Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 41


__ADS_3

"Tapi Al ... "


"Maaf, Pak, sebaiknya memang Anda keluar dulu. Kondisi pasien belum benar-benar baik, jadi kita harus bisa menjaga pikirannya agar tetap tenang," tukas seorang dokter yang sejak tadi berdiri di samping Amar.


Amar menghela nafas panjang, lalu mengangguk.


"Baiklah. Al, kalau kau butuh sesuatu, panggil saja aku. Aku keluar dulu," ucapnya sendu.


Aliyah tidak merespon sama sekali. Ia justru memalingkan wajah seolah enggan bersitatap dengan sang suami.


Amar melangkah gontai menuju kursi yang ada di depan ruangan tersebut. Ayah dan ibu Aliyah berserta Bunda Naima, Nana, dan kedua adiknya melihat Amar dengan tatapan bingung. Bunda Naima memang sudah meminta izin pihak rumah sakit untuk membawa Amri dan Gaffi ke sana. Mereka semua sudah tak sabar untuk bertemu Aliyah yang sudah 3 bulan mengalami koma.


"Amar," panggil Bunda Naima sembari duduk di samping sang putra. Sementara itu, kedua orang tua Aliyah menunggu giliran untuk masuk.


Amar mengangkat wajahnya. Sorot mata Amar tampak sendu, membuat Bunda Naima penasaran.


"Kamu kenapa?" tanya Bunda Naima.


"Aliyah, Bun, Aliyah ... Dia tidak mau bertemu Amar. Bahkan Aliyah tidak mau berbicara dengan Amar. Sepertinya, Aliyah sudah begitu membenci Amar," ucapnya sendu membuat Bunda Naima terhenyak.


"Sabar, Am. Apa yang kau lakukan memang sudah sangat keterlaluan. Bunda rasa sangat wajar Aliyah bersikap seperti itu. Kau lupa, bunda pun pernah merasakan di posisi Aliyah. Bahkan lebih parah yang akhirnya berujung perpisahan. Yang penting kau tunjukkan padanya kalau kau sudah berubah. Buktikan dengan perbuatan. Semoga lambat laun, hati Aliyah kembali meluluh," nasihat bunda Naima pada sang putra.


"Tapi ... Bagaimana kalau tiba-tiba Aliyah meminta berpisah?" tanya Amar.


Bunda Naima terdiam sejenak, kemudian kembali bersuara.


"Bila memang itu yang terbaik, kau harus ikhlas. Setiap orang memiliki batas kesabaran masing-masing. Namun bunda akan terus berdoa, semoga rumah tangga kalian baik-baik saja. Apalagi bunda tak yakin bisa mendapatkan menantu sebaik Aliyah lagi bila ia benar-benar memutuskan berpisah."


Amar tergugu. Dalam hati ia berharap, semoga Aliyah tidak mengatakan ingin berpisah dengannya.


Sementara itu, di dalam ruangan Aliyah, tampak kedua orang tua Aliyah memeluk sang putri sembari menangis terisak. Rasa haru memenuhi dada mereka. Mereka bersyukur sang putri masih diberikan umur yang panjang sehingga masih bisa bertemu mereka lagi.


"Al, Emak bahagia sekali akhirnya kau membuka matamu, Nak."


"Iya, Nak. Abah pun bahagia sekali. Emak dan Abah benar-benar takut saat mengetahui kalau kau koma dan menderita penyakit yang mematikan," timpal Abah Ahmad.

__ADS_1


"Koma?" beo Aliyah pelan. Sebenarnya ia masih bingung, mengapa saat membuka mata ia tiba-tiba sudah berada di sana. Ia sadar, kamar yang ia tempati ini merupakan rumah sakit. Tampak dari suasana pun aroma desinfektan yang begitu kuat. Begitu juga aroma obat-obatan, tapi yang jadi pertanyaan mengapa ia bisa berada di sana? Bukankah terakhir kali, setelah mengirimkan pesan pada Amar, ia langsung tertidur.


"Iya, Nak. Kamu koma. Saat Amar menemukanmu, kau sudah pingsan. Lalu saat kau dibawa ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan, ternyata ... kau mengindap penyakit kanker otak stadium lanjut, asam lambung kronis, dan ... gagal ginjal. Kau belum lama menjalani operasi untuk mengatasi penyakitmu itu. Itupun, penyakitmu belum sembuh sempurna." Emak Laila terisak mengingat bagaimana hari-harinya saat melihat anak semata wayangnya itu tergeletak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.


"A-aku mengidap penyakit itu?" tanya Aliyah dengan suara sangat lemah.


Emak Laila dan Abah Ahmad mengangguk.


Aliyah lantas memegang kepalanya yang berbalut perban. Lalu ia mengusap ke sekitar, matanya terbelalak, ia tak menemukan sehelai rambut pun di kepalanya. Mahkotanya telah habis tak bersisa.


Kepala Aliyah mendadak pusing. Ia ingin menggerakkan tubuhnya, tapi kenapa tubuhnya terasa kamu. Bahkan organ gerak bagian bawahnya sulit untuk digerakkan.


