
Mendengar apa yang Amar katakan jelas saja Nafisa ketar-ketir.
"Mas," cicit Nafisa dengan tampang memelas.
"Amar, ini kamu, Nak?" Armand mendekat ke arah Amar, tapi Amat justru menatap sinis Armand dan menolak saat Armand hendak menyentuhnya.
"Siapa Anda memanggil saya Nak? Yang berhak memanggil saya Nak hanya orang tua saya saja dan Anda ... siapa? Saya tidak mengenal Anda sama sekali," ujar Amar dingin.
Amar pun sebenarnya begitu terkejut saat melihat wajah laki-laki paruh baya yang datang bersama Nafisa. Sebenarnya ia sudah pulang sejak beberapa saat yang lalu, tapi ia masih ingin mendengar apa yang orang-orang itu katakan.
Nafisa yang mendengar sang ayah menyebut Amar 'nak' pun sedikit heran dan penasaran. Sebenarnya sejak tadi ia pun mulai penasaran, apalagi saat ayahnya mengenal ibu Amar. Pun sematan kata pelakor pada ibunya yang diucapkan ibu Amar tersebut.
"Pa, kenapa Papa memanggil Mas Amar nak?" tanya Nafisa heran.
Armand mengangguk cepat, "Sa, sebenarnya Amar ini anak kandung papa. Dan ibunya adalah ... mantan istri papa," ujar Armand memberitahu. Jelas saja Nafisa benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka kalau laki-laki yang ia sukai ternyata anak dari ayahnya sendiri. Yang dengan kata lain mereka adalah saudara tiri.
"Anakmu? Hahaha ... Maaf, Anda salah. Saya bukan anak Anda sebab ayah saya sudah mati sejak bertahun-tahun yang lalu," ucap Amar dingin membuat Armand seketika menggigil karena ucapannya.
"Amar, maafkan ayah, Nak. Ayah tahu ayah salah, tapi mau bagaimanapun, kau tetaplah anak ayah."
"Sudah aku katakan aku tidak memiliki ayah. Aku hanya memiliki seorang ibu. Siapa kau, tiba-tiba mengaku ayahku? Benar-benar tidak tahu malu," cibir Amar.
Lalu Amar kembali mendorong kursi roda ke arah Bi Lela dan memintanya membawa Aliyah masuk ke dalam. Amar juga meminta Bi Lela menjaga anak-anaknya agar tidak melihat pertengkaran mereka.
"Apa yang anakku katakan benar. Dia hanya anakku," timpal Bunda Naima . "Urus saja jalaang muda dan jalaang tua kesayanganmu itu. Bukankah demi jalaang-jalaang ini kau tega meninggalkan anak dan istrimu. Dan sejak itu pula, kami sudah menganggap mu mati. Jadi jangan pernah mengaku-ngaku sebagai ayah dari anakku karena selamanya kau takkan pernah kami maafkan," ucap Bunda Naima dengan tatapan sinis penuh kebencian.
Armand tergugu pilu mendengar penolakan tegas Amar dan bunda Naima padanya. Ia sungguh menyesali perbuatannya yang lebih memilih selingkuhannya dibandingkan istri sah dan anak-anaknya.
"Naima, maafkan ... "
"Mas, apa-apaan kau? Kau pikir kedatangan ku kemari untuk melihat drama picisanmu dan wanita itu?" sentak Gita seraya mendelik tajam.
__ADS_1
"Dan kau pikir kami mau melihat drama murahan dari pelacur sepertimu dan anakmu itu?" balas bunda Naima menohok ketiga orang tersebut.
"Tutup mulutmu sialan. Jangan pernah menghina anakku!" teriak Gita dengan wajah merah padam. "Dan kau, tidak usah berlaga sok suci. Sok menghina suamiku padahal kau tak ubahnya laki-laki bejat yang tidak bertanggung jawab. Setidaknya Mas Armand laki-laki yang berpendirian dan bertanggung jawab, tidak sepertimu, pecundang. Setelah Fisa hamil, kau justru mencampakkannya. Aku harap kau segera bertanggung jawab atas perbuatanmu sebab kalau tidak aku takkan segan-segan membawa masalah ini ke ranah hukum," ujar Gita penuh percaya diri.
Sontak saja Amar tertawa terbahak-bahak. Sebaliknya, Nafisa justru panas dingin dengan apa yang dikatakan ibunya.
"Ma, tidak perlu sampai membawa masalah ini ke kepolisian," ujar Nafisa.
"Fisa benar, Ma. Tidak perlu sampai sejauh itu. Aku yakin, Amar akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku yakin itu karena dia adalah anakku," timpal Armand yang membuat tawa Amar makin kencang. Sudut matanya sampai basah karena kata-kata Nafisa, Armand, dan Gita yang begitu menggelitik.
"Ya, ya, ya, mau melapor ke polisi? Bunda, sepertinya mereka sudah tidak waras semua. Apa perlu aku menelpon pihak rumah sakit jiwa? Jangan-jangan mereka ini pasien mereka yang kabur."
"Amar, jangan begitu, Nak! Ayolah Nak, ayah tahu, kau laki-laki yang bertanggung jawab. Kami sudah berdiskusi dengan Fisa, dia bersedia menjadi istri keduamu sebab baginya asalkan kau mau bertanggung jawab, tak masalah jadi yang kedua. Ayah mohon, nak, kasihan Nafisa dan calon anakmu. Anakmu tidak salah apa-apa. Jangan sampai dia menanggung sesuatu yang bukan kesalahannya."
