Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 71


__ADS_3

"Ma, mama yakin mau melaporkan papa ke polisi?" tanya Nafisa setelah sang mama menunjukkan hasil visum dirinya. Rencananya besok ia akan membuat laporan ke kantor polisi dengan membawa hasil visum sebagai bukti.


"Mama yakin. Untuk apa juga mempertahankan bedebah sialan itu. Bertahun-tahun menemaninya, ternyata dia masih saja mengharapkan wanita sialan itu. Memangnya apa lebihnya dia? Mama juga tak kalah cantik, tapi tetap saja tua bangka itu tak dapat melupakan mantan sialannya. Menyebalkan," omel Gita yang sudah bersungut-sungut.


Padahal dalam hati ia pun mengakui, Bunda Naima memang jauh lebih cantik sekarang. Padahal secara usia, Gita beberapa tahun lebih muda, tapi entah kenapa Bunda Naima terlihat jauh lebih cantik dan anggun. Bahkan ia terlihat lebih segar dan muda. Tidak perlu banyak olesan, tapi bunda Naima terlihat lebih cantik darinya. Namun sisi ego Gita tak mau mengakuinya. Ia tetap saja merasa jauh lebih baik dari Bunda Naima.


"Tapi Fisa akui, memang mantan istri papa terlihat sangat cantik. Sepertinya ketampanan mas Amar turun dari ibunya," ucap Nafisa membuat mata Gita mendelik tajam.


"Kau memuji jalaang itu di depan mama?"


Nafisa meringis melihat ekspresi Gita yang tidak terima kalau dirinya memuji mantan istri suaminya itu.


"Fisa kan cuma berkata jujur, Ma."


"Jujur? Sialan. Ternyata kalian sama saja."


"Sama saja apanya?"


"Menyebalkan."


Nafisa menggaruk tengkuknya mendengar suara ketus sang ibu.


"Fisa, besok suruh laki-laki sialan yang menghamilimu itu ke sini."


"Hah! Untuk apa?"


"Kau masih tanya untuk apa? Lalu bagaimana kabar kandunganmu itu? Andai menggugurkan kandungan itu tidak berisiko, sudah sejak awal mama menyuruhmu menggugurkannya. Kau tidak memiliki pilihan lain, minta dia bertanggung jawab atas kehamilanmu itu. Yang penting status anak itu memiliki ayah."


"Tapi Ma, dia pengangguran."


"Hah? Apa kau bilang? Bagaimana kau bisa menjalin hubungan dengan seorang pengangguran, Nafisa!" hardik Gita kesal.


"Sebenarnya dia dulu bekerja. Kami bekerja di perusahaan yang sama. Mas Budi juga sebenarnya memiliki jabatan yang cukup bagus. Tapi karena kesalahannya, ia dan aku dipecat bersamaan."


"Jadi ... Kalian dipecat secara bersamaan?"


Nafisa mengangguk kemudian menceritakan semuanya dari awal.

__ADS_1


"Kalian itu benar-benar bodoh. Kau juga, kenapa harus ikut-ikutan. Kalau tidak, pasti kau masih bekerja di sana."


"Fisa juga nggak mikir ke sana, Ma. Fisa pikir semua akan aman-aman saja, tapi nyatanya ...


Gita tiba-tiba mengibaskan tangannya.


"Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang yang penting, minta laki-laki itu segera menikahimu. Yang penting, anak itu lahir dengan status jelas. Kau sudah tidak mungkin mengharapkan anak papamu untuk menikahimu."


"Apa nggak ada cara lain, Ma?" Nafisa juga tidak mengerti, kemana perasaan menggebunya pada Budi selama ini. Setelah mengetahui kehamilannya, ia tiba-tiba hilang rasa pada kekasihnya itu.


"Ya sudah, nanti akan aku bicarakan padanya." Nafisa akhirnya mengalah. Bila dipikir-pikir, memang hanya ini satu-satunya jalan keluar dari permasalahannya.


