
Brakkk ...
"Jadi kau menuduh saya melakukan kecurangan? Begitu saudara Budi?" sentak Pak Tommy murka.
Pak Tommy benar-benar kesal, secara tidak langsung Budi sama saja menuduhnya melakukan kecurangan. Padahal tidak sedikitpun ia melakukannya. Meskipun ia tahu Budi telah melakukan sesuatu yang sangat fatal, tetap saja Pak Tommy berusaha bersikap bijak. Sesuai kesepakatan, penilaian akan dilakukan secara prosedural.
Dan setelah ia telaah, proposal yang Amar ajukan memang benar-benar bagus. Tidak salah ia diangkat menjadi kepala divisi. Bahkan bisa saja, bila kinerja Amar selalu bagus dan memuaskan, ia bisa diangkat menjadi direktur operasional menggantikan dirinya atau ditugaskan di perusahaan cabang.
Wajar jenjang karir Amar lebih cepat meningkat dibandingkan Budi, memang ia sekompeten itu dalam bekerja. Otaknya cemerlang. Ia pun kerap memberikan gagasan-gagasan yang cemerlang di setiap rapat. Namun sayang, sifat iri Budi membutakan mata dan hatinya. Ia tidak terima dengan keberhasilan Amar sehingga dengan segenap upaya mencoba menjatuhkan Amar.
Namun, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan merasakan jatuh juga. Begitu pula dengan manusia, sepandai-pandainya melakukan kecurangan, pasti suatu saat akan ketahuan juga.
"Ti-tidak. Saya ... saya tidak bermaksud menuduh Anda melakukan kecurangan, Pak," jawab Budi tergeragap.
Budi menelan ludah kasar saat melihat ekspresi kemarahan terlihat jelas di wajah merah padam Pak Tommy.
"Tidak usah berkelit. Jelas-jelas kau mengatakan kalau saya sudah melakukan konspirasi. Artinya kau menuduh saya telah bekerja sama dengan Amar untuk berlaku curang. Artinya kau sudah menuduh saya bersikap tidak profesional dengan memenangkan Amar, begitu kan maksudmu?" balas Pak Tommy dengan suara menggelegar.
"Saya ... saya ... "
"Berhenti membela diri sendiri. Kau pikir kau sudah hebat, begitu? Proposal sampah kau anggap hebat?"
Brakkk ...
Pak Tommy melemparkan map berisi proposal milik Budi kasar ke atas meja. Budi sampai terhenyak melihat hasil kerja kerasnya dilemparkan dengan kasar seperti itu. Tangannya terkepal erat. Ia benar-benar kesal sekaligus marah. Hal tersebut berdampak pula pada kebenciannya pada Amar. Bara kebencian kini menjadi dendam membara.
"Seharusnya kau sadar diri, kenapa kau tak kunjung naik jabatan. Itu karena kualifikasi mu memang tidak sebanding Amar. Seharusnya bekerja selama bertahun-tahun mampu mengasah kemampuanmu. Kalau kau bijak, seharusnya kau belajar dari Amar. Cari tahu apa kelemahan mu. Lalu asah kelemahan itu agar menjadi kelebihan. Bukannya menyalahkan seseorang karena kekuranganmu. Itu namanya bodoh dan egois," lanjut Pak Tommy berang.
"Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini. Tapi karena sikapmu sudah sangat keterlaluan, maka aku harus melakukannya," ucap Pak Tommy ambigu.
Dahi Amar dan Budi mengernyit, merasa bingung dengan apa yang Pak Tommy katakan.
Lalu pak Tommy menekan interkom yang menghubungkan dirinya dengan sang sekretaris.
__ADS_1
"Iya, pak."
"Suruh Nafisa ke ruanganku segera!"
"Baik, Pak."
Tut ...
Panggilan itupun ditutup sepihak. Tak butuh waktu lama, pintu ruangan pak Tommy pun diketuk. Setelah dipersilakan, sang sekretaris pun membuka pintu dan mempersilahkan Nafisa masuk.
Nafisa mengernyitkan dahi saat masuk ke ruangan pak Tommy.
Suasana di ruangan itu terasa begitu menegangkan. Seketika perasaan Nafisa yang awalnya tenang berubah menjadi gugup. Bahkan bulu kuduknya pun ikut berdiri.
"A-anda memanggil saya, Pak?" tanya Nafisa gugup.
Pak Tommy mengangguk tegas. Sorot matanya begitu tajam membuat jantung Nafisa kebat-kebit. Bukan karena deg-degan, tapi karena tegang.
"APA?" seru Budi dan Nafisa bersamaan. Bahkan matanya nyaris meloncat dari rongganya saking terkejutnya.
"Sa-saya dipecat?" beo Nafisa linglung.
"Maaf pak, apa Anda tidak salah? Saya dipecat? Hanya karena kesalahan saya tidak bisa membuat proposal sebaik Amar?" tanya Budi sedikit nyolot karena tidak terima dengan keputusan sepihak pak Tommy.
