
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab Bunda Naima seraya menoleh. "Kau?" desis Bunda Naima tak menduga akan kedatangan tamu yang tak diundang tersebut. "Untuk apa kau datang kemari?" imbuhnya ketus.
"Naima, boleh aku bicara denganmu?" tanya Armand hati-hati.
Alis Bunda Naima menyatu, kemudian tersungging smirk di sudut bibirnya.
"Bicara? Tak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Segalanya telah berakhir. Jadi sebaiknya kau pergi dari sini," ujar Bunda Naima berusaha untuk bersikap biasa saja. Meskipun rasanya ingin sekali Bunda Naima memaki Armand, tapi ia harus mengendalikan diri sebab ada kedua cucunya yang masih berdiri di sisi kiri dan kanannya.
Armand menelan ludahnya kasar. Naima benar-benar berubah, pikirnya. Tak ada lagi Naima yang begitu lembut padanya. Meskipun terlihat biasa saja, tapi nada suara Bunda Naima terasa begitu dingin hingga mampu membekukan dirinya.
Lalu Armand menoleh ke arah dua cucunya. Matanya berkaca-kaca. Betapa ia telah terlalu lama kehilangan momen dengan anak-anaknya. Bahkan ia tidak membersamai mereka saat tumbuh kembang menuju dewasa. Armand masih ingat, ia meninggalkan Naima dan kedua anaknya saat usia mereka baru beranjak remaja. Dengan tega dirinya meninggalkan Naima yang begitu membutuhkan dirinya dan lebih memilih wanita lain hanya demi memuaskan napsu duniawinya.
Padahal ia tahu, saat itu Naima begitu bergantung padanya. Naima tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Bahkan ia meninggalkan anak-anak dan istrinya begitu saja setelah menjatuhkan talak. Tak ada nafkah. Benar-benar meninggalkan. Hingga setahun kemudian, mungkin karena rasa rindu, Armand mencoba melihat keadaan Naima dan anak-anaknya di rumah lama mereka. Tapi ternyata, mereka sudah tidak ada. Rumah yang ia bangun untuk Naima pun telah dijual. Armand mencoba mencari keberadaan mereka, namun Naima dan anak-anaknya bagai hilang di telan bumi. Mereka menghilang tanpa jejak. Bahkan sekolah anak-anaknya pun dipindahkan. Armand merindu, tapi yang dirindu telah pergi entah kemana. Armand menyesal telah berlaku kejam pada Naima dan anak-anaknya. Terlebih saat Gita tidak bisa melayaninya seperti Naima, membuatnya sering memendam rindu sekaligus penyesalan. Namun nasi telah menjadi bubur, Armand tak mampu melakukan apapun lagi selain menjalaninya.
Hingga pertemuan tak terduga terjadi. Sungguh Armand merasa seperti padang pasir gersang yang diterpa hujan. Menyejukkan.
Namun sikap Naima dan Armand membuatnya merasa perih. Ia sadar, ini merupakan buah dari perbuatannya sendiri. Siapapun akan sakit hati, terluka, lalu membenci bila diperlukan seperti yang ia lakukan pada Naima dan anak-anaknya.
Melihat wajah Gaffi dan Amri yang memiliki kemiripan dengan Amar saat kecil, sontak saja membangkitkan kenangan indahnya pada masa kecil anak-anaknya dahulu. Begitu besar penyesalan yang kini ia rasa, bolehkah Armand egois ingin mendapatkan maaf dari mereka yang ternyata masih bertahta di dalam hati dan jiwanya.
"Mereka ... Anak-anak Amar?" tanya Armand dengan suara serak. Bahkan matanya tampak memerah.
__ADS_1
Malas menjawab, Naima hanya mengangguk.
"Cucu-cucu kakek," ucapnya sambil berjongkok di hadapan Gaffi dan Amri, tapi anak-anak itu justru segera bersembunyi di balik tubuh bunda Naima. Reaksi wajar seorang anak saat ada orang tak kenal berusaha mendekati mereka.
"Eyang, masuk yuk! Mau makan es kim ," cicit Gaffi sambil menarik-narik lengan Bunda Naima.
"Sebentar ya, Sayang. Abang sama adek masuk dulu, gih. Eyang masih ada perlu sama kakek itu. Makan es krimnya sama bi Lela aja, nggak papa kan?" Bunda Naima tahu, Armand tak akan pergi begitu saja sebelum bisa berbicara dengannya. Jadi lebih baik ia meminta cucu-cucunya masuk ke dalam rumah dulu.
Gaffi dan Amri mengangguk. Kemudian mereka pun gegas masuk ke dalam rumah membuat Armand kian merasa nelangsa. Ia bukan hanya kehilangan kebersamaannya dengan anak-anaknya, tapi juga cucu-cucunya yang lucu.
"Katakan, sebenarnya apa yang mau kai bicarakan? Cepat! Aku tidak memiliki banyak waktu," ketus Bunda Naima saat cucu-cucunya telah masuk ke dalam rumah.
"Tidakkah kau mempersilahkan aku masuk dulu!"
"Tidak. Sudah aku katakan, kalian itu ibarat najis dan aku tidak ingin membawa najis ke dalam rumah anak dan menantuku," ucap Bunda Naima tajam membuat Armand menelan ludah.
"Naima, aku tahu dosa dan salahku begitu banyak bahkan mungkin tak termaafkan, tapi bolehkah aku sedikit egois memohon maaf padamu?" melas Armand membuat Bunda Naima berdecih kemudian terkekeh.
