
Beberapa hari berlalu semenjak peristiwa kecelakaan yang Nana alami, semuanya tampak tenang. Meskipun begitu, Amar jadi selalu was-was. Apalagi setelah mendengar cerita Aliyah kalau beberapa hari ini ia sering melihat sosok tak dikenal yang memperhatikan rumah mereka. Amar tidak menceritakan perihal pesan yang dikirimkan oleh orang tidak dikenal itu. Amar hanya tak ingin Aliyah jadi semakin kepikiran yang mana akan membuat kesehatan Aliyah kembali menurun.
Namun ketenangan itu ternyata hanya berjalan beberapa hari saja, sebab pada hari Minggunya, kediaman Amar digemparkan dengan teror. Saat Amar dan keluarganya sedang bersantai di dalam rumah, tiba-tiba bel di depan pagar berbunyi. Amar pun gegas keluar untuk melihatnya. Namun Amar tidak menemukan apapun. Amar justru hanya menemukan sebuah kardus berukuran sedang tergeletak di depan rumahnya.
Amar yang penasaran lantas membawa kardus tersebut ke teras. Aliyah dan anak-anak yang penasaran pun ikut keluar untuk melihatnya. Amar lantas membuka kotak itu perlahan. Matanya seketika terbelalak. Aroma busuk menyeruak begitu saja saat kotak kardus itu terbuka.
"Astaghfirullah," ucap Amar terkejut melihat isinya.
"Isinya apa, Mas?" tanya Aliyah penasaran. "Kenapa seperti bau bangkai tikus. Jangan-jangan ... "
"Ibu, ikus ati. Itu ada ikus ati," pekik Amri yang entah bagaimana sudah naik ke atas kursi dan melongokan kepalanya ke dalam kardus.
"Ayah," cicit Nana yang ketakutan. Ia langsung memeluk lengan sang ayah karena takut.
"Astaghfirullah, siapa yang tega berbuat seperti ini dan apa tujuannya?" lirih Aliyah dengan wajah memucat.
Amar yang mengusap puncak kepala Nana pun kini beralih berjongkok.
"Mas pun tidak tahu. Sepertinya ada yang sengaja ingin mengganggu ketentraman rumah tangga kita, Sayang. Kamu mulai sekarang jangan keluar rumah ya! Nana juga, kalau mengantarkan kalian ke sekolah ayah bisa anterin, tapi kalau pulang sekolah, ayah akan menyewa kang Bejo jadi ojek Nana. Nana nggak usah ikut kegiatan apa-apa dulu di sekolah jadi kang Bejo bisa jemput tepat waktu. Minimal sampai keadaan aman dan orang yang meneror keluarga kita tertangkap. Mas akan coba mengkonsultasikan masalah ini sama pihak kepolisian. Ini sudah keterlaluan. Mas hanya tidak mau kalian kenapa-kenapa," ujar Amar.
"Mas juga hati-hati. Aliyah nggak mau Mas sampai kenapa-kenapa," ujar Aliyah yang juga mengkhawatirkan keadaan sang suami.
Amar tersenyum mendengar nada khawatir dari sang istri.
"Iya, Mas akan hati-hati."
...***...
Amar baru saja mengkonsultasikan masalah teror yang ia dan keluarganya alami dengan salah satu temannya yang berprofesi sebagai seorang polisi. Temannya tersebut pun bersedia membantu Amar memecahkan masalah teror yang ia alami.
"Sebelum ini apa kamu pernah terlibat konflik dengan seseorang?" tanya Rafka, teman Amar yang berprofesi sebagai seorang polisi.
"Beberapa waktu lalu iya. Dia mantan rekan kerjaku di kantor dan kekasih gelapnya."
Lalu mengalirlah cerita mengenai Budi dan Nafisa dari bibirnya. Rafka pun mendengarkan secara seksama penuturan Amar.
__ADS_1
"Setahu aku, tersangka pembunuhan bernama Budi ini masih buron. Bisa jadi dia pelakunya. Selain itu, istri ayahmu sekaligus ibu perempuan itu juga bisa menjadi terduga. Bisa jadi kan ia dendam karena kau tidak mau menikahi putrinya yang pada akhirnya putrinya terpaksa menemui si Budi itu untuk menikahinya. Namun mereka tetap belum bisa dijadikan tersangka sebab belum ada bukti yang menjurus ke sana," ujar Rafka.
"Kau benar. Lantas, apa yang harus aku lakukan?" tanya Amar kebingungan.
"Kau tenang saja, aku pasti akan membantu. Aku akan meminta orang-orang ku berjaga di sekitar rumah kalian juga mengawasi putrimu. Bisa saja, tiba-tiba ia muncul lagi."
"Terima kasih atas bantuannya, Ka. Aku nggak tahu harus minta tolong kepada siapa lagi setelah apa yang aku dan keluargaku alami."
