Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 46


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu, tapi belum ada kemajuan yang signifikan pada kaki Aliyah. Jelas saja hal tersebut membuat Aliyah makin terpuruk dalam diam. Ia jadi makin sering melamun. Merasa nasibnya begitu menyedihkan.


"Al, makan dulu ya! Kata bik Lela kamu belum makan dari siang. Makan dulu ya, nanti kamu sakit," bujuk Amar sepulangnya bekerja.


Aliyah menggeleng, "aku tidak lapar."


"Benar? Atau jangan-jangan kau sengaja ingin aku suapi?" Amar mengerling genit, membuat Aliyah mendengus.


"Udah ah, lebih baik kau bawa kembali Piring itu. Aku sedang tidak berselera makan hari ini," tolak Aliyah sambil mendorong nampan berisi makan siangnya.


Amar menghela nafas panjang, "atau kamu mau makan sesuatu, hm? Nanti aku belikan." Amar tetap gigih membujuk Aliyah agar mau makan.


"Tidak perlu. Terima kasih."


"Al, kenapa harus berterima kasih? Aku bukan orang lain. Aku suamimu. Sudah sepantasnya bahkan sewajibnya aku memberikan apa yang kau mau. Memenuhi kebutuhanmu. Selagi aku mampu, aku pasti akan usahakan itu."


"Sudahlah. Berhenti berpura-pura baik padaku. Aku tahu, kau hanya merasa bersalah dan kasihan atas apa yang aku alami. Jangan seperti ini. Lebih baik kau seperti biasanya yang acuh tak acuh dan tak peduli padaku. Aku tak ingin terlalu berharap lagi padamu. Tolong berhenti. Urus saja urusanmu sendiri. Tak perlu pedulikan aku lagi," ucap Aliyah tiba-tiba membuat dada Amar terasa perih.


"Al, aku memang merasa bersalah padamu, tapi apa yang aku lakukan ini tulus karena aku masih menyayangimu. Bukan karena kasihan. Tolong jangan berpikiran buruk padaku."


"Sudahlah, Mas. Cukup. Akhiri semua ini. Kau tahu, aku muak dengan sikap sok baikmu ini. Lebih baik kau jauh-jauh dariku. Lagipula apa yang bisa kau harapkan dari perempuan cacat seperti ku? Tidak ada. Bahkan untuk mengurusi keperluanmu saja aku tak bisa. Aku hanya perempuan cacat yang merepotkan mu saja. Kalau perlu, akhiri hubungan ini. Aku ... aku sudah tak sanggup lagi. Bukankah kau sudah memiliki wanita idaman lain? Wanita yang lebih sempurna daripada aku. Aku hanya wanita cacat. Aku tak pantas untukmu," jerit Aliyah dengan bercucuran air mata.


Mata Amar membola. Setelah satu bulan lebih sadar dari komanya, baru kali ini Aliyah mengeluarkan segala sesak di dadanya. Secara tidak langsung, Aliyah merasa rendah diri dengan apa yang terjadi pada dirinya. Selain itu, seperti apa yang pernah ia lakukan dulu masih membekas hebat di dalam dadanya. Memberikan kenangan pahit dan juga trauma. Ditambah apa yang ia alami membuatnya makin insecure dengan dirinya sendiri.


Aliyah meraung. Tangisannya pecah. Ia memukul-mukul kakinya yang belum juga bisa ia gerakkan membuatnya benar-benar frustasi.


Amar yang tak kuasa melihat kesedihan Aliyah pun segera menarik Aliyah ke dalam pelukannya. Tangis Aliyah masih pecah, tapi kali ini ia ganti memukul Amar untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya.


"Lepas! Lepaskan aku. Tidak perlu sok baik padaku. Aku tak butuh belas kasihan mu."


"Al, tenanglah!! Tenang."


"Pergi! Pergi! Pergi kau. Aku membencimu. Sangat membencimu!" teriak Aliyah.


Bukannya pergi, Amar justru makin mengeratkan pelukannya.


"Pukul aku, Al. Pukul aku. Pukul lah aku sepuas mu. Tak apa. Aku terima, tapi setelah itu tenang ya! Lalu makan."


"Berhenti membujukku. Aku bukan anak-anak. Lebih baik kau pergi! Pergi!" teriak Aliyah lagi.


"Ya, kau memang bukan anak-anak. Mana ada anak-anak mampu membuat anak," cetus Amar berusaha menenangkan Aliyah agar tidak kembali histeris.

__ADS_1


"Kau itu tuli atau apa, hah? Kenapa tak pergi juga? Bukankah perempuan bernama Fisa Fisa itu jauh lebih sempurna dariku? Dia cantik, memiliki pekerjaan. Mampu membuatmu tersenyum? Bahagia? Aku sudah merelakan mu jadi kenapa kau masih di sini? Lebih baik kau pergi. Temui perempuan itu. Kalau perlu nikahi. Jangan berbuat dosa terus-menerus."


"Kamu bilang apa sih, Al? Siapa itu Fisa? Pizza? Pisa? Dengar, tak peduli secantik apa perempuan di luar sana, yang aku inginkan hanya kamu. Kamu. Hanya kamu satu-satunya. Istriku. Ibu dari anak-anakku. Jadi jangan sembarangan bicara. Ingat, kata-kata itu adalah doa. Jangan sampai kau menyesal sendiri karena kata-katamu itu."


Amar lantas menyeka air mata Aliyah. Perempuan itu masih tergugu dalam tangisnya.