Sementara Nafisa sedang berusaha menghubungi Budi untuk membicarakan tentang pernikahannya, di sebuah kamar hotel, Aliyah tampak terkesima dengan dekorasi kamar yang Amar sewa untuk mereka malam itu.


"Mas, apa ini tidak berlebihan?" cicit Aliyah dengan pipi memerah.


Bagaimana tidak, dekorasi kamar itu persis seperti kamar pengantin baru yang kerap digambarkan di novel-novel romansa. Penuh taburan bunga, ranjang dilapis seprei putih dengan taburan bunga membentuk hati dan sepasang handuk yang dibentuk seperti sepasang angsa. Belum lagi aroma terapi yang menenangkan menyeruak hingga memenuhi rongga hidungnya. Sungguh, ini terlalu indah.


Bahkan di awal pernikahannya saja, kamar tidurnya tidak dihias secantik ini. Maklum, saat itu kehidupan mereka masih jauh dari kata sederhana. Bisa menikah secara sah dengan mengundang para tetangga saja sudah membuat mereka cukup bahagia. Meskipun bunda Naima berniat membiayai pernikahan mereka dengan sedikit meriah, tapi kedua pasangan itu menolak. Mereka ingin membiayai pernikahan mereka dengan uang hasil kerja keras mereka sendiri. Biarpun sederhana, tapi mereka amat sangat bahagia saat itu.


"Tidak ada yang berlebihan untuk membahagiakanmu, Sayang. Apa yang Mas lakukan ini masih jauh dari semua pengorbanan dan perjuanganmu. Ini belum ada apa-apanya. Apa yang kau lakukan, apa yang kau korbankan, jauh lebih besar bahkan mungkin takkan pernah terbayarkan dengan apapun," ucap Amar. "Bagaimana, kau suka dengan kamarnya?"


Aliyah bahagia. Akhirnya doa-doanya dikabulkan oleh Allah. Kesabarannya telah berbuah manis. Tak sia-sia ia menyerahkan segalanya pada sang pencipta, sebab pada akhirnya Allah menggantikan segala kesakitan dengan cinta yang luar biasa bahkan berkali-kali lipat.


Aliyah menggenggam tangan sang suami yang bertengger di pundaknya, "terima kasih, Mas. Terima kasih atas segalanya. Aku suka. Aku bahagia."


Amar tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia bahagia Aliyah menyukai apa yang ia lakukan. Aliyah memang perempuan yang baik. Sejak dulu, ia selalu menghargai apapun pemberiannya. Sekecil apapun itu ia akan sangat menghargainya. Ia ingat bagaimana Aliyah begitu menghargai daster pemberiannya. Amar merasa amat sangat beruntung memiliki istri seperti Aliyah.


Karena belum melaksanakan shalat Isya, setelah berganti pakaian, sepasang suami istri itu lebih dulu melaksanakan kewajibannya. Setelah mengucapkan salam, Amar membalikkan tubuhnya menghadap Aliyah yang shalat dalam posisi duduk di kursi roda dan mengulurkan tangannya. Aliyah menyambut tangan itu dan menciumnya takdzim. Setelahnya, Amar berdiri dan sedikit merundukkan tubuhnya untuk mengecup pelipis dan puncak kepala Aliyah yang terbalut mukena.


Amar menatap lekat Aliyah. Aliyah tahu makna tersirat dari tatapan suaminya itu. Mereka sudah menikah lebih dari 10 tahun, tentu saja Aliyah hafal luar dalam suaminya. Bila ada yang bertanya, siapakah seseorang yang paling mengetahui luar dalam seorang laki-laki, maka jawabannya adalah istri. Bahkan seorang ibu pun tidak akan begitu mengetahui sisi lain putranya selain istrinya sendiri. Di hadapan seorang ibu, seorang anak laki-laki terkadang menahan dirinya, berusaha menunjukkan sisi terbaiknya, tapi tidak dengan sang istri. Apalagi yang sudah menemaninya bertahun-tahun seperti Aliyah. Jadi sangat wajar bila ia paham akan arti tatapan sang suami.


