Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 48


__ADS_3

Seperti ucapannya, Nafisa kembali datang ke kantor Amar sore harinya. Amar benar-benar jengah melihat Nafisa yang lagi-lagi datang menemuinya. Padahal Amar sudah mengusir perempuan itu, tapi perempuan itu seperti tak ada rasa malu lagi. Mungkin memang rasa malunya telah habis terkikis tanpa menyisakan sedikitpun.


"Mas Amar," panggil Nafisa lagi yang sudah berdiri di samping mobil Amar. Padahal Amar sengaja pulang lebih awal agar ia bisa membantu mengurus anak dan istrinya, tapi saat ia tiba di basemen gedung kantornya, ternyata sudah ada Nafisa berdiri di samping mobilnya.


Ya, selama sebulan ini memang Amar meminta izin pulang lebih awal. Amar sudah menjelaskan kondisi istrinya pada sang atasan. Awalnya Pak Tommy merasa keberatan, tapi Amat berjanji akan tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Sehingga akhirnya pak Tommy pun menyetujui permohonannya.


Lalu saat ia sedang terburu-buru ingin segera pulang, tiba-tiba si manusia parasit telah berdiri di samping mobilnya dengan memasang tampang memelas. Dulu, sebelum ia sadar dan tahu kebusukan Nafisa, mungkin ia akan dengan segera luluh ketika melihat tampang memelasnya itu. Tetapi sekarang tidak. Ia sungguh-sungguh muak melihatnya.


"Kau mau apa lagi sih? Sudah aku bilang, pergi dan jauh-jauh dariku. Kita sudah tidak ada urusan lagi sama sekali. Kau itu tuli atau apa sih?" geram Amar. Bahkan saking kesalnya, ia pun berkata kasar pada Nafisa. Tak peduli kalau perempuan itu akan tersinggung atau sakit hati sebab Amar sudah kadung kesal. "Minggir! Aku mau masuk," serunya kesal dengan mata melotot.


"Mas, tolong, beri aku waktu sebentar saja untuk bicara. Tolong, sebentar saja. Aku ingin bicara denganmu," melas Nafisa tak peduli pada penolakan Amar padanya.


"NAFISA, AKU TEGASKAN SEKALI LAGI, AKU TIDAK MAU BICARA APAPUN LAGI DENGANMU, MENGERTI? SEGERA MENYINGKIR SEBELUM AKU SENDIRI YANG MENYERETMU PERGI DARI SINI!" sentak Amar benar-benar murka.


Nafisa sampai terperanjat mendengar bentakan yang sudah seperti raungan singa tersebut. Ia tidak pernah melihat sisi Amar yang seperti ini. Selama mengenal Amar, Nafisa selalu melihat sisi lembut dan penuh perhatian dari Amar. Oleh sebab itu, ia benar-benar terkejut dengan sikap Amar yang sungguh tidak terduga.


"Mas, aku mohon, maafkan aku. Tolong, jangan seperti ini. Bukankah kita pernah dekat satu sama lain. Apa kau tahu, karena kedekatan kita itu telah menumbuhkan rasa cinta di hati ini untukmu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Mas. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Izinkan aku kembali dekat denganmu seperti dulu. Aku yakin, kau pun memiliki rasa yang sama denganku, bukan? Aku yakin, kedekatan kita selama ini telah menumbuhkan rasa cinta di hatimu untukku. Namun karena kesalahanku, kau jadi marah. Aku mohon maafkan aku, Mas. Aku menyesal," lirih Nafisa yang sudah tersedu-sedu.


Amar mengumpat dalam hati. Ia benar-benar kesal berhadapan dengan perempuan itu. Amar melirik jarum jam di pergelangan tangannya dan menghembuskan nafas kasar.

__ADS_1


"Dengar, kita memang pernah dekat, tapi sekarang aku sadar, hal itu salah. Itu sebuah kesalahan. Sungguh aku sangat menyesal telah dekat-dekat denganmu. Sampai-sampai aku menyakiti istriku sendiri. Kita memang pernah dekat, tapi aku sadar sesadar-sadarnya kalau aku tidak pernah memiliki rasa yang seperti kau katakan tadi. Anggap saja itu kebodohanku yang sudah membuka celah untuk sebuah perselingkuhan. Tapi aku bersyukur, aku tidak sampai terjerumus ke tahap itu. Jadi aku mohon, jangan pernah menemui ku lagi. Ada hati yang harus aku jaga. Aku mencintai istri dan anak-anakku. Karena perbuatanku, aku hampir saja kehilangan orang-orang yang ku cintai. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, jadi tolong ... tolong sekali, jangan ganggu hidupku lagi," ucap Amar penuh kesungguhan.


Bahkan Amar sampai menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Menunjukkan kalau ia sungguh-sungguh tak ingin lagi berurusan dengan perempuan itu. Tapi yang namanya Nafisa, tetap saja pantang menyerah.


