Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 75


__ADS_3

Tok tok tok ...


Nafisa mengetuk pintu rumah Budi berkali-kali, tapi laki-laki itu tak kunjung membuka pintunya.


"Ck ... dia kemana sih? Apa mungkin dia sudah mendapatkan pekerjaan jadi dia tidak berada di rumah?" gumamnya sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. "Anak istrinya juga nggak ada. Apa mereka sudah benar-benar berpisah dan anak istrinya diusir dari rumah? Wah, bagus kalau begitu! Paling tidak, aku bisa memiliki rumah ini. Rumahnya cukup besar. Kalau dijual, duitnya lumayan," gumam Nafisa seraya memperhatikan sekeliling rumah.


Tok tok tok ...


Nafisa mencoba menutup pintu sekali lagi hingga terdengar kunci yang diputar. Disusul bunyi handle pintu yang terbuka. Nafisa langsung memasang tampang cemberut saat Anne lah yang ternyata membuka pintu.


Anne tersenyum mengejek melihat ke arah Nafisa yang perutnya sudah mulai membukit. Apalagi Nafisa mengenakan kemeja ketat membuat lekuk perutnya sedikit nampak.


"Mau apa kau datang kemari?" tanya Anne dengan kedua lengan dilipat di depan dada.


Sambil berkacak pinggang, Nafisa pun berbicara ketus pada Anne.


"Untuk bertemu mas Budi lah, memangnya apa lagi."


"Sepertinya kau gagal mendapatkan Amar jadi kau ingin mendapatkan Budi lagi, begitu?" sarkas Anne.


"Bukan urusanmu. Cepat panggil Budi. Katakan kalau aku datang ingin menemuinya."


Anne terkekeh, "kalau mau mencari Budi, jangan di sini, Sis. Dia sudah ku buang."


"Apa maksudmu?"


"Kami sedang proses cerai jadi dia sudah ku suruh dia pergi. Jadi jangan pernah mencari laki-laki brengsekkk itu di sini lagi!" Usai mengucapkan itu, Anne pun segera menutup kembali pintu rumahnya membuat Nafisa bersungut-sungut.


"Perempuan sialan!" umpatnya karena Anne menutup pintu depan kasar tepat di depan wajahnya.


...***...

__ADS_1


Nafisa mencari-cari keberadaan Budi, tapi tak kunjung menemukannya. Nafisa lantas mampir ke kontrakannya. Saat masuk ke dalam, aroma alkohol menyeruak memenuhi rongga hidungnya. Nafisa seketika was-was, bagaimana kalau ada orang lain di kontrakannya itu. Hingga saat ia membuka pintu kamarnya, Nafisa mendapati Budi sedang tertidur di atas ranjangnya dengan botol alkohol berserak di lantai membuat Nafisa naik pitam.


"Bangun!" pekik Nafisa sambil menendang ujung kaki Budi. "Bangun kataku!" sentaknya lagi membuat Budi menggeliat kemudian membuka matanya.


"Sialan, apa yang kau lakukan, hah!" sentak Budi dengan rahang mengeras sebab merasa tidurnya terganggu.


"Kau itu yang apa-apaan? Kenapa kau mengotori kamarku seperti ini? Kau tahu, aku sudah menghubungimu berkali-kali, tapi kau justru mengabaikannya. Dan apa ini, di saat aku sibuk mencarimu, kau justru mabuk-mabukan seperti ini. Dasar laki-laki tak berguna!" maki Nafisa membuat Budi seketika emosi.


"Apa katamu? Laki-laki tak berguna? Bajingaan!" bentak Budi yang sudah mendudukkan tubuhnya.


"Heh, lihat ke cermin sana, siapa yang bajingaan, aku atau kau? Sudah pengangguran, cuma bisa mabuk-mabukan, menyesal aku kembali padamu. Kalau tahu begini, lebih baik aku bersama Mas Amar. Lihat dia, dia bukan hanya tampan, tapi karirnya pun bagus, tidak seperti kau laki-laki yang tidak berguna."


Karena tidak terima dibandingkan dengan Amar, Budi pun berdiri dan segera mencengkeram rahang Nafisa membuat perempuan hamil itu kesakitan.


"Lepaskan tanganmu, brengsekkk!" sentaknya sambil meringis menahan sakit.


"Lepaskan? Baik!"


"Aaargh ... Sialan kau!"


"Kau yang sialan. Gara-gara kau, hidupku hancur. Anne menceraikan ku, lalu kau pun ingin menghinaku?"


