
Brakkk ...
Dengan kasar Armand menarik tangan Gita masuk ke dalam rumah dan mendorongnya. Gita yang tidak siap seketika tersungkur membuat Gita benar-benar murka.
"Mas, apa yang kau lakukan, hah?" pekik Gita dengan wajah merah padam.
"Kau masih tanya kenapa? Apa kau tidak punya akal, kau tiba-tiba saja datang ke rumah orang dan membuat kekacauan, apa itu dibenarkan?" bentak Armand benar-benar marah.
Armand yang sedang berusaha memohon maaf dan pengampunan dari Naima justru terpaksa kembali dengan rasa malu yang menyeruak. Bagaimana tidak, Gita tiba-tiba datang dan menghina Naima membuat Armand benar-benar terkejut. Ia tak habis pikir, kenapa Gita bisa tiba-tiba datang dan melabraknya.
Armand merasa kehilangan muka. Apa yang dilakukan Gita tadi sungguh sangat keterlaluan.
"Papa? Oh, jadi ini pekerjaanmu saat aku pergi, hah?" sentak Gita yang entah sudah sejak kapan berada di sana. "Dan kau ... " tunjuk Gita ke arah Bunda Naima. "Dasar pelacur murahan. Sok-sokan menuduhku dan anakku sebagai pelakor, padahal kau sendiri yang pelakor," tuding Gita membuat mulut bunda Naima ternganga dengan mata terbelalak.
"Mama, tutup mulutmu! Jangan sembarang bicara seperti itu," sergah Armand yang mulai merasa tak enak hati pada Naima. Ia yakin, Naima akan semakin marah dan membencinya karena kedatangan Gita yang tiba-tiba pun caci maki yang dilontarkannya.
"Kenapa? Kau malu tepergok istrimu sendiri?"
"Kami tidak melakukan apa-apa jadi jangan sembarangan bicara."
"Ma, lebih baik kau pulang sekarang. Jangan membuat keributan di rumah orang lain."
"Oh, jangan-jangan diam-diam selama ini kalian menjalin hubungan lagi, benar?"
"MAMA!" bentak Armand dengan rahang mengeras.
__ADS_1
"Kenapa? Kau malu karena ketahuan selingkuh dengan jalaang ini? Iya?"
Byurrrr ...
"Aaargh ... Sialan!" raung Gita saat wajahnya tiba-tiba diguyur dengan entah air apa sebab air itu ada perpaduan aroma kopi, amis, dan ... pedas. "Apa yang kau lakukan jalaang?" bentak Gita pada Bunda Naima yang sudah tersenyum mengejek ke arahnya.
"Aku pikir kau kemasukan setan jadi perlu aku siram dengan air bekas piring kotor siapa tahu setannya kabur karena tidak tahan dengan aroma tubuhmu yang busuk. Tapi aku lupa, setan lebih justru sangat menyukai sesuatu yang beraroma busuk. Bukan hanya tubuh yang beraroma busuk, tapi hati dan otak yang busuk," cibir Bunda Naima dengan senyuman mengejeknya membuat mata Armand dan Gita terbelalak.
"Benar-benar tak habis pikir, kau pikir aku mau dengan laki-laki bekasan jalaang sepertimu? Ih, najis. Bagaimana kalau aku tertular penyakit. Oh, no. Dia yang masih status sebagai suamiku saja dengan senang hati aku buang setelah ketahuan selingkuh, apalagi sekarang. Apalagi prinsipku, buanglah mantan pada tempatnya dan tempat pengkhianat seperti dia adalah KAU. Jadi ... kau sadar kan di mataku kau itu apa?"
Mata Gita dan Armand makin terbelalak. Apalagi Gita yang paham kalau Bunda Naima sama saja menyamakannya dengan tempat sampah.
"Dan kau ... " Bunda Naima melirik tajam ke arah Armand yang langsung menelan ludahnya kasar. "Bawa istrimu tercinta ini jauh-jauh dari sini. Dengar, sampai kapanpun, tak ada maaf bagimu. PERGI!" usir Bunda Naima dengan sorot mata kebencian.
Bunda Naima tergelak mendengarnya, "kenapa tiba-tiba kau takut aku merebut Mas Armand-mu ini darimu? Apa jangan-jangan diam-diam suamimu ini masih mencintaimu? Begitu? Atau ... " Bunda Naima memperhatikan Gita dari atas ke bawah. penampilan yang seksi, bulu mata extension, alis disulam, bibir memakai lipstik merah menyala, pipi pun seperti habis ditabok pakai sendal swalow, bedak tebalnya 5 cm, rambut dismooting, belum lagi perhiasan berjejer di sepanjang jari, leher, telinganya. Bunda Naima merasa matanya tiba-tiba sakit.