"Sebenarnya kau kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu, hm? Katakan padaku? Jangan kau simpan masalahmu dalam hati. Cukup beberapa bulan yang lalu kau menyimpan rapat apa yang kau rasakan hingga akhirnya kau mengidap sakit yang tak main-main. Kau tahu, aku hancur. Hatiku hancur. Melihatmu terbaring sakit membuatku benar-benar hancur. Aku tak ingin semua itu terulang kembali."


"Kenapa kau tidak pergi saja? Aku ... aku hanyalah perempuan cacat yang hanya bisa menyusahkanmu saja. Kau pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada aku," ujarnya lirih.


Amar terhenyak, Aliyah sepertinya benar-benar merasa terpukul karena kakinya belum ada kemajuan juga.


"Kata siapa kau menyusahkan ku? Aku melakukannya dengan senang hati. Bahkan bila pun kau akan cacat seumur hidup, aku tak mengapa. Aku akan tetap berada di sisimu. Selalu," ucap Amar sungguh-sungguh, tapi Aliyah justru berdecih. Ia sudah kehilangan kepercayaannya pada seorang laki-laki. Khususnya pada suaminya ini.


Namun tiba-tiba dahi Aliyah mengernyit. Ia menekan-nekan perutnya yang terasa sakit. Amar merasa curiga, jadi ia pun bertanya.


"Kau kenapa? Perutmu sakit?"


Aliyah menggeleng, ia justru memilih bungkam. Namun Amar dapat menangkap Aliyah yang tidak bisa duduk dengan nyaman di kursi rodanya.


"Kau mau pindah duduk di ranjang?" tawar Amar. Ia pikir Aliyah merasa capek terlalu lama duduk di kursi roda.


Aliyah menggeleng ragu, tapi diam pun bukan solusi. Aliyah lantas memutar kursi rodanya menuju nakas dan membuka lemari kecil di bawahnya.


"Nana, Nana," panggil Aliyah sambil membuka pintu kamarnya.


"Iya, Bu. Ada apa?" sahut Nana yang gegas berlari mendekati sang ibu.


"Na, Nana ada simpan pembalut nggak?"


Nana menggeleng, "nggak ada, Bu. Ibu dapet? Mau Nana beliin?" tawar Nana.


"Biar ayah saja yang beli. Sebentar lagi Maghrib, nggak baik anak gadis keluar rumah sendiri," sergah Amar yang sempat mendengar pembicaraan antara ibu dan anak tersebut.


Mata Aaliyah sampai terbelalak, sejak kapan suaminya itu mau ke minimarket apalagi untuk urusan membelikan barang pribadi seperti itu?


Tak sampai 30 menit, Amar sudah kembali dari minimarket untuk membelikan Aliyah pembalut.


"Mari, aku bantu buka celanamu!" Jelas saja Aliyah merasa canggung.


"Biar Nana saja."

__ADS_1


"Biar aku saja."


"Nggak. Nggak perlu. Biar Nana saja."


"Al, nggak perlu malu-malu seperti anak perawan. Ingat, anak kita sudah 3 artinya apa? Nggak perlu malu-malu lah. Ayo, aku bantu!"


Aliyah hanya bisa mencebikkan bibirnya dengan wajah memerah bagai tomat busuk. Ingin protes pun percuma. Benar-benar menyebalkan.


Sementara itu, di rumah orang tuanya, Nafisa masih saja merasa tak enak badan. Sang ibu lantas masuk ke dalam kamar Nafisa dan menguncinya.


"Fisa, jujur sama mama, apa kamu hamil?" tanya ibu Nafisa membuat mata Nafisa terbelalak.


"Ha-hamil? Bagaimana mungkin. Mama jangan ngadi-ngadi deh."


"Sa, mama ini mama kamu. Mama yang melahirkan kamu. Apa kamu lupa, mama pernah hamil dan melahirkan kamu. Meskipun anak mama cuma kamu doang karena setelah menikah dengan papa, mama nggak kunjung hamil lagi, tapi setidaknya mama punya pengalaman mengandung. Jujur aja, nggak perlu takut-takut gitu, apa kamu hamil?" cecar ibu Nafisa.


Nafisa menggeleng, "Fisa nggak tau, Ma. Tapi ... Fisa memang sudah telat lebih dari sebulan."


"Astaga, berarti benar kamu hamil. Mama minta kamu segera periksa diri kamu secepatnya. Kalau benar, segera bawa laki-laki yang menghamili kamu itu kemari. Kalian harus segera menikah."


"Tapi ma ... "


"Tapi apa? Jangan bilang ... laki-laki itu sudah memiliki seorang istri?"


Mata Nafisa sontak membulat, "ba-bagaimana mama bisa tahu?"


"Jadi benar?"


Nafisa menunduk malu.


Ibunya berdecak, "pokoknya bawa laki-laki itu kemari sebelum perutmu makin membesar."


"Tapi bagaimana, Ma? Dia kan sudah beristri, apa ... nggak masalah?"


"Memangnya kenapa? Kalau dia sudah memilih kamu, apa salahnya. Tinggal minta dia ceraikan istrinya, beres," ucap ibu Nafisa enteng.


"Jadi mama nggak masalah?"


Tiba-tiba ibu Nafisa tersenyum menyeringai, "kau pikir papamu itu dulu bujang atau seorang duda? Tidak. Dia pun sudah beristri, tapi lihat ... siapa yang menjadi pemenangnya? Mama kan? Jadi tak perlu khawatir. Mama nggak masalah. Yang penting, dia punya pekerjaan. Bukan pengangguran kere," ucap ibu Nafisa lagi sebelum berlalu dari kamar sang putri.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2