Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 77


__ADS_3

Seperti biasa, Aliyah akan mengantarkan kepergian Amar bekerja sampai ke teras rumah. Sebelum pergi, Aliyah akan mencium punggung tangan Amar dan Amar akan mengecup dahi Aliyah dengan sayang.


"Hati-hati di rumah ya. Kalau ada apa-apa, hubungi aja, Mas. Atau kalau kamu perlu atau kepingin sesuatu, kasi tau Mas. Jangan kayak kemarin-kemarin, kepingin apa tapi diem aja. Ingat, kamu itu tanggung jawab Mas," ucap Amar sambil berjongkok di depan Aliyah.


Aliyah tersenyum lalu mengusap surai hitam Amar yang tertata rapi.


"Hmmm ... Iya, Mas, iya. Ya sudah, berangkat gih! Nanti terlambat," ujar Aliyah.


"Ngusir nih?"


"Eh ... " dahi Aliyah mengerut.


Amar pun terkekeh, "ya sudah, Mas berangkat," ujar Amar seraya berdiri. "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," sahut Aliyah seraya melambaikan tangan ke arah Amar yang sudah naik ke dalam mobil dan melajukannya. Amar pun balas melambai sambil menjalankan mobilnya.


Setelah mobil Amar menghilang dari pandangan, Aliyah pun memutar kursi rodanya. Namun tiba-tiba ia menangkap sekelebat pria yang mengenakan topi dan berpakaian serba hitam berlalu dari balik pohon di seberang rumah mereka. Namun sayang, Aliyah tidak bisa melihat jelas sosok itu sebab sebagian wajahnya tertutup topi. Belum lagi, ia berlalu dengan begitu cepat. Entah siapa sosok itu. Aliyah yang tidak memiliki pikiran buruk pun segera berlalu begitu saja. Ia tak ingin menduga-duga yang mana hanya akan membuatnya selalu kepikiran.


Hari berganti hari dan hampir setiap hari pula Aliyah menangkap sosok tersebut. Aliyah jadi penasaran, siapa orang itu dan mengapa ia merasa orang tersebut seakan memperhatikan rumahnya.


Siang hari, Aliyah tampak sedang menemani Amri tidur siang. Berbeda dengan Gaffi yang jarang tidur siang. Ia lebih suka bermain sendiri ataupun menonton kartun daripada tidur.


"Nana kemana ya? Udah jam 2 kok belum pulang juga," gumam Aliyah mencemaskan sang putri yang belum pulang sekolah.


Aliyah tertatih menggerakkan pinggulnya. Menggeser sedikit demi sedikit untuk berpindah posisi ke tepi ranjang. Lalu Aliyah mengulurkan tangannya untuk menggapai kursi roda. Sulit, tapi Aliyah tetap berusaha. Ia merasa sedih selalu merepotkan Bi Lela hanya sekedar untuk duduk di kursi rodanya.


Setelah mencoba menggapai, akhirnya Aliyah bisa meraih pegangan kursi roda. Lalu ia menarik kursi roda ke tepi ranjang. Lalu dengan perlahan ia menggeser kakinya hingga menjuntai di tepi ranjang. Kemudian dengan perlahan juga ia mengangkat pinggulnya agar bisa duduk di kursi roda. Namun nahas, karena tidak bisa menopang berat badannya dengan baik, Aliyah justru menghempaskan di tepi kursi roda. Alhasil, tubuh Aliyah merosot ke lantai dan terhempas dengan cukup kencang.


"Aaargh ... "


"Ibu ... " pekik Gaffi saat melihat ibunya terjatuh.


Bi Lela yang mendengar jeritan Gaffi pun berlari dengan tergopoh-gopoh menuju kamar Amri dan Gaffi. Matanya membulat saat mendapati Aliyah meringis kesakitan.


"Mbak Aliyah, mbak kenapa bisa jatuh?" tanya Bi Lela panik. Ia lantas membantu Aliyah agar bisa duduk di kursi rodanya.

__ADS_1


"Al mau belajar naik ke kursi roda sendiri, tapi malah jatuh," ucapnya sedih. "Aliyah benar-benar menyusahkan ya, bi. Cuma pindah ke kursi roda saja tidak bisa. Aliyah benar-benar seorang ibu dan istri yang tidak berguna," keluhnya pedih.


Meskipun Amar sudah mati-matian menyakinkan Aliyah kalau ia tidak merepotkan sama sekali dan ia akan tetap mencintainya sampai kapanpun, tapi tetap saja sisi rendah diri itu terkadang muncul seperti saat ini. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan untuk hal sepele seperti inipun ia tidak bisa.


Melihat majikannya tergugu membuat bi Lela ikut bersedih.


"Mbak Al jangan begitu, kata siapa mbak Al itu ibu dan istri yang nggak berguna? Asal mbak tahu, keluarga ini akan kacau kalau mbak nggak ada. Semua pasti akan sedih. Jangan begitu. Bibi yakin, kaki mbak Aliyah akan sembuh nggak lama lagi. Jangan putus asa. Pak Amar pasti akan ikut sedih kalau mbak Al sedih," ujar Bi Lela menasihati.


