Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 57


__ADS_3

Nafisa tampak sedang mematut dirinya di cermin. Memperhatikan penampilannya sudah sempurna ataukah belum sebab siang ini ia ada janji dengan Amar.


Ya, setelah seminggu berlalu semenjak peristiwa perkelahian Amar dan Budi di cafe, akhirnya Amar merespon berondongan pesan yang ia kirim. Amar mengajaknya bertemu untuk memberikan keputusan yang akan ia ambil.


"Aku yakin, pasti Mas Amar sudah mempertimbangkan tentang tawaran ku tempo hari. Memangnya apa yang bisa dilakukan istri cacatnya itu? Jangankan melayani di ranjang, mengurusi segala keperluannya pun pasti tidak bisa. Sudah udik, cacat pula, tapi tak tahu diri. See, sebentar lagi Mas Amar akan menjadi milikku. Setelahnya, aku akan mendepak mu dari hidup Mas Amar sebab hanya aku yang layak menjadi pendampingnya," ujar Nafisa penuh percaya diri sambil memainkan ujung rambutnya yang telah ia ikalkan.


Nafisa berputar di depan cermin. Nafisa memakai gaun seksi berwarna merah cerah membuat kadar kecantikannya naik berkali lipat. Jangan lupakan make up nya yang cetar membuat rasa percaya dirinya makin tinggi saja.


"Anak Mama kok cantik banget? Mau ketemu pacar kamu itu?" tanya ibu Nafisa yang masuk ke kamar putrinya. Sudah dua hari ini ia kembali ke rumah orang tuanya jadi ia akan berangkat ke cafe tempat Amar mengajaknya bertemu dari rumah.


"Mama tau aja," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Gimana? Nggak ada yang kurang kan, Ma?"


Sang ibu tersenyum lebar, "you're perfect, Sayang. Tapi pertemuan kalian ini untuk membahas perihal pernikahan kalian kan? Ingat, perutmu akan makin membesar. Kau harus segera menikah sebelum ada yang menyadari tentang kehamilanmu."


"Mama tenang saja, memang kami bertemu untuk membahas itu. Tak masalah saat ini aku jadi istri yang kedua, tapi setelah menikah, aku pastikan akulah yang akan selalu diutamakan. Aku akan membuat perempuan cacat itu segera tersingkirkan," ucap Nafisa sambil menyeringai sinis.


"Bagus. Apapun itu, mama mendukung mu."


...***...


Sementara itu, di kediaman Amar, tampak Amar dan Aliyah sedang bersiap-siap untuk pergi.


"Mas," panggil Aliyah.


"Ya," jawabnya sambil menoleh ke arah Aliyah yang sedang duduk memperhatikannya menyisir rambut.


"Apa Mas yakin kalau anak yang perempuan itu kandung bukan anak, Mas?"


Amar yang mendengar pertanyaan itu, lantas segera berjongkok di hadapan Aliyah dan menggenggam tangannya.


"Kenapa kau tanya seperti itu? Apa masih kurang Mas menjelaskan kalau anak itu benar-benar bukan anak Mas?"


"Begitu. Hanya saja ... aku tak mau Mas menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab."


"Sayang, dengar ini, yang menjadi tanggung jawabku itu adalah kalian, kau dan anak-anak kita, bukan anak perempuan itu. Daripada kau mikir macam-macam, lebih baik kita selesaikan semuanya hari ini. Mas sudah tidak bisa menunda-nunda lagi," ujarnya sambil menatap lekat netra Aliyah yang sebening kaca.

__ADS_1


Aliyah mengulas senyum tipis. Akhir-akhir ini memang Aliyah sudah bersikap tidak begitu ketus lagi. Bahkan ia sudah mulai mau tersenyum tipis. Amar lantas mengusap pipi Aliyah. Bahkan ibu jarinya sudah bermain di bibir Aliyah.


Diperlakukan seperti itu sontak membuat pipi Aliyah memerah. Sudah sangat lama Aliyah tidak diperlakukan seperti ini. Jelas saja jantungnya terasa kebat-kebit. Ia sudah seperti kembali ke masa awal-awal pernikahan mereka. Semua terasa manis. Malu-malu, tapi mau.


"Al," panggil Amar lembut.


"Hmm ... "


"Boleh aku ... menciummu?" tanya Amar lirih. Bahkan sorot matanya tak lepas dari bibir Aliyah.


Perlahan, Aliyah pun mengangguk. Amar tak dapat menyembunyikan buncahan kegembiraannya. Amar pun tak mau membuang waktu. Ia pun segera mengikis jarak dan mempertemukan bibir mereka. Namun baru juga bibir mereka bersentuhan, tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar membuat Aliyah segera menarik wajahnya begitu juga Amar.


