Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 45


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," ucap Amar menginterupsi tangisan kedua ibu dan anak tersebut. Sebenarnya Amar sudah berdiri di ambang pintu sejak beberapa menit yang lalu, tapi ia tidak ingin mengganggu momen mengharukan antara ibu dan anak tersebut. Ia pun ikut meneteskan air mata saat melihat adegan yang sanggup memorakporandakan kalbu siapa saja yang melihatnya.


"Wa'alaikumussalam," sahut Aliyah dan Nana serempak dengan suara sengau dan sedikit serak khas seseorang yang habis menangis.


Amar segera melepas sepatunya dan meletakkan di tempatnya. Bila dulu ia selalu meletakkan apa saja tidak pada tempatnya sehingga Aliyah harus repot-repot membereskannya, maka sejak Aliyah sakit, Amar mulai mengurus apa-apa sendiri. Melakukannya dengan baik sesuai seperti yang kerap Aliyah lakukan.


Ternyata sakitnya Aliyah memberikan hikmah tersendiri bagi Amar. Mulai dari menyadari kesalahan-kesalahannya selama ini, kekhilafannya, rasa cintanya yang ternyata masih utuh untuk wanita penyempurna hidupnya itu, dan bagaimana repot dan melelahkannya tugas seorang ibu maupun istri.


Setelah meletakkan sepatunya, Amar segera berjalan mendekati Aliyah dan Nana. Lalu ia menyodorkan tangannya pada Aliyah. Dengan wajah enggan, Aliyah menyambut tangan itu dan mencium punggung tangannya. Meskipun benci, tapi ia tidak ingin mencontohkan sesuatu yang tak baik di depan anak-anaknya. Ingat, madrasah pertama seorang anak itu adalah orang tuanya, khususnya ibunya, jadi sebisa mungkin Aliyah akan memberikan contoh yang baik. Meskipun watak anak-anak tak serta merta terbentuk dari lingkungan keluarga, sebab lingkungan luar pun jadi faktor penting pembentuk karakter anak, tapi setidaknya ia sudah berupaya sebaik mungkin untuk memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya.


Setelah punggung tangannya dicium, tanpa rasa canggung apalagi malu-malu meong dan gengsi, Amar mengecup dahi Aliyah cukup lama. Mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau tidak di depan anak-anak, istrinya itu pasti takkan mau. ini saja Aliyah sudah mencebik. Untung-untung Aliyah tidak marah dan memukulnya. Yah meskipun tak masalah sih kalau ia ingin melakukannya. Amar akan menerima dengan suka rela pukulan demi pukulan yang wanita itu berikan.


Setelahnya, Amar pun bergantian mengulurkan tangannya pada Nana. Tak lama kemudian Gaffi dan Amri sudah berlarian menghambur ke pelukan sang ayah.


"Abang, adek, nanti ya! Ayah kan baru pulang kerja, bau ini. Eh, anak ayah belum mandi ya? Mandi sama ayah yuk!" ajak Amar yang disambut sorakan bahagia anak-anaknya.

__ADS_1


"Mau, Yah, mau. Yeay ... " teriak kedua anak laki-laki Aliyah dan Amar itu.


Tanpa sadar Aliyah tersenyum. Sudah lama ia menantikan momen seperti ini. Sejak lama, bahkan sejak Amri hadir, Amar jadi lebih acuh tak acuh pada anak-anaknya. Hal itu membuat naik Gaffi maupun Amri tak ada yang dekat dengan ayahnya.


Namun pemandangan kali ini sukses membuat Aliyah tersenyum penuh haru. Apalagi saat melihat ayah dan anak itu berjalan menuju kamar sambil bercerita. Lebih tepatnya Amar yang mendengarkan kedua bocah itu berceloteh ria.


Tiba-tiba Amar berbisik pada Gaffi. Gaffi pun segera membalikkan badannya menghadap sang ibu, "Bu, mau ikut Abang sama adek mandi baleng nggak? bial ayah sekalian mandiinnya," seru Gaffi membuat mata Aliyah melotot tajam. Sementara itu, Amar tampak senyam-senyum melihat ekspresi Aliyah yang tampak menggemaskan.