"Kau pikir saya atasan yang gila memecat hanya karena kesalahan seperti itu? Tidak. Saya masih memiliki otak yang waras untuk bersikap tidak profesional seperti itu."
"Kalau begitu, bisa Anda jelaskan alasan Anda memecat kami?" tanya Budi lantang yang kini sudah berdiri.
"Benar, Pak. Kenapa Anda memecat saya seenaknya begini? Padahal saya tidak merasa telah membuat kesalahan apalagi yang bersifat fatal sehingga diharuskan dipecat sepihak seperti ini," timpal Nafisa yang tidak terima dipecat begitu saja.
Bukan hanya Budi dan Nafisa yang bingung, Amar yang sejak tadi masih duduk di tempatnya pun ikut merasa bingung.
"Jadi kalian pikir saya memecat kalian seenaknya? Begitu, hm?" sinis Pak Tommy membuat Budi dan Nafisa saling berpandangan sejenak dalam kebingungan.
__ADS_1
"Perlu aku bongkar kebusukan kalian di sini?" tantangnya.
"Apa maksud Anda?" tanya Budi akhirnya.
Pak Tommy mengangguk-anggukkan kepalanya, "baiklah. Sebaiknya memang saya ungkapkan sekarang juga supaya semuanya terang benderang," ucap Pak Tommy.
Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Amar, "Amar, sebelumnya saya meminta maaf karena telah tidak mempercayai perkataanmu tempo hari. Bahkan tanpa mencari kebenarannya," ucapnya. Lalu ia menghela nafas panjang sambil menatap Budi dan Nafisa yang gugup. Sepertinya mereka sudah tahu kemana arah pembicaraan atasannya tersebut, "kalian belum mau membuka suara?" tanya Pak Tommy membuat jantung kedua manusia itu kebat-kebit.
"A-apa maksud Anda, Pak?" tanya Budi.
Sementara itu, tangan Nafisa telah basah karena gugup. Bahkan keringat sebesar biji jagung telah mengalir dari sela-sela rambutnya.
"Daripada menjelaskan panjang lebar dan kalian pasti masih akan berkilah, lebih baik kalian lihat secara langsung saja apa yang saya maksud."
Lantas pak Tommy membuka layar laptopnya. Setelah menemukan apa yang ia cari, ia pun segera memutar laptop tersebut sehingga layarnya kini menghadap tepat ke arah Amar, Budi, dan Nafisa.
Di layar tersebut terpampang bagaimana Nafisa dan Budi datang ke kantor lebih awal. Setelahnya, Nafisa membuka laci meja kerja Amar dan mengambil sesuatu di sana lalu menyerahkannya pada Budi. Tampak juga Budi membuka komputer Amar dan mencolokkan flashdisk ke tempatnya lalu menyalin semua file milik Amar. Tak lupa Amar merecoki data-data di sana. Setelah selesai, ia kembali mematikan mematikan komputer tersebut. Setelahnya, Budi dan Nafisa pun tertawa lebar seolah merasa memang dengan apa yang mereka lakukan.
Mata Amar membulat. Meskipun ia sudah menduga kalau semua itu perbuatan kedua orang itu, tapi tetap saja setelah melihat secara langsung bagaimana kedua orang yang sempat begitu dekat dengannya telah berkonspirasi sedemikian rupa untuk menghancurkannya membuat darah Amar mendidih.
"Bagaimana? Kalian masih mau membela diri?" tanya Pak Tommy membuat kedua manusia itu bungkam, tak mampu mengelak. "Bukan itu saja, bahkan kemarin lalu mereka pun ingin melakukan hal serupa. Tapi sepertinya Anda telah lebih waspada sehingga mengunci komputer Anda jadi mereka memilih jalan lain, yaitu menyuntikkan virus ke komputer mu. Tujuannya sudah jelas agar file-file beserta sistem di dalam sana rusak sehingga kau gagal menyerahkan proposal hari ini, benar begitu Budi, Nafisa?" ucap Pak Tommy membuat keduanya menunduk. Namun bukan karena rasa bersalah, melainkan amarah karena merasa dikuliti habis-habisan oleh atasannya.
"Tapi pak, saya ... "
Tiba-tiba pak Tommy mengangkat tangannya, isyarat agar Nafisa berhenti bicara dan berhenti mencoba membela diri.
"Selagi saya masih meminta baik-baik, segera keluar dari sini. Seharusnya saya melaporkan kalian berdua ke pihak berwajib karena sudah melakukan kesalahan yang cukup fatal, tapi mengingat jasa kalian, khususnya Anda Pak Budi, maka saya hanya akan memecat kalian. Silahkan keluar dari sini. Pintunya masih berada di sana, belum berubah," tegas pak Tommy tanpa merasa iba sedikitpun sebab apa yang kedua orang itu lakukan memang sudah sangat keterlaluan.
Dengan bara kebencian dan dendam membara di benaknya, Budi pun segera keluar dari ruangan itu diikuti Nafisa.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1