"Tapi bi ..."


"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari depan pintu.


"Bi, sepertinya ada tamu," ujar Aliyah.


"Bibi liat dulu ya, mbak. Atau mbak mau sekalian ikutan aja."


"Saya ikut aja, Bi."


Bi Lela pun segera mendorong kursi roda menuju depan. Namun saat mereka baru sampai di pintu, mata mereka terbelalak.


"Assalamu'alaikum," ucapnya lagi.


"Wa'alaikumussalam, Bu. Mari Bu, silahkan masuk!" ujar Aliyah mempersilahkan sang guru yang memapah Nana masuk. Aliyah juga meminta Bi Lela membantu sang guru memapah Nana masuk ke dalam rumah dan mendudukkannya di sofa.


"Perkenalkan, Bu, nama saya Aileena. Saya wali kelas Nana," ujar Aileena seraya mengulurkan tangan.


Aliyah pun menyambut tangan itu sambil tersenyum ramah. Namun senyum itu seketika hilang saat melihat ke kaki Nana yang dibalut korban pun tangannya.


"Nana kenapa? Kaki dan tanganmu kenapa, Nak?"


"Nana ... "


"Biar ibu saja," sergah Aileena. "Begini, tadi saat pulang sekolah, saya meminta Nana dan beberapa temannya yang terpilih untuk mengikuti lomba cerdas cermat agar mengikuti pelajaran tambahan di sekolah. Nah, saat menunggu angkot untuk pulang, tiba-tiba ada motor yang menyerempet tubuh Nana hingga terjatuh. Sayangnya, motor itu tidak memiliki plat jadi saya tidak tahu siapa pelaku itu. Kebetulan saat itu saya ada di tempat parkir untuk masuk ke mobil jadi saya melihat bagaimana motor tersebut menyerempet Nana kemudian segera berlalu begitu saja. Jadi saya pun segera membawa Nana ke klinik yang ada di dekat sekolah takut kalau kelamaan lukanya infeksi," papar Aileena membuat Aliyah terhenyak.


"Diserempet? Apa orang itu sengaja melakukannya?"

__ADS_1


"Saya juga kurang tahu, Bu. Untuk sementara, Nana nggak usah sekolah dulu ya, Nak. Minimal sampai luka kamu kering."


"Iya, bu. Terima kasih ya, Bu, sudah anterin Nana pulang."


"Iya, Bu, terima kasih banyak ya sudah bawa Nana ke klinik dan anterin anak saya pulang ke rumah juga. Saya nggak tahu gimana nasib Nana kalau sampai nggak ada ibu yang cepat menolong," ujar Aliyah.


"Itu sudah kewajiban saya, Bu. Kalau begitu, saya permisi."


Usai Aileena pergi, Aliyah pun menghampiri Nana. Ia menanyai Nana dengan berbagai hal.


"Na, apa Nana ada curiga ke seseorang?" tanya Aliyah. Bisa saja kan ia curiga pada seseorang di sekitarnya. Jadi dengan begitu, mudah untuk menyelidikinya.


Nana menggeleng, "nggak ada, Bu."


"Apa Nana liat wajah orang yang nabrak Nana?"


"Nggak juga, Bu. Soalnya orang itu tiba-tiba aja nabrak Nana. Untung aja pelan, kalau nggak pasti luka Nana lebih dari ini."


Aliyah terpengkur, ingin curiga, tapi pada siapa. Apa mungkin orang itu tidak sengaja? Tapi kenapa orang itu berlalu begitu saja tanpa punya keinginan menolong sama sekali.


"Lain kali lebih hati-hati ya, Na. Perhatikan sekitar setiap berada dimana pun. Jangan lengah. Ibu takut," ucap Aliyah sambil mengusap pipi Nana.


"Iya, Bu, maafkan Nana yang nggak hati-hati."


"Kamu nggak perlu minta maaf. Kita memang tidak tahu kapan musibah akan menimpa kita. Tapi ingat, utamakan hati-hati."


Bagaimanapun Aliyah seorang ibu. Tak ada seorang ibu yang akan baik-baik saja saat anaknya mengalami sesuatu yang tak terduga seperti ini. Bahkan luka kecil pun bisa jadi masalah di depan seorang ibu, apalagi luka karena kecelakaan.


Sementara itu, di kantor wajah Amar tiba-tiba memucat saat ada seseorang yang mengiriminya sebuah video saat Nana ditabrak. Di bawahnya ada sebuah pesan yang tertulis Aku hancur, kau pun harus hancur. Bagaimana dengan kejutan dariku? Keren bukan?


Tubuh Amar seketika bergetar. Jantungnya berdegup kencang. Tanpa berpamitan lagi, Amar pun segera meraih kunci mobil dan melajukannya menuju rumah. Bahkan ia lupa untuk memastikan video itu terlebih dahulu dengan menelpon ke rumah. Ia terlampau panik. Ia takut terjadi sesuatu pada sang putri hingga membuat Aliyah kembali drop.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2