"Mas, itu bukan cinta, tapi hanya rasa bersalah. Bukankah mas sendiri yang bilang sudah bosan dan muak dengan istri Mas yang lusuh dan kerjanya tidak becus."


Diingatkan kembali dengan apa yang pernah ia katakan pada Nafisa, membuat kedua tangannya terkepal. Ia marah pada diri sendiri, bagaimana bisa ia menjelek-jelekkan istrinya sendiri dihadapan perempuan lain.


'Kau memang benar-benar brengsekkk, Amar. Memang kau tak sepantasnya mendapatkan maaf dari Aliyah sebab apa yang kau lakukan memang sudah sangat keterlaluan. Meskipun kau tidak sampai terjerumus pada perselingkuhan, tapi kau sendiri yang telah membuka celah tersebut. Seandainya Aliyah tidak jatuh sakit, pasti kau akan terus-terusan melakukan kesalahan dan menyakiti Aliyah. Ya Allah, aku mohon, ampunilah salah dan dosaku. Sesungguhnya engkaulah maha pengampun atas dosa-dosa.'


"Aku memang merasa bersalah pada Aliyah, tapi bukan berarti apa yang aku rasakan ini sekedar rasa bersalah. Aku sadar, aku salah telah menjelek-jelekkannya. Namun kini aku sadar, dia sebenarnya terlalu sempurna untukku. Aku yang bodoh hampir terlambat menyadarinya. Aku sadar, aku tak bisa hidup tanpa istriku. Jadi sekali lagi aku mohon, tolong ... tolong pergi jauh dari hidupku karena aku tak ingin lagi berurusan denganmu."


Nafisa mengumpat kesal karena kesulitan menaklukkan Amar. Ia pikir setelah kedekatannya selama ini, ia akan mudah meluluhkan hati Amar. Namun kenyataan tak sesuai ekspektasi, Amar ternyata telah membangun tembok tinggi nan kokoh membuatnya kesulitan yang masuk kembali ke dalam kehidupannya.


"Sialan. Brengsekkk. Kenapa sulit sekali sih?"


Nafisa benar-benar kesal saat ini. Dering ponselnya yang tidak henti-hentinya berbunyi membuat Nafisa kian kesal.


"Apa?" ketus Nafisa saat panggilan itu ia angkat.

__ADS_1


"Kamu kok kasar banget sih, Sayang? Ada masalah?" tanya seorang pria yang menghubunginya itu.


"Nggak usah kepo. Bilang aja ada apa? Kepalaku lagi pusing."


Terdengar dengusan kesal dari seberang sana, "aku itu ada di kontrakan kamu sejak pagi. Kenapa kamu nggak ada? Kamu kemana?" cecar Budi.


"Nggak usah banyak tanya. Aku mau kemana itu urusanku," ketus Nafisa.


"Oke, itu emang urusanmu. Tapi ada yang mesti aku tanyakan lagi dan mau bagaimanapun ini urusanku. Aku menemukan test pact di tempat sampah, jujur sama aku, apa kamu hamil?"


Degh ...


Padahal Nafisa berniat menyembunyikan hal tersebut dari Budi. Meskipun ia sangat yakin kalau anak yang ia kandung merupakan benih dari Budi, tapi entah mengapa ia tidak berniat sama sekali meminta pertanggungjawaban laki-laki itu. Justru sebaliknya, ia membayangkan bisa menikah dengan Amar. Menurutnya, Amar akan menjadi suami sempurna bila ia berhasil menikah dengannya. Bukan hanya wajahnya yang tampan, tapi Amar juga laki-laki yang perhatian, pintar, dan paling penting mapan. Oleh sebab itu, sebisa mungkin ia ingin mendekati Amar lagi dan menjebaknya agar mau bertanggung jawab atas bayi yang ia kandung.


"Itu ... bukan punyaku," kilah Nafisa pada akhirnya.


Dahi Budi berkerut dalam, "bukan punyamu? Bagaimana bisa? Aku menemukan ini di tempat sampah kamar mandi di kontrakan mu. Tidak mungkin kan di tetangga mu membuang ini di tempat sampah kamar mandi mu."


"Ya memang tak mungkin. Sebab itu punya sepupuku. Semalam sepupuku menginap di kontrakan ku . Karena dia sudah seminggu ini mual-mual, jadi aku sarankan cek kehamilan pakai test pact dan ternyata hasilnya dia hamil. Makanya dia buang test pact itu sebab dia mau periksa langsung ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan. Bagaimana, kau puas dengan jawaban ku? Aku tutup ya!"Nafisa terus saja berkelit. Ia memang menjadi simpanan Budi, namun tak pernah terbesit sedikitpun di benaknya yang menjadi istri dari kekasih gelapnya tersebut.

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2