Perempuan itu)". Aku sudah putuskan untuk bicarakan ini, Novant juga membalas tatapanku
"Kapanpun kamu mau mendengarkan penjelasanku sayang, Maka itu adalah moment yang tepat. Tapi berjanjilah jangan marah dan meninggalkanku, Ku mohon sayang". Novant meraih tanganku lalu menciumnya berkali2, Ada penyesalan di wajahnya dan tatapan sendunya itu. Aku mengangguk mendengarkan permintaanya Novant
"Baiklah aku janji, Lalu siapa dia? (Perempuan itu)". Tanyaku lagi
"Di..dia Lila". Novant
__ADS_1
"Aku ngak lagi sensus penduduk, Aku tanya apa hubungan kalian?". Jawabannya Novant tuh bikin aku memanas tau ngak? Akukan ngak lagi sensus penduduk jadi siapa perduli nama perempuan itu siapa? Walaupun pada akhirnya aku tau siapa nama perempuan itu Lila
"Eh, itu maaf. Aku pikir kamu mau tau namanya dia juga". Novant
"Yah udah lanjut, Ngapain minta maaf". Bodoh amatlah, Nih Novant lama2 bikin emosi jiwa. Siapa coba pacar yang mau nama perempuan lain di sebut di depannya?
"Ok, maaf (Serbah salah) Lila it..". Novant
"Stop, Stop, Ngak usah sebut2 namanya deh (Kesal) Pake kata dia ajakan bisa (Cemburu)". Aku memotong pembicaraannya Novant, Karna jujur saja aku tuh cemburu banget dengar nama perempuan itu di sebut sama Novant
"Baiklah, baiklah maaf (Mengatupkan tangan) Sebelum aku nikah sama Deyen, Aku pernah pacaran sama dia dulu, DULU... (Menekan kata dulu dengan jelas) Kita pacaran udah lumayan lama dan pada akhirnya dia yang ninggalin aku karna memilih laki2 lain. Ngak tau napa sekarang dia balik dan meminta maaf sama aku dan ingin mengulang kembali masa2 dulu (Menarik napas dalam2) Tentu saja aku tolak dia dengan mentah2. Tapi dia tetap nekat walaupun aku sudah bilang kalo aku udah punya istri juga anak (Yang di maksud istri itu Fhenis) itu kamu sayang". Novant
"Lalu kenapa tidak ingin memberi taukan hal itu padaku?".
"Sebenarnya aku mau ceritain ini ke kamu sayang. Tapi setelah aku pikir2, Aku tidak ingin menganggu waktu kamu bersama keluargamu jadi aku memutuskan ceritain di lain waktu. Aku ingin kamu benar2 menikmati waktumu bersama keluargamu, juga menciptakan moment indah bersama mereka". Novant
"Terus bagaiman dia bisa masuk ruanganmu tampa ada hambatan sama sekali? (Bertanya dengan curiga)".
"Perempuan gila itu sangat nekat sampai nerobos masuk ruanganku. Dia membohongi sekertarisnya aku dengan mengatakan kalo dia ada janji sama aku, Padahal aku sama sekali ngak ada buat janji sama dia". Novant
"Hey.. Sayang maaf (Memeluk) Kumohon jangan nangis. Sayang.. demi tuhan, Aku sama sekali tidak menikmati ciuman/pelukan dari perempuan itu. Aku menolak dan mendorong tubuh perempuan gila itu saat menciumku, Aku juga tidak menikmati saat perempuan itu memelukku. Saat itu aku sedang menahan amarahku sayang, Kalo tidak aku akan menyakiti fisik perempuan itu karna sudah lancang memelukku. Yang boleh memelukku itu hanya kamu tidak bagi perempuan lain dan apa yang kamu liat saat itu, Itu benar2 salah paham sayang (Mencium pucuk kepala)". Novant
"Hiks.. hiks.. Ja..jadi kamu tidak selingkuh dengan perempuan itu?". Aku hanya ingin mendengarkan Novant mengatakan tidak saat ini, Bukan yang lain
"TIDAK... Sama sekali tidak. Dialah perempuan perusak yang ingin menghancurkan hubungan kita. Jadi sayang, Kumohon kedepanya tetap bersamaku melewati rintangan dalam hubungan ini (Melepaskan pelukan) Berjanjilah sayang agar tetap bersamaku sampai maut memisahkan kita (Memberikan jari kelingking)". Novant
