Penyesalan Anak Dan Suami

Penyesalan Anak Dan Suami
PAS 52


__ADS_3

Jantung Aliyah seketika berdetak begitu kencang. Bertalu-talu, bagai genderang yang ditabuh. Nafasnya sudah memburu, keringat dingin pun mulai mengucur, menunjukkan kalau hatinya sakit luar biasa.


"Tidak mungkin. Jangan bicara sembarangan. Tidak mungkin suamiku melakukan hal tercela seperti itu," tegas Aliyah tidak percaya.


Meskipun hatinya sedikit ragu, mengetahui kedekatan perempuan di depannya dengan suaminya tempo lalu, bisa saja kan hal itu terjadi.


Hati Aliyah gamang. Antara ingin percaya ataupun tidak, ia sendiri bingung. Namun ia tidak mau menunjukkan secara langsung keraguannya itu.


Dengan tangan terkepal, ia berusaha mengontrol dirinya agar bisa bersikap tenang berhadapan dengan rubah betina di hadapannya. Ia tak mau serta merta percaya meskipun rasa hati mulai meragu akan kepercayaan dirinya sendiri pada sang suami.


Mendengar kalimat tegas dari bibir Aliyah membuat Nafisa tergelak kencang.


"Kau tidak percaya? Baiklah, ini buktinya."


Nafisa lantas melemparkan sebuah alat uji kehamilan bergaris dua tepat di hadapan Aliyah. Dada Aliyah bergemuruh melihat test pact bergaris dua tersebut. Dadanya begitu nyeri, bagaikan ditusuk-tusuk seribu duri.


"Kau tahu, aku dan Mas Amar sudah melakukannya beberapa kali. Bahkan pernah di kamar kalian. Oh ya, aku hampir saja lupa, saat menginap di sini, tepatnya di kamarmu, aku pernah memakai daster kesayanganmu. Maaf karena memakainya tanpa izin. Supaya kau tidak memakai barang bekasku, setelah memakainya, aku menggunting-guntingnya. Maaf. Nanti aku ganti deh. Eh, itu daster kan? Oh kau sudah membeli yang baru ya? Wah, baguslah jadi aku tidak perlu menggantinya. Hehehe ... " ujar Nafisa tanpa rasa malu sama sekali.


Dada Aliyah makin bergemuruh. Bagaimana tidak, ternyata bukan Amar yang menggunting-gunting dasternya, tapi perempuan ini. Bahkan perempuan ini dengan lancangnya masuk ke kamarnya dan melakukan perbuatan terlarang di sana. Sungguh biadab.


"Bajingaan. Dasar pelacur tak tahu malu. Pergi kau dari sini. Jangan harap kau bisa menjadi nyonya di rumah ini. Pergi!" teriak Aliyah lantang.


Dadanya sudah naik turun. Nafasnya memburu. Fakta yang baru saja ia dengar itu nyatanya mampu mengobrak-abrik pertahanan dirinya. Hatinya sakit luar biasa.


Ingin tidak percaya, tapi bagaimana caranya? Sedangkan apa yang dikatakan Nafisa benar-benar membungkam akal sehatnya.


Bagaimana Nafisa bisa menggunting-gunting dasternya bila tidak masuk ke dalam sana. Dan bagaimana ia bisa masuk ke dalam sana kalau bukan karena suaminya sendiri yang mengundang.


"Jangan marah, Mbak Al! Nanti penyakitmu kambuh lho! Udah penyakitan, cacat lagi. Seharusnya kamu bersyukur ada aku yang mau menjadi adik madumu. Kamu kan pasti sudah tidak bisa mengurus dan melayani mas Amar. Dan dengan kehadiranku, aku yang akan mengurus segala keperluan dan kebutuhan Mas Amar, termasuk kebutuhan ranjangnya," ujar Nafisa pongah sambil tertawa lebar.


"Pergi brengsekkk, pergi!" teriak Aliyah sambil melemparkan apa saja yang ada di dekatnya.

__ADS_1


"Mbak, Mbak Aliyah, ada apa?" tanya Bi Lela yang berlari tergopoh-gopoh saat mendengar teriakan majikannya itu.


"Pergi kau pelacur. Jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di sini!" teriak Aliyah lagi.


"Heh, kau siapa? Apa yang kau lakukan pada mbak Aliyah, hah?"


Nafisa berdecak, "aku hanya mengatakan kejujuran padanya kalau aku sedang mengandung anak suaminya, tapi dia malah menjerit-jerit kayak orang gila," jawab Nafisa acuh tak acuh.


Mata bi Lela membulat, antara percaya tak percaya dengan apa yang Nafisa katakan.


