
~•FAREL•~
"Angel adik sepupumu jadi datangkan?". Tanya Fhenis pada Angela.
"Jadi, mungkin bentar lagi nyampe". Nyahut Angela yang masih fokus memperhatikan baby boy karna gemes liat baby boy.
Farel juga ada di antara mereka, Farel hari ini datang masih dengan tujuan yang sama kerumah novant, yaitu disuruh mamanya mengantar makanan yang di masak mama Nesa untuk Fhenis.
"Kak, aku balik dulu, aku ada kuliah sore soalnya jadi ngak bisa lama-lama". Farel berpamitan Fhenis.
"Iya.. hati-hati sayang, btw jangan bosan-bosan ya kalo mama nyuruh ngantar apa-apa kerumah ini". Balas Fhenis dengan wajah tampa dosanya, karna adeknya itu slalu datang kerumahnya dengan tujuan yang sama.
"Siap kak, kalo gitu aku balik. Assalamualaikum". Farel menyalami tangan Fhenis dan berlalu meninggalkan Fhenis.
Farel mengendarai motornya lumayan jauh dari rumah Fhenis, Farel melihat seseorang yang sedang kebingungan menatap layar HPnya. Dia juga memukul-mukul sebal pada motornya, orang itu terlihat familiar tapi farel lupa pernah melihatnya dimana. Farel menghentikan motornya dan memperhatikan orang itu secara seksama, Farel tersenyum miring saat menyadari siapa orang itu.
"Diakan cewe aneh itu, sepertinya ban motornya kempes". Yang di maksud farel cewe aneh adalah Fatin, Fatin yang di tabraknya di swalayan waktu itu. ''Bodoh ah, ngapain juga aku perduli". Farel menghidupkan motornya lalu mengendarai motornya melewati Fatin, tapi ntah kenapa Farel ngak tega meninggalkan Fatin yang sedang mendorong motornya. Farel putar balik menuju kearah Fatin dan memarkir motornya di pinggir jalan, Fatin yang sedang mendorong motornya lelah tidak menyadari Farel sudah ada di sampingnya.
"Motor lo kenapa?". Tanya Farel karna Fatin masih tidak merasakan kehadirannya.
"Eh, loh siapa?". Tanya Fatin kaget karna tetiba ada orang di sampingnya.
Farel mendengus lelah karna cewe itu masih aja judes sama seperti terakhir kali dia bertemu dengannya di swalayan.
"Eh, jangan macam-macam lo, gue bisa bela diri, lo ngak maukan kalo tulang lo gue remukin". Ancam Fatin garang ke arah Farel, Farel hanya memasang wajah datar di balik helm yang di pakenya.
"Apaan sih nih cewe? orang cuman niat mau bantuin juga". Batin Farel dan membuka helm yang di pakenya.
"Lo (kaget)". Fatin
"Iya, ini gue, lo kira gue hantu?". Farel
"Kok lo bisa ada disini? lo ngikutin gue ya?". Fatin
"Ngak usah kege'eran deh jadi cewe, lagian ini jalan umum, bukan jalan pribadi milik bapak lo, gue bebas mau dimanapun". Farel ngak sadar kalo dia sudah bicara kasar, mungkin dia terbawah suasana karna Fatin slalu bicara judes padanya.
"Sorry, tapi tolong jangan bawah-bawah nama bapak gue". Fatin mendengus mendorong motornya lebih cepat meninggalkan Farel, Fatin akan sangat sedih saat ada orang yang mengatai bapaknya dan sekarang Fatin sedang menahan tangisannya karna Farel mengatai bapaknya.
Farel menatap punggung Fatin bingung, dia berpikir tidak ada yang salah dengan ucapanya sampai pada akhirnya dia menyadari kalo sikap dan ekspresi Fatin berubah. Farel baru sadar kalo dia udah menyinggung perasaan Fatin.
__ADS_1
Saat Farel balik badan bermaksud mengejar Fatin tapi yang Farel liat Fatin sudah duduk memegang lututnya dengan kepala yang menundum dalam di dekat motor yang di parkirnya. Farel berjalan cepat mendekat ke arah Fatin dan memegang pundak Fatin pelan.
"Maaf gue ngak bermaksud". Farel mendengar suara tangisan dari Fatin "Sumpah, gue benar-benar ngak bermaksud buat nyakitin perasaan lo, gue ngak sadar dengan apa yang gue ucapkan tadi". Farel tidak tau kalo ucapannya akan sangat menyakiti orang lain sampai membuatnya menangis. "Gue sungguh minta maaf". Lanjut Farel, Farel tidak tau bagaimana cara menenangkan cewe yang sudah disinggungnya sampai menangis didepannya sekarang. Farel tidak mendapat respon apapun bahkan suara tangisan dari Fatin sudah tidak terdengar lagi.
"Gue salah, gue benar-benar minta maaf. Ok, gini aja, terserah lo mau lakuin apapun pada gue, asalkan lo mau maafin gue. Apapun akan gue penuhin dan tolong jangan diam agar gue tau kalo..". Farel belum selesai bicara saat Fatin mendongkakkan kepala menatapnya dengan mata yang masih ber-air karna masih menangis.
