
"Fisa, jujur sama papa, apa benar Amar yang sudah menghamili kamu?" tanya Armand dengan raut wajah menuntut penjelasan.
"I-iya, benar, Pa. Fisa, Fisa ... "
"JUJUR SAMA PAPA! APA BENAR ANAK YANG KAMU KANDUNG ITU BENAR-BENAR ANAK AMAR?" sentak Armand dengan raut wajah tegasnya.
"Papa kenapa ngegas seperti itu sih? Apa papa nggak percaya Fisa? Fisa itu putri kita sendiri, Pa. Mana mungkin dia berbohong pada kita," sela Gita tak terima Nafisa diperlakukan seperti itu.
"Jadi maksudmu anakku yang berbohong, begitu?" sentak Armand pada sang istri.
"Ya, ya, ya nggak begitu juga. Tapi, tapi ... "
"Tapi kata-katamu menyiratkan kalau anakku lah yang berbohong. Apa kau tak takut kalau mereka benar-benar melaporkan Nafisa dan kita atas dasar pencemaran nama baik?" tanya Armand yang sudah memicingkan matanya. "Apa kau siap menghabiskan masa tuamu di balik jeruji besi? Kau tidak lihat, bagaimana betapa yakinnya Amar mengatakan kalau ia tidak pernah menyentuh Fisa. Bahkan aku bisa melihat jelas kalau video itu bukanlah sebuah rekayasa."
Gita terdiam. Membayangkan kalau ia akan menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi membuat Gita bergidik ngeri sendiri. Tidur tanpa alas, makan makanan basi, dikelilingi para penjahat, tidak bisa ke salon, spa, medicure, padicure, jalan-jalan, shopping, dan liburan. Membayangkan itu semua membuat Gita menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau menghabiskan masa tuanya di tempat kumuh itu.
"Sekarang jawab pertanyaan papa, Nafisa, apa benar Amar yang sudah menghamili kamu? JANGAN DIAM SAJA! JAWAB PERTANYAAN PAPA, FISA! JAWAB!!!" bentak Armand membuat Nafisa segera menjatuhkan tubuhnya di kaki sang ayah. Kemudian ia menangis tergugu sembari meminta maaf.
"Maaf, Pa, maafin, Fisa. Maafin, Fisa. Anak ini ... anak ini memang bukan anak Mas Amar. Huhuhu ... Maafin, Fisa, Pa. Maaf ... "
Plak ...
__ADS_1
"Keterlaluan kamu, Fisa. Mau ditaruh dimana muka papa sekarang, hah? Kau sudah mempermalukan papa, kau tahu itu!"
"Papa! Apa yang papa lakukan pada Fisa?" pekik Gita yang sudah menjatuhkan tubuhnya di samping sang anak. Meskipun salah, Gita tetap saja tidak rela anaknya disalahkan apalagi dimarahi dan diperlakukan kasar seperti ini. Tak peduli apa yang dilakukan Nafisa itu salah, tetap saja ia akan membelanya. Tak peduli dia harus menentang suaminya sendiri pun orang-orang, ia tetap saja akan membela anaknya.
"Kenapa? Kau tidak terima anakmu aku salahkan, iya?"
"Papa, Fisa juga putrimu."
"Kalau dia memang menganggap aku ayahnya, ia pasti takkan pernah melakukan sesuatu yang akan mempermalukan ayahnya."
"Tapi tetap saja kau tidak boleh menamparnya seperti itu."
"Jadi aku harus apa, hah? Kau tidak malu atas perbuatannya itu? Sudah hamil di luar nikah, hamil anak orang lain, hamil anak suami orang pula, eh malah menuntut pertanggungjawaban dengan laki-laki lain pula. Dan lebih parahnya, yang ia tuntut pertanggung jawaban adalah anakku, anak kandungku sendiri. Gila. Anakmu benar-benar gila," pekik Armand yang langsung mengambil gelas yang tergeletak di atas meja dan melemparkannya ke dinding hingga pecahannya berserakan dimana-mana.
"Papa, memangnya Fisa tahu kalau Amar itu anak kamu, hah? Tidakkan. Jadi jangan salahkan Fisa. Lagipula Fisa melakukan itu pasti ada alasannya."
"Alasan?" Armand tersenyum miring. "Alasan apa? Fisa, jawab papa, apa alasan kamu melakukan itu, hah?"