"Heh, nenek sihir, apa yang kau lakukan di rumah kami, hah?" tanya Nana dengan nafas terengah-engah.


Saat baru tiba di pagar rumahnya, Nana tiba-tiba mendengar teriakan sang ibu. Nana yang baru pulang sekolah dengan keringat mengucur di dahinya karena cuaca yang begitu terik pun gegas berlari masuk ke dalam rumah. Bahkan ia belum sempat melepas sepatunya karena panik.


"Heh, anak tak tahu diri, apa katamu tadi? Nenek sihir? Kau benar-benar anak tak tahu diri. Mulutmu ini sepertinya harus diberikan pelajaran," pekik Nafisa yang masih dendam dengan Nana atas perbuatannya tempo hari di kedai lontong.


Plakkkk ...


Nafisa yang kesal, lantas berbalik mendorong kursi roda Aliyah kasar hingga menabrak lemari. Beberapa barang di lemari sampai berjatuhan akibat benturan keras itu.


"Ibu," teriak Nana khawatir terjadi sesuatu pada sang ibu.


Dengan amarah yang membuncah, Nana lantas mendorong tubuh Nafisa. Namun tubuh Nana yang kecil jelas saja tenaganya kalah dari Nafisa. Dengan cepat Nafisa menahan tangan Nana dan mencengkeramnya.


"Jangan main-main denganku anak kecil, kau belum tahu siapa aku. Bahkan aku bisa mematahkan tanganmu saat ini juga," desis Nafisa dengan nada mengancam.


"Dengar, aku kemari hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari suamimu. Aku tunggu kabar baiknya. Bye," ujar Nafisa santai seolah-olah apa yang barusan ia lakukan tidak masalah sama sekali.


Nafisa pun gegas membalikkan badannya hendak berlalu dari sana. Namun belum sempat ia pergi menjauh, tiba-tiba ada teriakan yang membuatnya sontak menoleh.


"Hei, berhenti kau Mak lampir! Jangan pergi dulu!" teriak Bi Lela.

__ADS_1


Baru saja Nafisa menoleh dan byurrr ...


"Aaakh ... pedih-pedih! Apa yang kau lakukan pembantu sialan!" teriak Nafisa sambil mengucek-ngucek matanya sebab baru saja bi Lela menyiramnya dengan seember air hangat yang sudah dicampur cabe blender.


Mulut Nana sampai menganga lebar tak percaya dengan keberanian bi Lela.


"Woaaaa, bibi hebat! Kereeen!" seru Nana sambil bertepuk tangan.


Amri dan Gaffi yang baru saja bangun tidur, sontak ikut bertepuk tangan mengikuti sang kakak.


"Dasar pembantu kurang ajar, awas kalian. Aaah, panas, panas, perih!" teriak Nafisa sambil mengusap tujuh basahnya dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas. Namun hal itu tidak berguna sama sekali. Justru tubuhnya makin meradang panas. Nafisa ingin segera berlalu dari sana, tapi karena matanya yang pedih ia sampai menabrak pintu dan dinding. Nana dan Bi Lela makin bersorak penuh kemenangan. Namun hal itu tidak berpengaruh pada Aliyah. Ia justru segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Setelahnya, tangis Aliyah pecah. Hatinya sakit dan hancur hingga berkeping-keping. Jantungnya seakan diremas oleh tangan-tangan tak kasat mata sehingga rasanya sakit tak terkira.


Nana yang menyadari itu sontak khawatir. Ia pun segera menghubungi ayahnya untuk mengabarkan apa yang sudah terjadi.


"Assalamu'alaikum, Yah."


"Wa'alaikumussalam, Na. Ada apa?"


"Yah, ibu Yah, ibu."


Mendengar Nana mengucapkan ibu, sontak saja membuat Amar khawatir.


"Ibu? Apa yang terjadi dengan ibu? Ibu kenapa, Na?" tanya Amar panik. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia mendapatkan pesan balasan dari Aliyah yang mengucapkan kalau ia suka dengan daster pemberiannya. Bahkan Aliyah mengucapkan terima kasih. Dua kata tapi mampu membuat perasaannya membuncah bahagia.


"Tadi nenek sihir datang temuin ibu. Nana nggak tau, nenek sihir ngomong apa, tapi pas Nana pulang ibu udah ngamuk-ngamuk. Sekarang ibu ngurung diri di kamar. Ayah, cepat pulang ya, sekarang ibu nangis di dalam," adunya saat mendengar tangisan Aliyah dari dalam kamar.


...***...


...HAPPY READING ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2