"Berhenti menatapku seperti itu!" sentak Gita yang merasa tak nyaman dengan tatapan Bunda Naima yang ia sadari mengandung ejekan.
Bunda Naima terkekeh, "istrimu cantik sekali ya, Mas. Sampai-sampai ngalahin cantiknya badut Ancol."
Bi Lela yang mengintip dari balik pintu tak dapat menyembunyikan tawanya. Bukan hanya Bi Lela, Armand pun seketika tergelak mendengar kalimat Bunda Naima. Jelas saja Gita menjadi berang, ia pun maju hendak menampar Bunda Naima, tapi dengan cepat ibu dari Amar dan Amara itu menangkap tangan Gita dan menyentak nya kasar.
"Brengsekkk!" umpatnya saat tubuhnya menabrak pagar pembatas teras.
"Jangan pernah coba-coba menyentuhku kalau kau tak mau tanganmu berakhir patah dan tak bisa digunakan lagi," desis Bunda Naima. "Dan kau Armand, cepat bawa wanita gila ini segera pergi dari sini. Awas saja kalau ia berani menginjakkan kakinya lagi di sini. Dengan sangat terpaksa aku akan mematahkannya agar ia tidak bisa berjalan lagi!"
__ADS_1
Dengan amat terpaksa, Armand pun segera pergi dari sana. Armand tak henti-henti mengatakan permohonan maafnya karena sudah membuat kekacauan di sana. Tapi Bunda Naima tak menggubris. Dengan kobaran api amarah di dada, Armand menyeret paksa Gita masuk ke dalam mobil. Setelahnya, ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, bahkan ia tak peduli kalau Gita belum mengenakan seat beltnya.
"Itu salahmu sendiri, kenapa kau mendatangi jalaang itu? Jangan bilang kau mau rujuk dengannya? Iya? Ayo, mengaku, brengsekkk!" bentak Gita berang.
Armand tersenyum sinis, "kalau iya, kenapa? Apa kau tidak bisa melihat perbedaan dirinya dan kau? Bagai langit dan bumi. Betapa bodohnya aku lebih memilih batu kerikil sepertimu dibandingkan berlian seperti Naima. Dia mampu mengurusku dengan baik. Memperhatikan segala kebutuhanku, anak-anakku. Dan lihat, semakin tua ia justru semakin cantik, tidak sepertimu yang ... "
"Jadi kau menyesal menikah denganku?" tanya Gita dengan mata berkaca-kaca.
Dengan pasti Armand mengangguk, "bahkan sudah sejak lama. Sayangnya, aku kehilangan Naima dan anak-anak. Andai waktu itu Naima dan anak-anak tidak menghilang, sudah pasti sejak lama aku sudah kembali pada mereka," ucap Armand santai.
"Mas, kau benar-benar brengsekk! Sialan, kau. Mati saja kau sana!" Gita yang tak mampu mengendalikan amarahnya lantas memukuli dada Armand. Armand yang kesal lantas menampar pipi Gita kanan dan kiri. Gita terhenyak, ia tak menyangka akan mengalami kekerasan fisik seperti ini. Apalagi ini merupakan kekerasan fisik yang pertama kali Armand lakukan.
"Mas, kau ... "
"Kenapa? Kau tidak terima? Dasar, jalaang murahan! Menyesal aku menikahimu. Mulai sekarang, aku ceraikan kau Gita. Mulai saat ini, kau bukan lagi istriku. Ku beri kau waktu 3 hari untuk berbenah. Aku tidak mau tau, pokoknya dalam 3 hari, kau dan anakmu itu harus segera angkat kaki dari rumah ini," ucap Armand dengan suara menggelegar.
Setelah mengucapkan itu, Armand Oun segera pergi dari rumah yang sudah dihuninya selama beberapa tahun itu.
"Bukan aku yang harus pergi setelah ini, tapi kau. Aku akan membuatmu membusuk di penjara, Mas. Lihat saja nanti!" tukas Gita dengan gigi bergemeletuk.
Ya, Gita berencana melaporkan Armand ke polisi atas kekerasan fisik yang telah ia lakukan.
...***...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...
__ADS_1