"Nak, kau kenapa?" tanya Emak khawatir saat melihat wajah Aliyah memucat sambil memegang kepalanya.


"Kaki ... kaki Aliyah tidak bisa digerakkan. Mak, kepala Aliyah sakit. Mak ... "


"Abah, panggil dokter!" teriak Emak Laila panik.


Abah Ahmad pun bergerak berlarian mencari dokter. Amar, bunda Naima , dan Nana yang melihat wajah panik orang tua Aliyah pun ikut panik.


"Panggil dokter, cepat!" titahnya mengabaikan pertanyaan Amar. Amar pun gegas mencari dokter yang menangani Aliyah. Tak lama kemudian, dokter pun berlari tergopoh menuju kamar Aliyah. Aliyah kembali pingsan karena syok mendengar apa yang ia alami.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Abah Ahmad pada sang dokter yang baru saja selesai memeriksa Aliyah.


"Putri Anda sepertinya masih syok dengan apa yang ia alami. Belum lagi, ia belum lama menjalani operasi. Syukur-syukur, ingatannya tidak hilang sebab sebagian orang yang menjalani operasi kanker otak, biasanya akan mengalami amnesia retrograde. Namun ibu Aliyah tidak mengalaminya. Tapi kemampuan otaknya masih lah sangat lemah. Ia tidak bisa terlalu berpikir keras sebab hal itu bisa berdampak pada kesehatannya. Ibu Aliyah juga tidak bisa bekerja terlalu lelah, sebab pengangkatan satu ginjalnya berefek ia tidak bisa bekerja terlalu keras. Ia akan mudah lelah. Jadi saya harap, ibu Aliyah tidak dibiarkan berpikir terlalu keras. Begitu pula melakukan sesuatu yang berat dan melelahkan. Makannya pun harus benar-benar diperhatikan agar asam lambungnya tidak makin parah."


Dokter menjelaskan dengan detil apa yang harus mereka lakukan pada Aliyah.


"Oh ya dok, tadi Aliyah bilang ia kesulitan untuk menggerakkan kakinya, itu kenapa ya?" tanya Emak Laila.


"Itu merupakan salah satu efek dari operasi di kepala ibu Aliyah. Seperti yang kita ketahui, otak merupakan pusat pengendali saraf. Ibu Aliyah tidak mengalami amnesia, tapi ia mengalami gangguan fungsi gerak bagian bawah. Oleh sebab itu, ibu Aliyah akan terus kami pantau. Semoga ini sifatnya hanya sementara," jelasnya lagi membuat semua orang tercenung dengan pikiran berkecamuk.


Nana masuk ke ruangan Aliyah. Ia menggenggam tangan sang ibu sambil terisak. Dalam hati Nana berjanji, akan menjadi anak yang lebih baik. Bahkan ia bersedia menjadi kaki bagi ibunya yang saat ini kemungkinan tidak bisa berjalan.


...***...

__ADS_1


"Fisa, kamu nggak kerja, Nak?" tanya sang ibu pada Nafisa yang sudah berapa hari ini pulang ke rumah.


"Nggak, Ma."


"Kenapa?"


"Oh, itu ... Kantor tempat Fisa bekerja melakukan PHK besar-besaran dan Fisa termasuk salah satunya yang terkena PHK."


"Apa? Kok bisa begitu? Bukannya kata kamu, itu perusahaan besar? Kok bisa melakukan PHK sepihak kayak gitu."


"Yah, namanya perusahaan, Ma, ada kalanya harus gulung tikar kalo pemimpinnya tidak kompeten," kilah Nafisa. Mana mungkin ia jujur kalau ia dipecat karena melakukan kesalahan fatal.


"Ck ... Kamu ini gimana sih? Kalau gitu, cari lagi dong kerja di tempat lain. Malu dong Mama kalo temen-temen Mama tau kamu jadi pengangguran."


"Mama ih, iya aku tau. Nanti juga aku cari kerjaan lagi. Tapi untuk sementara ini, aku mau istirahat dulu. Aku sudah berapa hari ini nggak enak badan soalnya."


"Kamu sakit?" tanya sang ibu khawatir.


"Nggak, cuma nggak enak badan aja. Lemes gitu bawaannya."


"Oh. Ya udah, kamu makan sana gih terus istirahat biar cepat sehat."


"Entar aja deh, Ma. Nggak tau kenapa, aku mual kalau liat makanan. Aku mau langsung tidur aja deh. Hoaaam ... "


"Ya udah, sana tidur. Eh, iya mama lupa, kapan kamu mau ajak pacar kamu itu ke rumah? Jangan bilang, yang kamu bilang ke papa tempo hari itu cuma bohong?"


"Ih, siapa yang bohong. Nanti ya, Ma. Belum saatnya. Orangnya lagi sibuk soalnya."


"Sibuk sama kerjaan?"


"Emmm ... Ya begitulah, Ma. Udah ah, aku mau tidur. Ngantuk banget."


Nafisa lantas segera menarik selimut agar menutupi tubuhnya. Ia tersenyum sambil membayangkan wajah seseorang.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2