"Pa, Fisa melakukan itu karena Fisa mencintai Mas Amar. Awalnya Mas Amar sudah dekat dengan Fisa, tapi entah apa yang dilakukan istri cacatnya itu sampai Mas Amar mengabaikan Fisa. Dia justru lebih memilih istrinya dibandingkan Fisa. Padahal Fisa sudah merendahkan diri bersedia menjadi yang kedua, tapi Mas Amar tetap tidak mau. Dia tetap memilih istrinya yang cacat itu. Karena itu Fisa jadi nekat melakukan ini," aku Nafisa jujur sambil tergugu. Ia tergugu bukan karena penyesalan telah membuat ayahnya kecewa, tapi karena merasa telah kehilangan harapan untuk mendapatkan Amar.
Awalnya Nafisa memang hanya ingin membantu Budi membalaskan dendamnya, tapi karena hampir setiap hari bertemu sapa dengan Amar mampu membuat hatinya berpaling. Ia merasakan getar-getar cinta setiap kali bertemu Amar. Dan perasaan itu kian menjadi setelah Amar menghindarinya. Nafisa merasa takut kehilangan sehingga momen kehamilannya dimanfaatkannya untuk mendapatkan Amar. Namun tak disangka, segala upayanya tak menorehkan hasil sedikitpun. Bahkan seperti semesta tidak mendukung sama sekali. Hal ini dikuatkan dengan kenyataan kalau Amar ternyata anak kandung ayahnya.
__ADS_1
"Kau gila, Fisa. Papa nggak nyangka kamu berbuat hal segila ini. Apakah di dunia ini sudah kehabisan laki-laki lajang sampai kau ingin merebut seorang suami dari istrinya?" Seketika Armand teringat akan masa lalunya.
"Pa, mas Amar kan anak papa, bagaimana kalau papa bujuk Mas Amar agar mau menikahi Fisa? Pasti Mas Amar bersedia menuruti permintaan papa. Lagipula kan kami sodara tidak sedarah, jadi kan tidak masalah kalau kami menikah."
Akal picik Nafisa lagi-lagi bekerja. Nafisa pun berpikir untuk memanfaatkan ayahnya agar bisa membantunya menikah dengan Amar.
"Kamu benar-benar gila, Nafisa. Kau pikir bisa mendapatkan semua hal yang kau inginkan, iya? Tidak. Sampai kapanpun papa tidak akan pernah melakukan hal gila seperti itu," tegas Armand. Ia saja belum minta maaf atas perbuatannya selama ini. Belum lagi permasalahan yang baru saja terjadi. Mau ditaruh mana lagi mukanya kelak bila ia sampai melakukan permintaan Nafisa. Ia pasti akan benar-benar kehilangan muka di hadapan mantan istri dan anaknya itu.
"Papa, apa papa nggak sayang, Fisa? Kehamilan Fisa makin lama akan makin membesar. Kalau Fisa tidak segera menikah, lama-lama orang akan tahu kalau Fisa hamil anak di luar nikah."
"Kalau begitu minta ayahnya untuk bertanggung jawab. Minta dia menikahi kamu. Jangan mau enaknya aja. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Tapi Pa, Fisa nggak mau nikah sama dia. Selain dia suami orang, dia juga pengangguran. Apa kata orang kalau Fisa nikah sama pengangguran?"
"Kau lebih peduli pada penilaian orang, tapi tidak peduli dengan keluarga Amar yang bisa saja hancur karena ulahmu itu? Papa benar-benar tak habis pikir. Ternyata pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar. Dulu ibumu, lalu kini ... kau. Namun satu hal yang patut papa syukuri, Amar tidak mengikuti jejak papa. Kalau itu sampai terjadi, maka ... papa yakin kelak dia akan amat sangat menyesal seperti apa yang papa alami saat ini," ujar Armand lirih seraya menyeka air matanya.
Mengingat sang mantan istri dan kedua anaknya lagi-lagi membuat hatinya perih. Ingin Armand menebus segala kesalahannya, tapi bagaimana caranya? Armand pun tak tahu.
Mendengar kalimat yang Armand ucapkan jelas saja membuat Gita mendelik tajam. Ia tentu tidak terima sebab secara langsung Armand menyatakan kalau ia menyesal telah meninggalkan anak dan istrinya demi dia.
...***...
__ADS_1
Jari othor gempor ngetik double up hari ini. Semoga banyak yang like, komen, nonton iklan, kasi hadiah, dan bagi vote ya. Hehehe ...
...HAPPY READING ❤️❤️❤️...