Melihat ekspresi Bunda Naima, ada rasa miris sekaligus terpesona. Padahal bunda Naima berdandan biasa saja. Hanya gamis sederhana pun jilbab instan sedikit panjang menutup dada. Tapi terlihat begitu bersahaja dan meneduhkan.
"Memangnya apa salah dan dosamu?" sarkas Bunda Naima.
"Naima, aku tahu kau pasti sangat terluka. Namun aku masih memiliki kesempatan kan untuk menebus kesalahanku?"
__ADS_1
Tiba-tiba Bunda Naima tertawa. Tapi tawa itu terdengar getir.
"Kemana saja kau setelah sekian tahun menghilang tiba-tiba datang dan meminta maaf? Sudah bagus kau menghilang, kenapa harus muncul lagi? Kau tahu, kedatanganmu hanya membuatku dan anak-anakku muak. Kau pikir kesalahanmu bisa ditebus dengan satu kata maaf? Tidak. Apa yang kau lakukan itu sudah sangat keterlaluan. Di saat aku sekuat tenaga menahan hatiku yang hancur setelah tahu kau mendua hanya demi anak-anak, tapi kau justru begitu tega pergi begitu saja. Kau pikir satu kata maaf bisa menebus segalanya? TIDAK," tegas Bunda Naima. "Setelah wanita itu menghancurkan rumah tanggaku, lalu melalui anaknya, ia pun ingin menghancurkan rumah tangga anakku. Untung saja anakku sadar sebelum semua terlambat. Kalau ia sampai mengikuti jejakmu, aku haramkan tubuhnya menyentuhku meskipun aku telah menjadi jenazah. Jadi seperti itu wanita yang kau perjuangkan dulu? Sama-sama penghancur rumah tangga orang lain. Demi perempuan seperti itu, kau meninggalkan kami? Memang benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Hahahaha ... Nikmati saja penyesalanmu, Armand karena aku tak sudi memberikan maafku untuk laki-laki pecundang sepertimu," tegas Bunda Naima begitu menusuk.
Armand sampai kehilangan kata-kata. Mantan istrinya itu sungguh berbeda. Bila dulu Bunda Naima hanya bisa menangis saat mengetahui perselingkuhannya. Meskipun sakit, ia tetap bersikap lemah lembut, namun tidak sekarang. Ia begitu tegas dan kata-katanya pun tajam. Menusuk sampai ke relung kalbu.
Hati bunda Naima sebenarnya begitu lembut. Meskipun disakiti, bunda Naima sempat ingin memaafkan. Tapi setelah Armand menghilang tanpa jejak sampai berbulan-bulan. Ia sampai melalaikan nafkahnya pada kedua anaknya, di situlah batas kesabaran Bunda Naima habis. Apalagi saat itu Amara masih sangat kecil. Ia yang tidak pernah bekerja sampai kebingungan harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bunda Naima sampai pontang-panting demi mencari sesuap nasi untuk anak-anaknya. Rela melakukan apa saja demi makanan halal untuk anak-anaknya.
Di akhir penantian dan batas kesabaran, Bunda Naima akhirnya memutuskan menjual rumah mereka dan pindah ke tempat yang baru. Dari uang itu, bunda Naima menyewa ruko kecil dan membuka usaha toko pakaian anak.
Dan alhamdulillah, meskipun harus jatuh bangun, tapi kini usahanya berhasil. Berkat toko itu, ia bukan hanya bisa memberi makan anak-anaknya, tapi menyekolahkan mereka hingga ke perguruan tinggi. Bahkan ruko yang ia sewa kini sudah berganti kepemilikan. Kini ruko itu berikut dua ruko di kanan dan kirinya telah menjadi miliknya. Ia pun sudah memiliki sebuah rumah sederhana yang ia tempati bersama anak perempuan dan menantunya.
Lalu, setelah segala kepahitan hidup yang harus ia jalani dengan jatuh bangun, Armand dengan mudahnya datang dan ingin meminta maaf?
Tidak semudah itu, Ferguso.
"Naima, aku mohon, maafkan aku. Aku menyesal telah menyia-nyiakanmu dan anak-anak. Kau tahu, selama menikah dengan Gita, aku tidak memiliki anak sama sekali. Anak-anakku hanya Amar dan Amara. Aku tahu, untuk kembali seperti dulu mungkin sulit, tapi setidaknya aku ingin menebus kesalahanku. Di sisa usiaku, aku ingin melihat anak-anak kita. Aku pun ingin menghabiskan masa tua dengan melihat cucu-cucuku. Naima, tolong berikan aku kesempatan untuk ... "
"Cucu-cucumu? Mereka hanya cucu-cucuku. Bukankah kau sudah memiliki anak kesayanganmu yang seorang pelakor itu? Bukankah dia sedang hamil. Artinya sebentar lagi kau akan memiliki cucu darinya, bukan?" sela bunda Naima.
"Naima, aku ... " Armand hendak meraih tangan Bunda Naima seraya memohon maaf, namun suara seseorang membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
"Papa? Oh, jadi ini pekerjaanmu saat aku pergi, hah?" sentak Gita yang entah sudah sejak kapan berada di sana. "Dan kau ... " tunjuk Gita ke arah Bunda Naima. "Dasar pelacur murahan. Sok-sokan menuduhku dan anakku sebagai pelakor, padahal kau sendiri yang pelakor," tuding Gita membuat mulut bunda Naima ternganga dengan mata terbelalak.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...