"Jangan salahkan aku atas perceraian mu! Itu salahmu sendiri."


"Salahku? Itu salahmu, pelacur. Andai kau tidak merayuku, aku pasti takkan pernah bercerai dengan Anne."


"Kenapa kau justru menyalahkan ku? Apa kau lupa, kau sendiri yang mengajakku menjalin kasih secara diam-diam. Jangan seenaknya menyalahkan ku."


"Semua salahmu."


"Kau yang salah, sialan. Sekarang aku hamil. Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus bertanggung jawab."

__ADS_1


"Tanggung jawab? Setelah kau gagal mendapatkan Amar lalu sekarang kau ingin meminta pertanggungjawaban dariku? Sorry, Sayang. Aku hanya menginginkan tubuhmu untuk bersenang-senang. Kau pikir aku mau menikahi perempuan murahan sepertimu?" ejek Budi membuat Nafisa benar-benar marah.


"Dasar bajingaan!" teriak Nafisa sambil melemparkan barang-barang yang ada di atas meja ke arah Budi. Budi mencoba menepis barang-barang itu.


"Berhenti sialan!"


"Kau harus mati, sialan. Gara-gara kau, aku hamil. Setelah aku memberikan segalanya padamu, tapi apa yang kau lakukan? Lebih baik kau mati saja, brengsekkk!" pekik Nafisa. Lalu ia mengambil sebuah gelas yang ada di atas meja dan melemparkannya tepat di kepala Budi.


Budi menjerit kesakitan sebab gelas itu berhasil membuat pelipisnya berdarah.


"Berhenti kataku!" raungnya, tapi Nafisa tak menggubris. Ia justru makin menggila membuat Budi kalap dan mencengkeram erat tangan Nafisa kemudian menyeretnya hingga ke luar kamar.


Nafisa menjerit, tapi Budi tidak peduli. Ia lantas menghempaskan tubuh Nafisa begitu saja di atas lantai dan menamparnya hingga berkali-kali.


Nafisa menjerit, memohon agar Budi menghentikan perbuatannya, tapi Budi yang sudah dikuasai emosi tak mau berhenti. Ia justru kini beralih mencekik Nafisa membuat wajah Nafisa sampai memutih karena aliran darah yang berhenti.


"Mas, to-long le-pas-kan a-ku!" ucapnya terbata-bata. Tapi Budi seperti orang kesetanan.


Ia yang sedang frustasi karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan, diceraikan istrinya, diusir dari rumahnya, lalu saat pulang ke rumah ibunya ia justru mendapatkan caci maki karena diceraikan Anne membuat kepalanya nyaris pecah. Lalu kini tiba-tiba Nafisa datang menambah kekesalannya dengan mencaci maki, membandingkannya dengan Amar, lalu menghinanya sesuka hati, benar-benar membuat Budi kalap.


Tubuh Nafisa menggelepar menahan sakit sekaligus kekurangan oksigen. Nafisa berusaha melepaskan tangan Budi dari lehernya, tapi tak bisa. Perlahan, tubuh Nafisa melemah. Ia sudah hampir kehabisan nafas, tapi Budi tidak sedikitpun tergerak untuk melepaskannya. Makin lama, pasokan oksigen Nafisa kian menipis hingga akhirnya tangan Nafisa yang tadi berusaha melepaskan tangan Budi dari lehernya tiba-tiba terkulai di lantai.


Melihat Nafisa sudah tidak berontak lagi, barulah Budi melepaskan cekikannya. Wajah Nafisa tampak pucat pasi dengan mata melotot. Melihat keadaan Nafisa yang mengenaskan, bukannya membuat Budi merasa bersalah, ia justru tergelak kencang sambil menepuk-nepuk pipi Nafisa.


"Sekarang bagaimana? Masih mau menghinaku, hah? Sekarang, rasakan itu. Itu akibatnya sudah membuatku marah. Kau sudah tahu, aku sangat membenci Amar, tapi kau justru membanding-bandingkan aku dengannya? Brengsekkk. Sekarang, pergilah ke neraka. Hahaha ... "


Dengan tubuh sedikit terhuyung karena masih dalam pengaruh alkohol, Budi pun berdiri. Ia menyeka darah yang terus-terusan mengalir di dahinya. Ia mengambil tas Nafisa dan mengambil semua uang di dalamnya termasuk ponsel dan kartu debitnya. Setelah itu, ia pun segera pergi meninggalkan tubuh Nafisa yang terkapar dengan darah yang mengalir dari sela-sela pahanya.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2