"Sayang, bolehkan?" tanya Amar meminta izin. Bagaimanapun, sudah lama mereka tidak melakukan hubungan suami istri. Ada kebutuhan yang tak mampu terucapkan dan hanya sang istri yang mampu memenuhinya.


Sebenarnya Aliyah merasa ragu sebab keadaannya masih seperti itu, tapi Amar mencoba meyakinkan kalau ia tak masalah. "Kau tak perlu khawatir, Sayang. Bukankah tugas seorang laki-laki itu sebagai seorang pemimpin dan biarkan aku yang memimpin seperti biasa." Aliyah diam tak bergeming. Amar pun kembali berucap, "Sayang, kau masih menginginkan ku, bukan?"


Aliyah mengangguk. Sebagai seorang wanita dan istri, tentu saja ia masih menginginkan suaminya. Terlebih sudah sangat lama ia tidak merasakan sentuhan sang suami.

__ADS_1


Amar tersenyum lebar, "jadi ... "


Aliyah mengusap pipi Amar dengan lembut. Sangat lembut sehingga menggetarkan dada Amar. Hanya sentuhan lembut, tapi mampu membuat darahnya berdesir.


"Aku milikmu, Mas. Lakukan apapun yang kau mau. Maaf bila aku tidak bisa melayanimu dengan baik. Semoga kau tidak kecewa setelahnya."


Mendapatkan lampu hijau dari sang istri, sontak saja menerbitkan senyum di bibir Amar. Ia pun meraih tangan Aliyah yang ada di pipinya dan mengecupnya dalam.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," ucap Amar bahagia akhirnya ia bisa berbuka yang manis-manis lagi setelah sekian lamanya.


"Tapi Mas ... "


Tiba-tiba Amar gugup. Tapi apa? Jangan-jangan Aliyah sedang datang bulan. Bagaimana kalau itu benar? Ah, belum-belum Aamr sudah negatif thinking.


"Tapi apa?"


"Tapi aku sudah lama tidak kb, bagaimana kalau ... "


Mendengar itu, Amar makin tersenyum lebar.


"Tidak masalah. Kalau begitu, kita akan buat adiknya Amri," ujarnya sambil tersenyum lebar.


Mata Aliyah melotot, "Amri masih kecil, Mas."


Bagaimana tidak Aliyah khawatir, mengingat bagaimana repotnya dia saat mengurus Amri di saat Gaffi masih kecil. Belum lagi kakinya belum pulih dan entah kapan ia bisa kembali berjalan. Bagaimana ia bisa mengurus anak-anak bila kakinya saja masih seperti ini?


"Tak usah khawatir. Mulai sekarang, aku akan turut mengurus anak-anak. Maaf karena selama ini aku tidak turut andil mengurus anak-anak," ucap Amar sungguh-sungguh.


Aliyah dapat melihat kesungguhan di netra hitam pekat Amar. Lantas ia pun mengangguk.


Amar tersenyum lebar, kemudian dengan cepat ia melepaskan baju Koko, peci, dan sarungnya. Kemudian ia membantu Aliyah melepaskan mukenanya. Setelahnya, Amar menggendong Aliyah dan membaringkannya di atas ranjang. Sebelum melakukan ritual yang sudah sangat ia dambakan itu, Amar lebih dulu membacakan doa di puncak kepala Aliyah. Setelah selesai, barulah ia menuntaskan hasratnya yang dimulai dari kecupan-kecupan kecil. Disusul luma tan dan pagutan mesra. Tangan Amar pun tak tinggal diam. Ia membelai tubuh Aliyah dengan lembut dan begitu mesra. Menghantarkan Aliyah ke dunia penuh kenikmatan yang lama ia dambakan.


Malam itu, akhirnya kamar hotel menjadi saksi menyatunya dua insan yang hampir saja saling terpisahkan itu. Mereka mendayung kolam kenikmatan dengan penuh gelora asmara bersama-sama.


Tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa bahagianya mereka malam itu. Mereka bahagia. Amar sangat bahagia.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...


__ADS_2