
Pagi ini Amar merasa amat sangat bahagia. Sebab meskipun masih terkesan dingin, tapi sikap Aliyah sudah sedikit mencair. Terbukti saat tidur , Aliyah tidak menolak pelukannya sepanjang malam. Bahkan pagi-pagi, selepas mandi, ia sudah melihat pakaian kerjanya telah tergeletak di atas ranjang. Bagaimana hati Amar tak membuncah bahagia.
"Mas pergi kerja dulu ya, Sayang. Kalau ada apa-apa, hubungi Mas saja. Assalamu'alaikum," ucap Amar seraya mengulurkan tangannya.
Aliyah mengangguk sambil meraih tangan Amar dan mencium punggung tangannya.
"Wa'alaikumussalam," cicit Aliyah. Suara itu sangat pelan, tapi masih mampu masuk ke gendang telinga Amar. Amar pun tersenyum bahagia. Ia lantas mendekatkan wajahnya dan mengecup dahi Aliyah dengan senyum merekah.
Setelahnya, ia masuk ke dalam mobil yang mana Nana sudah lebih dulu berada di dalam sana. Amar menurunkan kaca kemudian ia melambaikan tangan ke arah Aliyah, Gaffi, dan Amri.
Dengan perlahan, Aliyah mengangkat tangannya balas melambai. Sementara kedua bocah laki-laki mereka sudah lebih dulu melambaikan tangan.
"Daaah, Ayah. Hati-hati di jalan," seru dua bocah laki-laki itu dengan gaya bicara mereka masing-masing.
Aliyah hanya tersenyum melihat kedua bocah itu. Setelahnya, Amar pun segera menjalankan mobilnya berlalu dari sana.
Setelah mengantarkan Nana ke sekolah, Amar pun segera bertolak menuju kantor. Amar menghela nafas berat saat mendengar berondongan bunyi pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu masuk dari berbagai nomor. Namun pemiliknya hanya satu orang, yaitu Nafisa.
Hampir setiap hari Nafisa memberondongnya dengan berbagai pesan. Namun setiap hari pula Amar memblokir nomor tersebut. Tapi seakan tak ada kata bosan, Nafisa pun mengganti nomornya dengan nomor lain. Bila Amar kembali memblokir, maka ia akan mengganti lagi nomornya. Begitu terus sampai-sampai Amar bosan sendiri dan akhirnya mengabaikan nomor-nomor tersebut. Percuma saja memblokir pikirnya, sebab setelahnya Nafisa pasti akan mengganti nomornya lagi dan menghubunginya lagi.
Siang harinya, saat jam makan siang tiba-tiba resepsionis menghubunginya.
"Ada yang mencari pak Amar."
"Sapa?" tanya Amar.
"Itu pak, mantan pegawai di sini, Bu Nafisa."
Amar menghela nafas panjang. Ia belum menemukan solusi bagaimana cara menghentikan perempuan itu agar tidak menemuinya lagi. Bisa saja Amar men-skak matnya sekarang juga, tapi apa mungkin perempuan itu akan berhenti? Bisa jadi ia mencari jalan lain untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Baiklah. Bilang aku akan menemuinya sebentar lagi."
Amar pun segera menuju lift untuk menemui Nafisa yang sudah menunggu di lobby kantor.
__ADS_1
"Amar, loe nggak ikut makan siang bareng kami?" tanya salah satu rekan kerja Amar saat melihatnya hendak berlalu ke arah lain.
Amar menggeleng, "next time aja. Ada yang lagi nunggu gue."
"Oh ya udah. Bye."
"Bye."
Setelah melihat rekan kerjanya berlalu, Amar pun segera menuju ruang tunggu di lobby kantor. Nafisa langsung tersenyum lebar saat melihat kedatangan Amar.
"Mas Amar, akhirnya kamu mau nemuin aku juga," seru Nafisa girang.
Nafisa hendak berhambur ke pelukan Amar, tapi dengan cepat, Amar menghentikannya. Ia tak ingin orang-orang salah paham saat melihat kedekatannya.
"Kita bicara di cafe seberang kantor saja," ucap Amar datar.
"Oke, Mas. Dimana pun aku nggak masalah. Asal bisa bertemu dengan kamu, aku udah senang," ujar Nafisa tak tahu malu.
Ia pun mengekori langkah Amar. Ia sebenarnya beberapa kali memepet tubuh Amar dan hendak merangkul lengannya, tapi Amar selalu saja menghindarinya dengan cepat.
"Mas, kamu nggak makan dulu? Pesan makan dulu ya. Nanti perut kamu perih kalau cuma minum kopi saja," ujar Nafisa saat melihat Amar hanya memesan secangkir kopi.
"Tak perlu pedulikan aku. Cepat katakan saja, sebenarnya apa tujuanmu menemui aku? Jangan bilang kau ingin aku menikahimu, begitu?" desis Amar dingin. Amar menatap Nafisa penuh intimidasi membuat Nafisa seketika gugup.