Deg
Farel merasakan sesuatu yang sesak memenuhi dadanya. Farel bahkan memegang dadanya karna efek sesak itu. Farel ngak tau lagi, Farel meraih tubuh Fatin dan memeluknya erat "Jangan nangis lagi, gue yang salah. Maafin gue". Farel tak hentinya meminta maaf.
"Jangan nangis lagi". Farel melepaskan pelukannya pada Fatin lalu menghapus air mata Fatin dengan ibu jarinya.
Fatin lagi-lagi menatap Farel kali dengan wajah yang memerah bukan karna efek nangis tapi karna malu di peluk dan di hapus oleh Farel air matanya. Tidak ada satupun laki-laki selain bapaknya yang pernah meluk Fatin seperti ini dan farel adalah yang kedua bagi Fatin.
Deg
Jantung Farel bersebar. "Jangan natap gue kaya gitu tapi bicaralah agar gue tau kalo lo baik-baik aja". Farel salah tingkah diliatin Fatin.
Fatin bukannya jawab malah bangun dan menarik napasnya dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Lalu kembali meraih motornya dan ancang-ancang ingin mendorongnya.
"Loh bisakan bicara? setidaknya katakan apa ke". Farel menahan tangan Fatin. Fatin hanya menatapnya sekilas lalu menghempaskan tangan Farel begitu saja. "lo ngak akan menemukan bengkel disekitar sini, jadi percuma lo dorong motor sepanjang jalan ini". Farel jelas tau wilayah sekitar daerah rumah Novant, karna rumah Novant adalah rumah kedua baginya. Fatin terdiam menatap lurus kedepan jalan.
Farel tau cewe itu sedang menunggu dia bicara "Gue bisa bantuin lo". Farel
Farel tersenyum senang karna akhirnya Fatin mau bicara dengannya walaupun tidak melihat kearahnya.
"Gue akan bantuin lo, tunggu bentar gue nelpon teman gue dulu". Farel menelpon temanya yang punya bengkel untuk datang ke tempat mereka sekarang, mengambil motornya Fatin. Fatin hanya mengangguk sebagai jawaban, lumayan lama mereka menunggu akhirnya yang di tunggu datang juga.
"Eh, bro motor loh kenapa". Dua temannya Farel datang dan berpikir motor Farel yang bermasalah.
"Motor gue baik-baik aja". Farel
"Terus ngapain nelpon coba?".
"Motornya yang bermasalah". Jawab Farel dengan menunjuk menggunakan dagunya kearah Fatin yang duduk.
"Cewe lo bro? cantiknya". Puji temanya Farel pada Fatin.
"Bukan urusan kalian, Bawah sudah sana motornya". Farel ngak mau temannya memperhatikan Fatin kaya gitu, Ada rasa tidak suka di hatinya saat cowo lain menatap Fatin. Farel berusaha buang jauh-jauh pikirannya karna tidak mungkin secepat itu punya rasa pada orang lain.
__ADS_1
"Kuncinya mana cantik biar kita bawah motornya". Tanya temanya Farel
"Kasih aja kuncinya, nanti tunggu aja motor lo di rumah". Farel melihat keraguan di mata Fatin "Tenang aja teman-teman gue bukan penjahat kok sekalipun tampangnya kaya preman pasar tapi aslinya mereka baik". Lanjut Farel berucap untuk meyakinkan Fatin.
"Sialan lo Farel, muka ganteng gini lo bilang ke preman pasar, mana ada preman ganteng kita coba. Iya ngak bro". Teman 1
"Iyalah, yang ada preman pasar itu sangar". Jawab temanya yang lain sambil tertawa.
"Yaudah gue antarin dia balik dulu, ntar gue share lok rumahnya dia, buat kalian antar tu motor, Ok". Farel
"Ok bro, ngak usah khawatir". jawab temanya
"Yuk, gue antarin lo pulang". Ajak Farel meraih tangan Fatin, Fatin tidak tau harus bagaimana selain mengikuti Farel yang memegang tangannya menuju motor tempat Farel parkir motornya. "Kok diem? ayo naik". Farel
Fatin mengangguk dan menaiki motor Farel "Mimpi apa semalam bisa ketemu cowo ini lagi". Batin Fatin
"Pegangan ntar lo jatuh lagi jalan, btw alamat rumah lo dimana?". Farel
"Di jalan xx perumahan pusat blox xx". Fatin
"Blok xx itukan rumah orang kaya semua". Batin Farel sambil mengangguk "Lo tinggal disana?". Farel
"umh (Mengangguk) om gue yang punya rumah, bukan gue". Fatin
"Oh". Farel tidak bertanya atau bicara apa-apa lagi pada Fatin.
.
.
.
.
~•Kediaman Novant•~
"Angel, adek kamu kok belum datang juga?". Tanya Fhenis karna orang yang di tunggu ngak muncul-muncul.
"Aku ngak tau, aku telpon nomornya ngak aktif. Fhenis, aku pulang aja kali yah, mungkin dia ada kendala atau bagaimana, biasanya adekku ngak kaya gini". Angela
__ADS_1
"Ya dah ngak papah kamu pulang aja dulu, aku suruh supir antarin yah". Fhenis
"Ngak usah fhenis, aku pulang pake taksi online aja. kalo gitu aku langsung pamit aja yah, perasaanku ngak enak soalnya". Angelapun pamit sama Fhenisia dan pulang kerumahnya karna khawatir pada adik sepupunya yang tak kunjung muncul dirumah Fhenisia.