"Ibu .... Ayah ... " pekik Gaffi dan Amri kompak.


"I-iya, ada apa, hm?" tanya Aliyah gugup.


"Gaffi, Amri, kok buka pintunya seperti itu? Nggak sopan, Sayang," ujar Amar lembut. Dengan cepat Amar mengendalikan keterkejutannya.


"Ayah mau pelgi?" tanya Gaffi.


"Adek ikut," seru Amri.


"Mau ... " koor Gaffi dan Amri kompak.


"Ya udah, kalian cuci tangan dan kaki dulu sana. Terus minta makan sama bibi. Ibu dan ayah pergi sebentar. Oke?"


"Oke!" seru kedua bocah itu yang langsung berlari menuju dapur.


Setelah kepergian dua bocah itu, Amar dan Aliyah menarik nafas lega. Mereka saling berpandangan kemudian terkekeh.


"Yah, jadi gagal deh," ujar Amar yang sudah mencebikkan bibirnya.


Aliyah tak dapat menyembunyikan senyumannya, "kan bisa lain kali."


"Beneran?" tanya Amar antusias.

__ADS_1


"Ck, dulu aja dianggurin," cibir Aliyah.


"Hehehe ... Mas bodoh banget ya menyia-nyiakan bidadari secantik kamu. Tapi beneran ya, nanti boleh minta lagi?"


Aliyah mengedikkan bahunya pura-pura tak acuh.


"Awas ya kalo nolak. Soalnya Mas mau bikin bibir kamu sampai bengkak. Mas mau balas dendam karena udah lama nggak menikmati bibir kamu," ujar Amar seraya terkekeh saat melihat ekspresi keterkejutan di wajah Aliyah. "Bercanda. Tapi serius, Mas udah nggak sabar mau cium kamu. Tapi sayang, waktunya udah mepet. Kita pergi sekarang?"


Aliyah mengangguk. Amar lantas segera berdiri dan mendorong kursi roda Aliyah. Mereka akan menuju sebuah cafe kecil yang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Bahkan Amar sudah membooking lantai dua cafe tersebut agar bisa berbicara secara pribadi dengan seseorang yang akan ditemuinya.


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya mobil Amar telah terparkir di depan cafe minimalis tersebut. Cafe itu milik teman sekolah Amar dulu oleh sebab itu ia bisa membookingnya dengan mudah plus murah.


"Hai, bro!"


"Hai, juga. Udah ada yang datang nyariin aku?" tanya Amar dan laki-laki itu menggeleng.


"Belum. Kalian naik aja. Nanti kalau orang yang kalian tunggu datang, akan langsung aku minta naik ke atas."


Amar pun mengangguk, "thanks, Bro."


"No, problem. Namanya teman, harus saling membantu."


Amar memang sudah sedikit banyak bercerita tentang Nafisa pada temannya tersebut. Ya, Amar memang akan bertemu dengan Nafisa. Bukan hanya Nafisa, tapi ada sosok lain yang akan menjadi kejutan. Amar sudah merencanakan hal ini sejak seminggu yang lalu. Ia harap, setelah ini Nafisa tidak menggangu rumah tangganya lagi.


Setelah di lantai atas, Amar pun langsung membantu Aliyah duduk di kursi meja mereka. Tak butuh waktu lama, Nafisa pun tiba dengan senyum merekahnya.


"Mas Amar," serunya dengan binar bahagia di wajahnya. Tanpa malu ia langsung mendekati Amar, hendak memeluknya, tapi dengan cepat Amar menyingkirkan tangan Nafisa.


Ekspresi wajah Aliyah seketika muram. Ia benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Nafisa. Padahal ia seorang gadis, tapi kenapa mau maunya mengejar suami orang. Apakah di dunia ini sudah tidak ada lagi laki-laki single?


"Mas, kamu kok gitu sih? Aku kan kangen," rajuk Nafisa dengan suara manjanya.


"Itu urusanmu. Tujuanku mengajakmu bertemu, bukan untuk membahas itu."


Nafisa berdecak, "ya udah. Tapi ... Mas jadi kan mau nikahin aku? Mas ngajak aku ketemu karena mau mengatakan hal itu kan?" tanya Nafisa penuh diri. Bahkan ia dengan percaya dirinya tersenyum mencemooh ke arah Aliyah. Seolah-olah sudah dapat dipastikan Amar akan menikahi dirinya.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2