Apa2an Novant nih, Masah pake janji jari kelingking segala macam anak kecil aja. Tapi aku tetap mengaitkan jariku denganya, Aku juga ingin menghabiskan waktuku bersama Novant dan juga berjanji untuk slalu bersamanya melewati rintangan dalam hubungan ini. Aku memaafkan Novant juga berusaha untuk percaya pada Novant, Memang benar dalam sebuah hubungan slalu ada rintangan dan tantangan yang siap menerjang. Kalo kita tidak bisa melewatinya maka hubungan itu akan tamat, Aku menganggap bahwa perempuan itu sekarang sebagai ujian pertama dalam hubunganku dengan Novant dan juga penganggap perempuan itu sebagai pemanis dalam ceritaku dengan Novant agar hubungan ini bisa kita jaga satu sama lain
"Aku janji (Mengaitkan kelingking)"
"Sayang! Kamu memang bukanlah wanita pertama dalam hidupku tapi aku ingin kamu jadi yang terakhir dalam hidupku. Maka jadilah wanitaku seutuhnya, Apa kamu mau sayang". Novant
Aku mengangguk lalu tersenyum bahagia, Akhirnya kesalahpahaman ini berakhir. Walaupun mungkin kesalahpahaman yang lainya akan terus muncul tapi aku berharap aku sama Novant tetap bisa mengatasinya dengan kita saling terbuka satu sama lain seperti sekarang
"Aku mau". Aku memeluk Novant sangat erat. Aku sangat merindukan laki2 dalam pelukanku sekarang
__ADS_1
"Sayang.. Minggu depan orangtuaku akan datang kesini untuk melamarku secara resmi". Novant
"Benarkah? Apa orangtuamu bakal menyukaiku? bagaimana kalo tidak? aku takut". Aku memang pernah bicara dengan ortunya Novant beberapa kali tapi belum liat langsung. Maka rasa tidak percayaan diriku timbul, Aku takut kalo aku tidak sesuai dengan kriteria menantu idaman ortunya Novant
"Ayolah sayang, Mereka akan menerimamu dengan baik. Mereka sangat menyukaimu, Jadi jangan pikirin yang macam2, Ok". Novant
"Apakah aku perlu ke salon dan membuat diriku lebih cantik?". Untuk pertama kalinya aku marasa takut terlihat tidak cantik di depan orang lain
"Tidak perlu!! Tetaplah jadi dirimu sendiri, Aku ingin kamu tetap seperti ini. Bagiku kamu sangat cantik dan kecantikanmu membuatku mabuk". Novant
"Ah.. ahjussi terlalu berlebihan (Tersenyum)". Aku merindukan panggilan ini untuk Novant juga menggodanya dengan panggilan oppa
"Sayang.. Jangan bikin gemes deh (Menoel pipi) Sayang.. maafkan aku, Aku udah banyak buat salah sama kamu". Novant
"Aku udah maafin oppa kok (Cengir) dan aku berharap kedepannya kita lebih saling terbuka agar tidak ada lagi kesalahpahaman seperti ini (Serius dalam hitungan detik)".
"Aku janji sayang.. dan terimakasih sudah memaafkan aku. Btw sekarang kamu bisa panggil aku Ahjussi juga Oppa, Aku tidak akan keberatan lagi. Setelahku pikir2, bukankah panggilan itu terdengar romantis (Senyum jail)". Novant baru sadar yah, Kalo anak2 jaman now lagi nge-hits dengan panggilan Oppa. Sebenarnya aku sama sekali tidak kepikiran untuk memanggil Novant Ahjussi/Oppa itu aku panggil karna ingin jailin dia saja
"Hehee.. (Terkekeh) bukankah itu sangat keren Oppa?".
"Sebenarnya tidak juga sih sayang, kadang itu menggelikan". Novant
"Hahahaha.....". Aku sama Novant tertawa bersama seakan beban penghalang di antara kita sudah di hancurkan lalu tiba2...
Eaaaakkkkk...
Tangisan baby boy menghentikan tawa aku sama Novant seperti terhipnotis karna tangisan baby yang tiba2. Atau memang aku sama Novant yang tak sadar kalo baby sudah bangun dari tadi dan terganggu dengan tawa kita. Entahlah hanya baby yang tau heheee.. Ini sangat membahagiakan, Aku berharap kebahagian terus menyertai hubungan ini
.
.
.
.
__ADS_1
Sorry yah guys tidak sesuai ekspetasi kalian😁 karna mang inilah alur yangku buat😀.. Selamat menikmati