"Mas, aku ... aku ... "
"Aku benar, kan?"
"Mas, maaf."
"Maaf, maaf untuk apa, hah? Apa kau sadar, kau itu sungguh keterlaluan. Kau menemui istriku dan mengatakan kalau kau hamil anakku. Kau benar-benar sudah gila. Memangnya kapan aku menghamili mu, hah?" desis Amar dengan rahang mengeras. Andai Nafisa bukan seorang perempuan, sudah sejak tadi Amar menghajarnya tanpa ampun.
"Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa."
__ADS_1
"Terpaksa? Otakmu sebenarnya ada di mana, hah? Siapa yang berbuat, lantas siapa yang kau suruh bertanggung jawab. Kenapa tidak meminta pertanggungjawaban laki-laki itu? Kenapa harus aku? Kenapa?"
"Karena dia tidak mau bertanggung jawab. Dan lagi, aku mencintaimu, Mas. Aku yakin, kau pun juga mencintaiku. Aku mohon Mas, menikahlah denganku. Aku tak masalah menjadi yang kedua asalkan aku bisa tetap bersamamu. Mas, tolong aku. Apa kau tak kasihan dengan anak ini. Dia tidak bersalah. Dia membutuhkan figur seorang ayah. Ia butuh status agar tidak dicibir anak haram. Aku mohon, Mas. Tolong aku, bantu aku, aku mohon," melas Nafisa dengan wajah bersimbah air mata.
Amar tersenyum sinis, "kau tahu akibatnya, tapi masih kau lakukan. Salahkan saja dirimu yang dengan gampangnya mengobral tubuh pada seseorang yang tidak berhak."
"Mas, ini aku lakukan karena aku patah hati padamu. Aku kecewa saat kau tak kunjung melepaskan istrimu dan menikah denganku. Aku hanya seorang wanita yang patah hati membuatku mudah luluh saat ada yang menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya. Aku pikir dengan begitu, aku bisa segera melupakanmu, tapi nyatanya ... dia hanya memanfaatkan ku. Setelah berhasil menikmati tubuhku, dia pergi meninggalkan ku. Huhuhu ... Mas, tolong bantu aku. Aku ... benar-benar mencintaimu, Mas. Aku mohon, jadikan aku istrimu. Aku yakin, mbak Aliyah pasti akan mengizinkan. Apalagi kondisinya cacat saat ini. Aku yakin, kau sudah lama tidak dilayani oleh Mbak Aliyah. Bukannya bagus kalau aku menikah denganmu. Aku akan melayani mu dengan baik, Mas. Aku mohon, bantu aku, Mas. Menikahlah denganku. Aku mohon."
"Jangan mimpi! Sampai kapanpun aku takkan pernah mengkhianati istriku," desis Amar dengan tangan terkepal. Pernikahan itu bukan hal melayani saja. Bukan urusan ranjang saja. Menikah itu artinya mendampingi baik saat susah maupun senang. Menerima segala kelebihan dan kekurangan. Saling mengerti satu sama lain. Selalu membersamai dengan setia hingga maut memisahkan.
Bila hanya karena perkara tidak bisa melayani lantas ia mendua, sama saja cintanya tak tulus. Bukankah saat-saat seperti inilah yang dapat menunjukkan kesetiaan seorang pasangan. Seseorang yang tetap mampu setia di saat kondisi sedang tidak baik-baik saja, sudah dapat dipastikan cintanya tulus murni. Dan Amar amat sangat mencintai Aliyah. Ia tak sanggup kehilangan sang istri.
Aliyah saja sanggup bertahan dan bersabar ia abaikan selama bertahun-tahun, masa' baru beberapa bulan saja ia melayani Aliyah yang sakit, ia sudah putus asa dan menikah lagi. Ia tak mau menjadikan sakit Aliyah sebagai alasan mendua. Sudah cukup ia menyakiti Aliyah selama ini dan kini gilirannya untuk membahagiakannya.
"Tapi Mas ... "
"CUKUP! Temui Budi dan minta pertanggung jawabannya karena sampai kapanpun aku takkan pernah menikah denganmu apapun alasannya."
Sontak saja Nafisa membelalakkan matanya saat mendengar Amar menyebut nama Budi.
"Mas, kau ... "
"Kau apa? Kau tahu? Ya, aku tahu. Aku tahu hubungan gelap kalian. Jadi jangan jadikan aku sebagai tumbal atas hubungan gelap kalian karena aku tidak sebodoh itu!"
Setelah mengucapkan itu, Amar pun segera beranjak dan berlalu dari sana meninggalkan Nafisa yang mematung karena tidak menyangka Amar mengetahui hubungan gelapnya dengan Budi.
Namun baru saja Amar keluar dari area cafe, tiba-tiba saja ada seseorang yang memukulnya dari belakang hingga membuat Amar tersungkur ke jalan.
Bugh ...
Dugh ...
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...