"Kau tenanglah. Kau tidak boleh menunjukkan ketakutanmu, kalau tidak, tersangka pasti akan senang. Aku yakin, mereka sengaja ingin mengusik ketenanganmu. Setelah kau merasa kacau, barulah mereka akan mengeksekusi. Oh, ya, aku juga akan mencoba menyelidiki cctv di area sekolah. Selain itu, aku akan meminta tolong tim cyber untuk meretas nomor seseorang yang meneror mu itu. Semoga kita bisa segera mendapatkan titik terang," tukas Rafka membuat Amar akhirnya dapat sedikit bernafas lega.
Beberapa hari kemudian, suasana tampak kembali damai. Namun benak Amar tetap belum bisa merasa tenang dan damai sebelum pelaku teror itu berhasil ditangkap.
"Ayah, Abang mau es kim," rengek Gaffi dengan memasang wajah cemberut. Berhubungan hari itu akhir pekan, jadi seharian itu Amar ada di rumah. Padahal Amar ingin sekali mengajak keluarga kecilnya jalan-jalan sebab ia hanya memiliki dua hari dalam seminggu untuk membersamai anak dan istrinya. Namun karena situasi yang belum memungkinkan, Amar pun terpaksa mengurungkan niatnya sebab ia tak ingin terjadi sesuatu pada anggota keluarga.
"Nanti ayah beliin saja ya sekalian ayah mau beli lauk nanti. Abang mau makan siang pakai apa?" tanya Amar yang hari itu memang bi Lela tidak masuk bekerja. Ada keluarganya yang menggelar hajatan jadi ia izin tidak bekerja selama 2 hari. Untung saja Bi Lela izin saat akhir pekan jadi ia bisa menjaga anak-anak dan istrinya di rumah.
"Ayam chicken, Yah. Tapi yang kayak Upin Ipin," ujar Gaffi dengan mata berbinar membayangkan memakan ayam goreng bagian paha yang berukuran besar.
"Oke. Tapi Abang di rumah aja ya! Abang nggak papa kan?"
Gaffi pun mengangguk, "tapi jangan lama-lama ya, Ayah."
Karena sudah hampir jam 11, Amar pun bergegas untuk membeli lauk masak. Sebelum itu, ia pun berpamitan pada sang istri terlebih dahulu.
"Sayang, Mas beli makan siang dulu ya. Sekalian mau beli es krim untuk Gaffi."
"Iya, Mas. Tapi hati-hati ya."
Amar mengangguk, "kamu ada pingin sesuatu? Atau mau lauk apa?"
"Aliyah mau gulai tunjang sama rempeyek udang, boleh?"
"Boleh dong," ucap Amar gemas yang langsung mencuri ciuman di bibir Aliyah.
"Mas ih, main sosor aja kerjaannya," protes Aliyah yang justru membuat Amar makin gemas.
__ADS_1
"Abisnya kamu tuh makin hari kok makin gemesin sih."
"Emang Aliyah anak kecil."
"Yang gemesin itu bukan anak kecil aja, Yang, yang dewasa pun juga."
"Udah ah, kapan beli lauknya kalai ngobrol terus di sini."
"Ah, iya, Mas hampir saja lupa. Kamu sih."
"Eh, kok Aliyah sih yang disalahin," omel Aliyah yang mana justru dihadiahi Amar dengan kecupan di dahinya.
"Ya udah, Mas pergi dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam salam."
...***...
Satu jam kemudian, mobil Amar berbelok ke carport rumahnya. Dengan perasaan bahagia, Amar turun dari dalam mobil sambil menenteng beberapa kantong yang berisi mulai dari lauk pesanan Aliyah, ayam goreng krispi Gaffi dan Amri, serta lauk pauk untuk tambahan makan siang mereka plus es krim.
Namun, saat memasuki rumah, ia merasa ada yang aneh. Ia mendengar isakan anak-anaknya. Tapi tiba-tiba suara itu menghilang. Ia lantas membuka pintu kamar Gaffi dan Amri, tapi kosong.
"Abang, adek, kalian dimana? Ini ayah sudah membeli ayam goreng dan es krim untuk kalian," seru Amar. "Al, Mas sudah beli pesenan kamu nih," ujarnya lagi sambil meletakkan kantong-kantong berisi makanan ke atas meja.
Amar makin merasa aneh saat anak dan istrinya tidak menyahut sama sekali.
"Al, kamu dimana?"
Amar pun gegas menuju ke kamarnya dan membuka pintu. Seketika matanya terbelalak saat melihat apa yang ada di dalamnya.
"Kau ... Apa yang kau lakukan pada istri dan anak-anakku?" desis Amar saat melihat sosok tak terduga itu sudah berada di dalam kamarnya. Sementara Aliyah sedang terkapar di lantai sambil memeluk kedua anaknya yang tersedu-sedu menahan tangis.
...***...
...2 atau 3 bab lagi ending ya! ...
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...