"Jadi aku harus meniru Anda dengan menduakan istriku, begitu? Maaf, aku bukan Anda. Sampai matipun aku takkan pernah menduakan istriku. Apalagi untuk perempuan murahan seperti putrimu ini," tegas Amar.
"Berhenti memojokkan putriku dan mengatakannya murahan, sialan. Kalau Fisa jalaang, lantas kau apa? Sok-sokan tidak mau menduakan istri, tapi nyatanya ... "
"Kau tahu sendiri apa yang aku maksud."
"Hehehe ... Maaf beribu maaf, aku bukanlah suami Anda yang mau berzina dengan perempuan lain terlebih sudah memiliki istri. Aku memang bukan laki-laki yang baik. Aku hanyalah laki-laki brengsekkk dan aku akui sudah telah banyak menyakiti istriku, tapi untuk berselingkuh ... aku tidak pernah melakukannya. Apalagi sampai menghamili perempuan itu. Baiklah, sepertinya kalau sekedar berbicara tanpa bukti takkan membuka pikiran kalian. Sebaiknya kalian melihat ini agar kalian tahu, siapa perempuan ini sebenarnya."
Lalu Amar mengeluarkan ponselnya dan mengotak-atik isinya.
"Mas, maafkan aku, mama, dan papaku. Aku mohon jangan kau lakukan ini. Baiklah kalau kau tak mau menikahi ku, tapi jangan memfitnahku," ujar Nafisa yang sudah memegang tangan Amar untuk menghalanginya menunjukkan video panas dirinya dan Budi.
Melihat hal itu, bunda Naima lantas menarik kasar tangan Nafisa hingga terlepas.
"Jangan pernah sentuh anakku dengan tangan kotormu itu!" sentak bunda Naima dengan sorot mata tajam penuh kebencian.
"Ini ... Lihat ini. Inilah pekerjaan anakmu sebenarnya."
__ADS_1
Lalu Amar memutar video panas Nafisa dan Budi. Jelas saja Armand, Gita, termasuk bunda Naima terkejut melihatnya.
"Astaghfirullah, jadi ini pekerjaan anak kesayanganmu, Armand?" cibir Bunda Naima.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Pasti ini hanya editan, iya kan, Sayang?" Gita yang menolak percaya lantas bertanya pada Nafisa.
"Mama benar. Itu justru sebenarnya video antara aku dan Mas Amar. Dia yang merekamnya secara diam-diam lalu mengeditnya."
Armand bingung siapa yang harus ia percaya saat ini. Bila ia membela Nafisa, bukan tidak mungkin Amar akan makin membencinya. Namun bila ia membela Amar, maka pasti Nafisa dan Gita juga akan sangat marah padanya. Ia pun sebenarnya bingung, mana yang siapa yang salah dan siapa yang benar saat ini.
"Fisa, papa mohon, katakan dengan jujur, siapa yang ada di dalam video tersebut."
"Mas, kau masih bertanya? Sudah jelas Fisa katakan itu dia dan putramu yang sombong ini. Tidak mungkin Fisa berbohong pada kita."
"Terserah kalau kalian tidak mau percaya sebab bukti ini valid. Kalau kalian tidak percaya, mari kita bawa kasus ini ke pihak kepolisian. Polisi pasti bisa menunjukkan keotentikan video ini," tegas Amar tanpa keraguan sama sekali.
"Putraku benar. Kalau kalian tidak percaya, baiknya kita bawa video ini ke kepolisian. Tapi setelah terbukti anakku tidak bersalah, bersiap-siaplah kalian mendekam di penjara atas kasus pencemaran nama baik yang kalian lakukan," imbuh Bunda Naima ikut menimpali.
"Siapa takut. Lakukan saja. Aku yakin, anakku pasti tidak berbohong," balas Gita yang sebenarnya sudah ketar-ketir. Namun ia malu bila harus mengaku takut.
"Ma," sergah Nafisa yang juga ketakutan kalau Amar benar-benar merealisasikan ucapannya.
"Asal kalian tahu, laki-laki dalam video itu sudah berkeluarga. Istrinya mengajukan gugatan cerai karena perselingkuhan putri kesayangan kalian ini dengan suaminya. Ternyata ibu dan anak sama saja. Sama-sama murahan dan pelakor. Aku bersyukur selamat dari jerat perempuan ular itu. Bila tidak, bisa jadi aku yang akan jadi korban selanjutnya, yaitu terpaksa bercerai dengan istri tercintaku. Jadi bagaimana, haruskah aku membawa kasus ini ke ranah hukum? Bila kalian setuju, aku akan segera ...
"Jangan!" sergah Armand yang sudah ketakutan. "Jangan lakukan itu, Nak! Baiklah, kalau memang anak yang Fisa kandung bukanlah anakmu. Tapi jangan laporkan Fisa ke polisi. Tidakkah kau kasihan melihatnya hamil di dalam penjara," melas Armand.
"Kasihan? Untuk apa? Apa kau kasihan pada ibuku yang saat itu harus banting tulang menghidupi kami yang masih kecil-kecil? Tidak. Kau bahkan semakin menikmati kebahagiaanmu dengan perempuan murahan itu. Bahkan kau tega menjandakan istrimu sendiri hanya demi janda gatal sepertinya," ejek Amar yang mampu menohok relung batin Armand.
Takut mendengar kata-kata yang lebih tajam lagi dari anaknya, Armand pun memilih memaksa Gita dan Nafisa untuk pulang. Gita dan Nafisa lantas terpaksa pulang dengan tangan hampa pun kekesalan yang memuncak.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...