Ah, seandainya ia tidak pernah bermain gila atau bersikap semaunya, sudah pasti rumah tangganya saat ini akan sangat bahagia. Memiliki istri yang cantik, lembut, dan penuh perhatian. Anak-anak yang cantik dan tampan juga menghempaskan. Namun menyesal pun percuma. Inilah hidup, penuh ujian dan cobaan. Namun yang pasti, Amar akan selalu berusaha memperbaiki apa yang sempat ia rusak.


Meskipun selama sakit, Amar lah yang membantunya untuk mandi, tapi tetap aja ia merasa canggung dan malu.


Sejak tadi, Aliyah memperhatikan bagaimana Amar begitu telaten mengurus Gaffi dan Amri. Meskipun kedua bocah itu berulah, Amar tampak begitu sabar memperlakukan mereka berdua. Amar bukan hanya membantu memandikan, tapi juga membantu keduanya berpakaian.


Sungguh, Aliyah cukup terkejut dengan apa yang Amar lakukan sebab selama mereka menikah, Amar tidak pernah mau mengurusi hal-hal seperti itu. Saat Nana baru lahir, Amar hanya membantu seperlunya. Beruntung bunda Naima dengan ringan tangan mau membantu Aliyah mengurus Nana kecil sebab kesehatan Aliyah yang belum benar-benar pulih. Namun saat Gaffi lahir, Aliyah benar-benar sendiri. Sebab pada saat yang sama, Amara, adik Amar pun sedang hamil besar. Ia tidak bisa ditinggal jadi setelah melahirkan, ia langsung mengerjakan pekerjaannya seorang diri. Begitu juga saat Amri lahir. Bahkan kerepotannya berkali-kali lipat sebab yang ia urus bukan hanya Amri, tapi juga kedua kakaknya, Nana dan Gaffi.

__ADS_1


Ada rasa haru menyelimuti dada Aliyah saat melihat pemandangan itu. Pemandangan yang sudah sejak lama dinantikannya.


"Al ... " panggil Amar.


"Ah, i-iya," jawab Aliyah gelagapan karena tadi sibuk melamun.


"Kamu melamunin apa, hm?" tanya Amar yang sudah berjongkok di depan Aliyah.


"A-aku tidak melamunkan apa-apa kok," kilah Aliyah.


Tiba-tiba Amar menggenggam salah satu tangan Aliyah sambil menatapnya lembut, "aku tahu, kamu sedang memperhatikanku dan anak-anak kan?" tanyanya yang bisa menebak dari tatapan Aliyah. "Aku baru sadar, tugas mengurus anak itu bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga ayahnya. Selama ini aku merasa tugasku sudah cukup dengan mencari nafkah dan menyerahkan segala tugas rumah tangga hingga anak-anak padamu. Aku selalu menilai pekerjaan seorang istri dan ibu rumah tangga itu mudah. Aku selalu memarahimu, menekanmu, menyalahkan atas apapun padamu, sungguh, aku benar-benar laki-laki yang kejam dan tidak berperasaan. Padahal pekerjaan rumah tangga itu berat. Lebih-lebih mengurus anak-anak. Seharusnya aku turut andil atas setiap urusan rumah tangga, tidak serta merta menyerahkan segalanya padamu. Maafkan aku ya, Al. Sungguh, aku memang laki-laki bodoh yang tidak berperasaan. Belasan tahun kita berumah tangga, tapi tak pernah aku sekalipun membantu meringankan pekerjaanmu. Yang ada aku justru menyusahkan mu. Sungguh, aku ... benar-benar merasa bersalah. Aku suami yang tidak bertanggung jawab. Aku suami yang dzalim. Aku suami yang kejam. Aku ... suami yang brengsekk. Aku memang pantas dibenci. Aku memang tak pantas kau maafkan. Bencilah aku, caci makilah aku, kalau perlu pukul lah aku sepuas mu. Aku terima. Aku tak masalah. Asalkan satu ... jangan pernah pergi lagi dariku. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Tetaplah di sisiku. Hukum aku seumur hidupmu hingga nyawaku tercabut dari ragaku. Aku tak masalah."


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2